Gedung RA.AL HAMIDI : KELAS A DAN KELAS B

Sederhana namun sangat damai. suasana sejuk dan segar. dan yang penting anak-anak nyaman belajarnya.

HOME VISIT

Belajar di rumah teman/Home visite. senangnya bisa berkunjung kerumah teman ya sayang.

SISWA SISWI BERPRESTASI RA. AL HAMIDI

calon penerus bangsa. selamat atas prestasinya sayang.

SISWA-SISWI RA. AL HAMIDI

Sebagian siswa-siswi Ra.Al Hamidi sedang berpose di depan kelas.

Kegiatan Belajar di alam terbuka

Anak-anak sangat senang ketika belajar di luar kelas, bermain sambil belajar dan menikmati udara segar, belajar jadi tidak membosankan.

Kamis, 13 Desember 2012

makalah metode pembelajaran PLS : penerapan metode outbond untuk PAUD


makalah metode pembelajaran PLS : penerapan metode outbond untuk PAUD jangan lupa baca juga postingan sebelumnya mengenai LAPORAN OBSERVASI / PENELITIAN TENTANG DAMPAK GAME ONLINE TERHADAP MAHASISWA semoga bermanfaat teman :)



BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang
Pendahuluan Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling mendasar bagi pembentukan sumber daya manusia di masa mendatang (Abdulhak, 2007 : 52). Kualitas pendidikan anak usia dini inilah yang nantinya akan menentukan kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Semakin berkualitas pendidikan anak di usia dininya, maka semakin berkualitas juga sumber daya yang akan dihasilkan generasi selanjutnya. Hal ini disebabkan karena masa usia dini merupakan ajang pembelajaran dan pembiasaan manusia dalam menghadapi tantangan hidup agar mampu bertahan dalam berbagai situasi (TIM PAUD, 2005: 1). Bagian dari bentuk lembaga pendidikan anak usia dini adalah Taman Kanak-kanak (TK). Di Taman Kanak-kanak inilah diharapkan dapat ditanamkan dan dikembangkan berbagai potensi anak yang akan berguna bagi masa dewasanya. Hal ini juga tertuang dalam Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi mengenai tujuan pendidikan di Taman Kanak-kanak yaitu membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama; sosial emosional; kognitif; bahasa; fisik/motorik;
Kemandirian dan seni untuk siap memasuki sekolah dasar. Usia Taman Kanak-kanak (berkisar antara 4 – 6 tahun) merupakan usia yang berada pada tahap egosentris dimana anak masih sangat kental dengan keakuannya. Anak yang masih berada pada tahap ini sangat sulit untuk diajak berbagi dengan yang lain, selalu merasa dirinya lebih dari orang lain, dan sulit untuk diminta melakukan kegiatan dalam kelompok. Anak selalu menganggap apapun yang menjadi miliknya tidak boleh dibagi dengan orang lain, hanya ia seorang yang boleh memiliki. Berbagai cara dicari untuk menanamkan kebiasaan anak untuk bekerjasam agar nantinya dapat hidup bersosial sebagai anggota masyarakat. Cara-cara yang dicari diusahakan menarik agar menyenangkan bagi anak dalam melakukannya. Cara yang menyenangkan merupakan cara yang dapat membuat anak aktif berpartisipasi dalam berbagai kesempatan aktivitas. Salah satu aktivitas yang dapat membuat anak senang dan tertarik adalah bermain. Bermain dapat dilakukan di luar dapat juga di dalam ruangan. Salah satu kegiatan bermain yang dapat digunakan untuk membiasakan kerjasama anak adalah melalui kegiatan outbound. Outbound dapat menstimulasi aspek fisik hingga psikis anak dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Sayangnya kegiatan outbound belum familiar di kalangan dunia pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini. Kegiatan outbound biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang menginginkan kegiatan penyegaran untuk karyawannya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya promosi-promosi yang menawarkan training outbound. Kalaupun ada sekolah yang mengikuti outbound hanyalah SMA ke atas hanya sebatas pelatihan saja, belum menjadi kegiatan rutin. Kegiatan outbound cenderung ditakuti anak-anak karena diadakan di ketinggian. Orang tua juga sering mengkhawatirkan anak jika jatuh atau kotor karena outbound dilakukan di alam (Magta, 2005). 

