Gedung RA.AL HAMIDI : KELAS A DAN KELAS B
Sederhana namun sangat damai. suasana sejuk dan segar. dan yang penting anak-anak nyaman belajarnya.
HOME VISIT
Belajar di rumah teman/Home visite. senangnya bisa berkunjung kerumah teman ya sayang.
SISWA SISWI BERPRESTASI RA. AL HAMIDI
calon penerus bangsa. selamat atas prestasinya sayang.
SISWA-SISWI RA. AL HAMIDI
Sebagian siswa-siswi Ra.Al Hamidi sedang berpose di depan kelas.
Kegiatan Belajar di alam terbuka
Anak-anak sangat senang ketika belajar di luar kelas, bermain sambil belajar dan menikmati udara segar, belajar jadi tidak membosankan.
Rabu, 28 Februari 2018
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN / RPPH PAUD
postinganku kali ini mengenai CONTOH RPPH PAUD ,,,,, silakan dibaca ya,,, jangan lupa juga baca postinganku yg sebelumnya tentang PSIKOLOGI DAN SOSIAL KELUARGA: Konflik Antara Orang Tua Dengan Anak tapi kali ini baca CONTOH RPPH PAUD dulu y .....
PSIKOLOGI DAN SOSIAL KELUARGA: Konflik Antara Orang Tua Dengan Anak
Assalamualaikum..
seneng sekali setelah bertahun-tahun gak posting akhirnya sekarang bisa posting lagi. daridulu sibuk hehe. terakhir kali ngepost PERUBAHAN SOSIAL DAN MODEL PEMBANGUNAN beberapa tahun silam hehe. kali ini aku mau berbagi tugas kuliah lagi. matkul PSIKOLOGI DAN SOSIAL KELUARGA. langsung aja deh dibaca buat referensi tugas kalian yg mungkin lagi butuh sih hehehe
PSIKOLOGI DAN SOSIAL KELUARGA
(Konflik Antara Orang Tua Dengan
Anak)
OLEH: IKA
NUR FADILA
x
A. Konflik Orang Tua dan Anak
Anak dan orangtua tidak selalu akur. Ada
saatnya mengalami berbagai konflik yang berujung pertikaian dan salam paham
antara keduanya. Tapi ada yang harmonis sekali.Pertengkaran dan beda pendapat adalah bunga-bunga dalam keluarga. Tetapi
bila itu terjadi antara orangtua dengan anak, hubungan yang mesra bisa retak.
Di usia remaja, anak-anak umumnya sangat tergantung
kepada orang tuanya. Artinya, sikap orang tua akan mempengaruhi dan menentukan
tingkah laku mereka kelak. Dan karena hubungan begitu erat dan harmonis,
orangtua biasanya mengetahui suasana hati dan jalan pikiran anak-anaknya.
Namun memasuki masa remaja, hubungan itu bisa
merenggang. Penyebabnya, komunikasi kurang dan percakapan akrab semakin jarang
dilakukan. Bila hal ini dibiarkan terus, mulailah timbil kontradiksi antara
orangtua dan anak-anaknya.
Para remaja mulai merasa dunianya tidak lagi
dimengerti oleh orangtua. Sebaliknya, orang tua tidak lagi memahami keinginan
hati anak-anaknya. Kesimpangsiuran pandangan dan pendapat ini, akhirnya
menimbulkan persepsi yang berbeda.
B. Faktor Penyebab Konflik
1. Standar Perilaku
Remaja sering
menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda,
dan standar perilaku orang tua yang kuno harus menyesuaikan dengan yang modern.
2. Metode Disiplin
Remaja akan
memberontak apabila metode disiplin yang digunakan orang tua dianggap “tidak
adil “ atau “kekanak-kanakan”.
3. Hubungan Saudara Kandung
Remaja menganggap
orang tua melakukan pilih kasih dengan saudara, sehingga perasaan membenci
saudara muncul.
4. Merasa Menjadi Korban
Remaja sering merasa
benci jika status sosial ekonomi keluarga tidak memungkinkan mempunyai
simbul-simbul status yang sama dengan yang dimiliki teman-teman, seperti
pakaian, mobil, rumah dll. tidak menyukai bila harus memikul tanggung
jawab rumah tangga seperti; merawat adik-adik, atau bila orang tua tiri masuk
kerumah dan mencoba “memerintah”. Hal seperti itu tidak sukai dan hanya
menambah ketegangan hubungan dengan orang tua.
5. Sikap Yang Sangat Kritis
Anggota keluarga
tidak menyukai sikap yang terlampau kritis terhadap diri mereka dan
terhadap pola kehidupan keluarga pada umumnya
6. Besarnya Keluarga
Dalam keluarga yang
terdiri dari tiga atau empat anak lebih sering terjadi konflik dibandingkan
dengan keluarga kecil
7. Perilaku Yang Kurang Matang
Remaja membenci
sikap orang tua yang sering menghukum bila mengabaikan tugas-tugas
sekolah, melalikan tanggung jawab, atau membelanjakan uang semaunya.
8. Masalah Palang Pintu
Kehidupan
sosial sebagai remaja yang baru dan yang lebih aktif akan mengakibatkan
pelangaran peraturan keluarga mengenai waktu pulang dan mengenai teman-teman
dengan siapa berhubungan.
