Rabu, 28 Februari 2018

PSIKOLOGI DAN SOSIAL KELUARGA: Konflik Antara Orang Tua Dengan Anak

Assalamualaikum..
seneng sekali setelah bertahun-tahun gak posting akhirnya sekarang bisa posting lagi. daridulu sibuk hehe. terakhir kali ngepost PERUBAHAN SOSIAL DAN MODEL PEMBANGUNAN beberapa tahun silam hehe. kali ini aku mau berbagi tugas kuliah lagi. matkul PSIKOLOGI DAN SOSIAL KELUARGA. langsung aja deh dibaca buat referensi tugas kalian yg mungkin lagi butuh sih hehehe 

PSIKOLOGI DAN SOSIAL KELUARGA
(Konflik Antara Orang Tua Dengan Anak)
OLEH: IKA NUR FADILA 





x

A.    Konflik Orang Tua dan Anak
Anak dan orangtua tidak selalu akur. Ada saatnya mengalami berbagai konflik yang berujung pertikaian dan salam paham antara keduanya. Tapi ada yang harmonis sekali.Pertengkaran dan beda pendapat adalah bunga-bunga dalam keluarga. Tetapi bila itu terjadi antara orangtua dengan anak, hubungan yang mesra bisa retak.
Di usia remaja, anak-anak umumnya sangat tergantung kepada orang tuanya. Artinya, sikap orang tua akan mempengaruhi dan menentukan tingkah laku mereka kelak. Dan karena hubungan begitu erat dan harmonis, orangtua biasanya mengetahui suasana hati dan jalan pikiran anak-anaknya.
Namun memasuki masa remaja, hubungan itu bisa merenggang. Penyebabnya, komunikasi kurang dan percakapan akrab semakin jarang dilakukan. Bila hal ini dibiarkan terus, mulailah timbil kontradiksi antara orangtua dan anak-anaknya.
Para remaja mulai merasa dunianya tidak lagi dimengerti oleh orangtua. Sebaliknya, orang tua tidak lagi memahami keinginan hati anak-anaknya. Kesimpangsiuran pandangan dan pendapat ini, akhirnya menimbulkan persepsi yang berbeda.

B.     Faktor Penyebab Konflik
1.      Standar Perilaku
Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern  berbeda, dan standar perilaku orang tua yang kuno harus menyesuaikan dengan yang modern.
2.      Metode Disiplin
Remaja akan memberontak apabila metode disiplin yang digunakan orang tua dianggap “tidak adil “ atau “kekanak-kanakan”.
3.      Hubungan Saudara Kandung
Remaja menganggap orang tua melakukan pilih kasih dengan saudara, sehingga perasaan membenci saudara muncul.
4.      Merasa Menjadi Korban
Remaja sering merasa benci jika status sosial ekonomi keluarga  tidak memungkinkan mempunyai simbul-simbul status yang sama dengan yang dimiliki teman-teman, seperti pakaian, mobil, rumah dll.  tidak menyukai bila harus memikul tanggung jawab rumah tangga seperti; merawat adik-adik, atau bila orang tua tiri masuk kerumah dan mencoba “memerintah”. Hal seperti itu tidak  sukai dan hanya menambah ketegangan hubungan  dengan orang tua.
5.      Sikap Yang Sangat Kritis
Anggota keluarga tidak menyukai sikap  yang terlampau kritis terhadap diri mereka dan terhadap pola kehidupan keluarga pada umumnya
6.      Besarnya Keluarga
Dalam keluarga yang terdiri dari tiga atau empat anak lebih sering terjadi konflik dibandingkan dengan keluarga kecil
7.      Perilaku Yang Kurang Matang
Remaja membenci sikap orang tua yang sering menghukum bila  mengabaikan tugas-tugas sekolah, melalikan tanggung jawab, atau membelanjakan uang semaunya.
8.      Masalah Palang Pintu
Kehidupan sosial  sebagai remaja yang baru dan yang lebih aktif akan mengakibatkan pelangaran peraturan keluarga mengenai waktu pulang dan mengenai teman-teman dengan siapa  berhubungan.