1.2  Tujuan dan manfaat
Kegiatan belajar di alam terbuka seperti outbound bermanfaat untuk meningkatkan keberanian dalam bertindak maupun berpendapat. Kegiatan outbound membentuk pola pikir yang kreatif, serta meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual dalam berinteraksi. Kegiatan ini akan menambah pengalaman hidup seseorang menuju sebuah pendewasaan diri.
Pengalaman dalam kegiatan outbound memberikan masukan yang positif dalam perkembangan kedewasaan seseorang. Pengalaman itu mulai dari pembentukan kelompok. Kemudian setiap kelompok akan menghadapi bagaimana cara berkerja sama. Bersama-sama mengambil keputusan dan keberanian untuk mengambil risiko. Setiap kelompok akan meng-hadapi tantangan dalam memikul tanggung yang harus dilalui.
Tujuan outbound secara umum untuk menumbuhkan rasa percaya dalam diri guna  memberikan proses terapi diri (mereka yang berkelainan) dalam berkomunikasi, dan menimbulkan adanya saling pengertian, sehingga terciptanya saling percaya antar sesama.  Ancok pun menegaskan dalam bukunya Outbound Management Training (2003: 3) bahwa: Metode pelatihan di alam terbuka juga digunakan untuk kepentingan terapi kejiwaan (lihat Gass, 1993). pelatihan ini digunakan untuk meningkatkan konsep diri anak-anak yang nakal, dan kesulitan di dalam hubungan sosial.
1.3  Waktu dan tempat
·         Penerapan metode out bond untuk anak PAUD merupakan metode yang digunakan agar anak didik lebih bersemangat dalam belajar dan bersekolah. Penerapan metode ini akan diaplikasikan dalam sebuah kegiatan outbond yang akan dilaksanakan setiap hari sabtu atau jika memungkinkan, akan dilaksanakan di setiap pelajaran yang berhubungan dengan alam dan tidak membutuhkan lokasi yang jauh misalkan taman sekolah atau halaman sekolah.
·         Tempat untuk kegiatan outbond ini adalah alam terbuka seperti halaman sekolah, taman, ataupun tempat-tempat lain yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Metode out bond
Metode Kegiatan Outbound Kegiatan outbound sebagai kegiatan alam dilakukan dengan berbagai metode yang pada intinya adalah meberikan pengalaman langsung pada suatu peristiwa pada anak. Metode- metode yang digunakan dalam dalam outbound adalah (Kemah, 2008) : Permainan kelompok; Kerja kelompok; Petualangan individu; Ceramah; Diskusi (refleksi kegiatan). Sementara hasil penelitian penulis menemukan bahwa metode kegiatan outbound yang diterapkan di TK antara lain : learning by doing/praktek langsung dimana anak melakukan sendiri kegiatan outbound, bercerita pada saat kegiatan awal dan evaluasi kegiatan, bernyanyi ketika tengah melaksanakan kegiatan, tanya jawab sebagai sarana evaluasi kegiatan, dan demonstrasi/ mencontohkan untuk memberi gambaran cara melakukan kegiatan. Jadi kegiatan outbound mencakup kegiatan pengembangan untuk kerjasama melalui permainan kelompok ataupun kerja kelompok juga mengembangkan kemampuan individu dalam kegiatan petualangan individu. Setelah itu anak dilatih untuk berani mengungkapkan pendapatnya dalam diskusi dan menghargai orang lain dalam kegiatan ceramah. Berbagai metode yang diterapkan pada anak usia dini tersebut dibuat menarik dan melibatkan anak secara aktif. Metode tersebut diterapkan untuk mengefektifkan proses pembelajaran melalui kegiatan outbound. Belajar yang efektif menurut Boyett dan Boyett dalam Ancok memerlukan tahapan-tahapan (Ancok, 2002 : 6-16) :
1.      Pembentukan pengalaman (experience) Pada tahap ini anak dilibatkan dalam setiap kegiatan atau permainan dalam outbound bersama dengan anak lainya dalam tim atau kelompok. Kegiatan yang berupa permainan dalam outbound merupakan salah satu bentuk pemberian pengalaman secara langsung pada anak. Pengalaman langsung tersebut akan dijadikan sarana untuk menimbullkan pengalaman intelektual, pengalaman emosional, dan pengalaman yang bersifat fisik pada anak (outwardbound, 2008 : 3). Pada kegiatan outbound pengalaman yang ditimbulkan diusahakan sesuai dengan kebutuhan. Karenanya sebelum kegiatan dilakukan, terlebih dahulu diadakan analisis kebutuhan anak yaitu : (1) penyusunan kebutuhan anak, (2) penyusunan jenis aktivitas, dan (3) penyusunan urutan aktivitas.
2.      Perenungan pengalaman (reflect) Tahap ini dilakukan untuk mengetahui pengalaman yang diperoleh dari kegiatan yang telah dilakukan. Setiap anak mengungkapkan pengalaman pribadi yang dirasakan pada saat melakukan kegiatan. Pada yang dirasakan secara intelektual, emosional, dan fisikal. Di tahap ini instruktur outbound merangsang anak untuk menyampaikan pengalaman pribadi masing-masing setelah terlibat dalam kegiatan.
3.      Pembentukan konsep (form concept) Pada tahap ini anak mencari makna dari pengalaman intelektual, emosional, dan fisikal yang diperoleh dari keterlibatan dalam kegiatan. Tahap ini dilakukan sebagai kelanjutan tahap refleksi.
4.      Pengujian konsep (test concept) Pada tahap ini anak diajak diskusi guna mengetahui sejauh mana suatu konsep dapat dikuasai anak. Instruktur juga mengarahkan pertanyaan untuk mengetahui apakah anak dapat mengambil pelajaran dari kegiatan outbound dan apakah anak kira-kira mampu menerapkannya di kehidupannya (Gaia, 2008 : 2).  

2.2  Jenis kegiatan
Jenis Kegiatan pelaksanaan outbound di PAUD dibagi dalam dua kategori, yaitu outbound yang bersifat low impact dan high impact (Maryatun, 2010 : 106). Outbound  yang sifatnya low impact merupakan kegiatan dengan resiko kecil dan  menggunakan alat yang dapat diperoleh dari lingkungan sekolah atau dibuat instruktur. Sementara outbound jenis high impact merupakan kegiatan dengan resiko lebih besar dan menggunakan alat-alat yang harus dibeli. Jenis outbound low impact terdiri dari kegiatan kereta balon, moving water, kaki gajah, halang rintang, ekor balon, loncat jauh, jalan kepiting, hiking, susur gua, ayunan balistik, loncat ban, estafet bendera, estafet tongkat , games ball, rakit, moving gundu, bakiak race, moving gundu, senam ketangkasan, dan papan keseimbangan. Jenis outbound high impact terdiri dari kegiatan : flying fox, burma bridge, two-line bridge, landing net, dan army webb.