C. Solusi Mengatasi Konflik
Suatu cara terbaik bagi orang tua untuk
mengatasi konflik remaja dengan orang tua adalah dengan cara pemecahan masalah
secara bersama, yang tujuannya adalah untuk menemukan pemecahan masalah yang
bisa memuaskan kedua belah pihak, orang tua – remaja (Santrock, 2003).
Pendekatan ini bisa berjalan dengan baik jika orang tua dan remaja memusatkan
perhatiannya pada masalah tersebut, ketika diskusi dibatasi hanya pada satu
masalah, dan ketika remaja sebelumnya telah setuju untuk mencoba mencari
pemecahan masalah bersama. Menurut Santrock (2003) pendekatan pemecahan masalah
bersama terdiri dari enam tahap dasar, seperti berikut:
1.
Menetapkan aturan-aturan dasar penyelesaian konflik
Aturan-aturan
ini pada dasarnya adalah aturan untuk bermain secara jujur. Kedua belah pihak
orang tua dan remaja sepakat untuk memperlakukan satu sama lain dengan hormat,
tidak ada hujatan, makian dan tidak merendahkan yang lain, seperti;
memperhatikan pemikiran atau pendapat orang lain. Ketika saat diskusi orang tua
memberikan catatan yang positif dengan mengatakan keinginan untuk bersikap
adil.
2. Cobalah
mencapai saling pengertian
Maksud dari saling pengertian disini adalah orang tua dan remaja sama-sama
mendapat kesempatan mengutarakan duduk permasalahannya, dan bagaimana perasaan
mereka tentang masalah itu. Dalam diskusi ini, penting sekali untuk tetap fokus
pada permasalahan yang dibahas, bukan pada kepribadian.
3. Cobalah
melakukan brainstorming
Orang tua dan remaja mencari jalan keluar sebanyak mungkin untuk
permasalahan yang sedang dihadapi. Pada titik ini, jangan ada gagasan yang di
tolak karena terlalu gila, terlalu mahal, atau terlalu bodoh. Tentukan batas
waktu, misalnya 5 atau 10 menit dan hasilkanlah kemungkinan penyelesaian
sebanyak mungkin.
4. Cobalah
mencapai kesepakatan mengenai satu pemecahan atau lebih
Orang tua dan remaja memilih pilihan yang paling mereka sukai. Setiap
pilihan tidak boleh dibahas karena akan menghasilkan perdebatan yang
berkepanjangan, dan kadang kala tidak membuahkan apapun. Pada tahap ini orang
tua dan remaja bisa melihat ke mana arah minat mereka. Beberapa tarik ulur,
beberapa negosiasi mungkin akan diperlukan pada tahap ini. Orang tua maupun
remaja tidak seharusnya menyetujui dengan hal yang menurut mereka tidak bisa
diterima.
5. Catatlah
persetujuannya
Meskipun kelihatan formal, tapi tahap ini harus dilakukan karena
kadang-kadang ingatan seseorang bisa lupa. Jika suatu saat orang tua atau
remaja melanggar persetujuan, catatan ini dapat dijadikan pegangan.
6. Tentukan
waktu untuk membicarakan kelanjutannya untuk memeriksa perkembangannya
Jika orang tua atau remaja tidak mematuhi persetujuan, atau jika
pemecahan yang disepakati bersama tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan,
permasalahan tersebut harus ditinjau lagi.
Selain 6 solusi Menurut
Santrock, Ada beberapa solusi lain agar tidak terjadi konflik antara anak dan
orang tua, yaitu anak dan orangtua sadar akan fungsi dan peranan
masing-masing. Anak lahir ke dunia karena orangtuanya, maka orangtua
harus mendidik anaknya dengan benar. Anak juga harus sadar bahwa orang tualah
yang telah membesarkan dia. Orangtua tidak boleh mencap atau memvonis bahwa
kesalahan mutlak ada pada anaknya. Semestinya orangtua juga mengetahui dan
sadar akan kesalahannya sendiri.
Selain sadar akan peranan dan fungsi masing-masing, orangtua harus
menjalin komunikasi secara intim dengan anak. Kunci penyelesaian masalah
adalah komunikasi. Cobalah bertukar pikiran dengan anak, agar anak tidak
lari dan mencari orang lain untuk mengatasi masalahnya. Semua permasalahan
intinya adalah komunikasi, kalau komunikasi sudah dijalin dengan baik maka
semua urusan akan mudah, dan konflik bisa diminimalisir bahkan dihilangkan
Kesimpulan:
Konflik antara orang tua dan anak seringkali terjadi karena
ketidakselarasan pikiran antar keduanya. Oleh karena itu, untuk mengurangi
konflik yang terjadi harus dilakukan secara bersama-sama. Orang tua maupun anak
harus sama-sama menyadari fungsi dan kedudukan masing-masing. Seorang anak
harus menghormati orang tua dan orang tua juga harus memahami karakteristik
anaknya serta tidak memaksakan kehendaknya terhadap anak. Selain itu,
komunikasi antar orang tua dan anak harus tetap terjalin dengan baik agar
segala permasalahan dapat terselesaikan dengan baik dan tidak terjadi konflik
yang berkepanjangan.
Sumber:












