makalah metode pembelajaran PLS : penerapan metode outbond untuk PAUD jangan lupa baca juga postingan sebelumnya mengenai LAPORAN OBSERVASI / PENELITIAN TENTANG DAMPAK GAME ONLINE TERHADAP MAHASISWA semoga bermanfaat teman :)
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Pendahuluan
Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling mendasar bagi
pembentukan sumber daya manusia di masa mendatang (Abdulhak, 2007 : 52).
Kualitas pendidikan anak usia dini inilah yang nantinya akan menentukan
kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Semakin berkualitas pendidikan
anak di usia dininya, maka semakin berkualitas juga sumber daya yang akan
dihasilkan generasi selanjutnya. Hal ini disebabkan karena masa usia dini
merupakan ajang pembelajaran dan pembiasaan manusia dalam menghadapi tantangan
hidup agar mampu bertahan dalam berbagai situasi (TIM PAUD, 2005: 1). Bagian
dari bentuk lembaga pendidikan anak usia dini adalah Taman Kanak-kanak (TK). Di
Taman Kanak-kanak inilah diharapkan dapat ditanamkan dan dikembangkan berbagai
potensi anak yang akan berguna bagi masa dewasanya. Hal ini juga tertuang dalam
Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi mengenai tujuan pendidikan di Taman
Kanak-kanak yaitu membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik
psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama; sosial emosional;
kognitif; bahasa; fisik/motorik;
Kemandirian
dan seni untuk siap memasuki sekolah dasar. Usia Taman Kanak-kanak (berkisar
antara 4 – 6 tahun) merupakan usia yang berada pada tahap egosentris dimana
anak masih sangat kental dengan keakuannya. Anak yang masih berada pada tahap
ini sangat sulit untuk diajak berbagi dengan yang lain, selalu merasa dirinya
lebih dari orang lain, dan sulit untuk diminta melakukan kegiatan dalam kelompok.
Anak selalu menganggap apapun yang menjadi miliknya tidak boleh dibagi dengan
orang lain, hanya ia seorang yang boleh memiliki. Berbagai cara dicari untuk
menanamkan kebiasaan anak untuk bekerjasam agar nantinya dapat hidup bersosial
sebagai anggota masyarakat. Cara-cara yang dicari diusahakan menarik agar
menyenangkan bagi anak dalam melakukannya. Cara yang menyenangkan merupakan
cara yang dapat membuat anak aktif berpartisipasi dalam berbagai kesempatan
aktivitas. Salah satu aktivitas yang dapat membuat anak senang dan tertarik
adalah bermain. Bermain dapat dilakukan di luar dapat juga di dalam ruangan.
Salah satu kegiatan bermain yang dapat digunakan untuk membiasakan kerjasama
anak adalah melalui kegiatan outbound. Outbound dapat menstimulasi aspek fisik
hingga psikis anak dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Sayangnya
kegiatan outbound belum familiar di kalangan dunia pendidikan khususnya
pendidikan anak usia dini. Kegiatan outbound biasa dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan yang menginginkan kegiatan penyegaran untuk karyawannya.
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya promosi-promosi yang menawarkan training
outbound. Kalaupun ada sekolah yang mengikuti outbound hanyalah SMA ke atas
hanya sebatas pelatihan saja, belum menjadi kegiatan rutin. Kegiatan outbound
cenderung ditakuti anak-anak karena diadakan di ketinggian. Orang tua juga
sering mengkhawatirkan anak jika jatuh atau kotor karena outbound dilakukan di
alam (Magta, 2005).
1.2 Tujuan
dan manfaat
Kegiatan
belajar di alam terbuka seperti outbound bermanfaat untuk meningkatkan
keberanian dalam bertindak maupun berpendapat. Kegiatan outbound membentuk pola
pikir yang kreatif, serta meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual dalam
berinteraksi. Kegiatan ini akan menambah pengalaman hidup seseorang menuju
sebuah pendewasaan diri.
Pengalaman
dalam kegiatan outbound memberikan masukan yang positif dalam perkembangan
kedewasaan seseorang. Pengalaman itu mulai dari pembentukan kelompok. Kemudian
setiap kelompok akan menghadapi bagaimana cara berkerja sama. Bersama-sama
mengambil keputusan dan keberanian untuk mengambil risiko. Setiap kelompok akan
meng-hadapi tantangan dalam memikul tanggung yang harus dilalui.
Tujuan
outbound secara umum untuk menumbuhkan rasa percaya dalam diri guna
memberikan proses terapi diri (mereka yang berkelainan) dalam berkomunikasi,
dan menimbulkan adanya saling pengertian, sehingga terciptanya saling percaya
antar sesama. Ancok pun menegaskan dalam bukunya Outbound Management
Training (2003: 3) bahwa: Metode pelatihan di alam terbuka juga digunakan untuk
kepentingan terapi kejiwaan (lihat Gass, 1993). pelatihan ini digunakan untuk
meningkatkan konsep diri anak-anak yang nakal, dan kesulitan di dalam hubungan
sosial.
1.3 Waktu
dan tempat
·
Penerapan metode out bond untuk anak
PAUD merupakan metode yang digunakan agar anak didik lebih bersemangat dalam
belajar dan bersekolah. Penerapan metode ini akan diaplikasikan dalam sebuah
kegiatan outbond yang akan dilaksanakan setiap hari sabtu atau jika
memungkinkan, akan dilaksanakan di setiap pelajaran yang berhubungan dengan
alam dan tidak membutuhkan lokasi yang jauh misalkan taman sekolah atau halaman
sekolah.
·
Tempat untuk kegiatan outbond ini adalah
alam terbuka seperti halaman sekolah, taman, ataupun tempat-tempat lain yang berhubungan
dengan materi yang akan diajarkan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Metode
out bond
Metode
Kegiatan Outbound Kegiatan outbound sebagai kegiatan alam dilakukan dengan
berbagai metode yang pada intinya adalah meberikan pengalaman langsung pada
suatu peristiwa pada anak. Metode- metode yang digunakan dalam dalam outbound
adalah (Kemah, 2008) : Permainan kelompok; Kerja kelompok; Petualangan
individu; Ceramah; Diskusi (refleksi kegiatan). Sementara hasil penelitian
penulis menemukan bahwa metode kegiatan outbound yang diterapkan di TK antara
lain : learning by doing/praktek langsung dimana anak melakukan sendiri
kegiatan outbound, bercerita pada saat kegiatan awal dan evaluasi kegiatan,
bernyanyi ketika tengah melaksanakan kegiatan, tanya jawab sebagai sarana evaluasi
kegiatan, dan demonstrasi/ mencontohkan untuk memberi gambaran cara melakukan
kegiatan. Jadi kegiatan outbound mencakup kegiatan pengembangan untuk kerjasama
melalui permainan kelompok ataupun kerja kelompok juga mengembangkan kemampuan
individu dalam kegiatan petualangan individu. Setelah itu anak dilatih untuk
berani mengungkapkan pendapatnya dalam diskusi dan menghargai orang lain dalam
kegiatan ceramah. Berbagai metode yang diterapkan pada anak usia dini tersebut
dibuat menarik dan melibatkan anak secara aktif. Metode tersebut diterapkan
untuk mengefektifkan proses pembelajaran melalui kegiatan outbound. Belajar
yang efektif menurut Boyett dan Boyett dalam Ancok memerlukan tahapan-tahapan
(Ancok, 2002 : 6-16) :
1.
Pembentukan pengalaman (experience) Pada
tahap ini anak dilibatkan dalam setiap kegiatan atau permainan dalam outbound
bersama dengan anak lainya dalam tim atau kelompok. Kegiatan yang berupa
permainan dalam outbound merupakan salah satu bentuk pemberian pengalaman
secara langsung pada anak. Pengalaman langsung tersebut akan dijadikan sarana
untuk menimbullkan pengalaman intelektual, pengalaman emosional, dan pengalaman
yang bersifat fisik pada anak (outwardbound, 2008 : 3). Pada kegiatan outbound
pengalaman yang ditimbulkan diusahakan sesuai dengan kebutuhan. Karenanya
sebelum kegiatan dilakukan, terlebih dahulu diadakan analisis kebutuhan anak
yaitu : (1) penyusunan kebutuhan anak, (2) penyusunan jenis aktivitas, dan (3)
penyusunan urutan aktivitas.
2.
Perenungan pengalaman (reflect) Tahap ini
dilakukan untuk mengetahui pengalaman yang diperoleh dari kegiatan yang telah
dilakukan. Setiap anak mengungkapkan pengalaman pribadi yang dirasakan pada
saat melakukan kegiatan. Pada yang dirasakan secara intelektual, emosional, dan
fisikal. Di tahap ini instruktur outbound merangsang anak untuk menyampaikan
pengalaman pribadi masing-masing setelah terlibat dalam kegiatan.
3.
Pembentukan konsep (form concept) Pada
tahap ini anak mencari makna dari pengalaman intelektual, emosional, dan
fisikal yang diperoleh dari keterlibatan dalam kegiatan. Tahap ini dilakukan
sebagai kelanjutan tahap refleksi.
4.
Pengujian konsep (test concept) Pada
tahap ini anak diajak diskusi guna mengetahui sejauh mana suatu konsep dapat
dikuasai anak. Instruktur juga mengarahkan pertanyaan untuk mengetahui apakah
anak dapat mengambil pelajaran dari kegiatan outbound dan apakah anak kira-kira
mampu menerapkannya di kehidupannya (Gaia, 2008 : 2).
2.2 Jenis
kegiatan
Jenis
Kegiatan pelaksanaan outbound di PAUD dibagi dalam dua kategori, yaitu outbound
yang bersifat low impact dan high impact (Maryatun, 2010 : 106). Outbound yang sifatnya low impact merupakan kegiatan
dengan resiko kecil dan menggunakan alat
yang dapat diperoleh dari lingkungan sekolah atau dibuat instruktur. Sementara
outbound jenis high impact merupakan kegiatan dengan resiko lebih besar dan
menggunakan alat-alat yang harus dibeli. Jenis outbound low impact terdiri dari
kegiatan kereta balon, moving water, kaki gajah, halang rintang, ekor balon,
loncat jauh, jalan kepiting, hiking, susur gua, ayunan balistik, loncat ban,
estafet bendera, estafet tongkat , games ball, rakit, moving gundu, bakiak
race, moving gundu, senam ketangkasan, dan papan keseimbangan. Jenis outbound
high impact terdiri dari kegiatan : flying fox, burma bridge, two-line bridge,
landing net, dan army webb.