C.    Solusi Mengatasi Konflik
Suatu cara terbaik bagi orang tua  untuk mengatasi konflik remaja dengan orang tua adalah dengan cara pemecahan masalah secara bersama, yang tujuannya adalah untuk menemukan pemecahan masalah yang bisa memuaskan kedua belah pihak, orang tua – remaja (Santrock, 2003). Pendekatan ini bisa berjalan dengan baik jika orang tua dan remaja memusatkan perhatiannya pada masalah tersebut, ketika diskusi dibatasi hanya pada satu masalah, dan ketika remaja sebelumnya telah setuju untuk mencoba mencari pemecahan masalah bersama. Menurut Santrock (2003) pendekatan pemecahan masalah bersama terdiri dari enam tahap dasar, seperti berikut:


1.      Menetapkan aturan-aturan dasar penyelesaian konflik
Aturan-aturan ini pada dasarnya adalah aturan untuk bermain secara jujur. Kedua belah pihak orang tua dan remaja sepakat untuk memperlakukan satu sama lain dengan hormat, tidak ada hujatan, makian dan tidak merendahkan  yang lain, seperti; memperhatikan pemikiran atau pendapat orang lain. Ketika saat diskusi orang tua memberikan catatan yang positif dengan mengatakan keinginan untuk bersikap adil.
2.      Cobalah mencapai saling pengertian
Maksud dari saling pengertian disini adalah orang tua dan remaja sama-sama mendapat kesempatan mengutarakan duduk permasalahannya, dan bagaimana perasaan mereka tentang masalah itu. Dalam diskusi ini, penting sekali untuk tetap fokus pada permasalahan yang dibahas, bukan pada kepribadian.
3.      Cobalah melakukan brainstorming
Orang tua dan remaja mencari jalan keluar sebanyak mungkin untuk permasalahan yang sedang dihadapi. Pada titik ini, jangan ada gagasan yang di tolak karena terlalu gila, terlalu mahal, atau terlalu bodoh. Tentukan batas waktu, misalnya 5 atau 10 menit dan hasilkanlah kemungkinan penyelesaian sebanyak mungkin.
4.      Cobalah mencapai kesepakatan mengenai satu pemecahan atau lebih
Orang tua dan remaja memilih pilihan yang paling mereka sukai. Setiap pilihan tidak boleh dibahas karena akan menghasilkan perdebatan yang berkepanjangan, dan kadang kala tidak membuahkan apapun. Pada tahap ini orang tua dan remaja bisa melihat ke mana arah minat mereka. Beberapa tarik ulur, beberapa negosiasi mungkin akan diperlukan pada tahap ini. Orang tua maupun remaja tidak seharusnya menyetujui dengan hal yang menurut mereka tidak bisa diterima.


5.      Catatlah persetujuannya
Meskipun kelihatan formal, tapi tahap ini harus dilakukan karena kadang-kadang ingatan seseorang bisa lupa. Jika suatu saat orang tua atau remaja melanggar persetujuan, catatan ini dapat dijadikan pegangan.
6.      Tentukan waktu untuk membicarakan kelanjutannya untuk memeriksa perkembangannya
Jika orang tua atau remaja tidak mematuhi persetujuan, atau jika pemecahan yang disepakati bersama tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, permasalahan tersebut harus ditinjau lagi.
Selain 6 solusi Menurut Santrock, Ada beberapa solusi lain agar tidak terjadi konflik antara anak dan orang tua, yaitu anak dan orangtua sadar akan fungsi dan peranan masing-masing.  Anak lahir ke dunia karena orang­tuanya, maka orangtua harus mendidik anaknya dengan benar. Anak juga harus sadar bahwa orang tualah yang telah mem­besarkan dia. Orangtua tidak boleh mencap atau memvonis bahwa kesalahan mutlak ada pada anaknya. Semestinya orangtua juga mengetahui dan sadar akan kesalahannya sendiri.
Selain sadar akan peranan dan fungsi masing-masing, ora­ngtua harus menjalin komu­nikasi secara intim dengan anak. Kunci pe­nyelesaian masalah adalah ko­munikasi.  Cobalah bertukar pikiran dengan anak, agar anak tidak lari dan mencari orang lain untuk mengatasi masalahnya. Semua permasalahan intinya adalah komunikasi, kalau komu­nikasi sudah dijalin dengan baik maka semua urusan akan mu­dah, dan konflik bisa di­mi­nimalisir bahkan di­hilang­kan




Kesimpulan:
Konflik antara orang tua dan anak seringkali terjadi karena ketidakselarasan pikiran antar keduanya. Oleh karena itu, untuk mengurangi konflik yang terjadi harus dilakukan secara bersama-sama. Orang tua maupun anak harus sama-sama menyadari fungsi dan kedudukan masing-masing. Seorang anak harus menghormati orang tua dan orang tua juga harus memahami karakteristik anaknya serta tidak memaksakan kehendaknya terhadap anak. Selain itu, komunikasi antar orang tua dan anak harus tetap terjalin dengan baik agar segala permasalahan dapat terselesaikan dengan baik dan tidak terjadi konflik yang berkepanjangan.

Sumber:
                                                                                                                                           

0 comments: