Senin, 26 April 2010
Home »
cerita pendek (cerpen)
» Cerpen Cinta : Detik-detik terakhir
Cerpen Cinta : Detik-detik terakhir
Cerpen Cinta : Detik-detik terakhir .. smoga suka ya ma cerpen cinta ku ini :)
Langit begitu gelap,ku edarkan pandanganku menelusuri jejak-jejak cahaya. Ku cari dimana lukisan wajahnya yang selalu membayangi pikiranku. Ku cari berkas senyumnya yang selalu tampak pada cahaya bulan disana,ternyata tak ada lagi.perasaanku tak sepeka dulu.dia tak dapat ku lihat disetiap hayalku.aku benar-benar jenuh dengan hubungan ini,..
Aku bosan dengan adi….
***
“Ay, ada teman kamu tuh didepan” mama memanggilku dari dalam rumah. Ku bubarkan segala lamunan dan galauku. Kulihat siapa yang datang, “ah Adi”,gumamku. Ku berjalan menuju pintu depan, “Adi?ngapain?” tanyaku seolah tak mengharap kehadirannya. Adi terdiam, ku tau dia tak terbiasa dengan kata-kataku itu.
“apa malam ini kita gak malam mingguan lagi?” adi balik bertanya padaku, sudah 2 kali malam minggu aku tak jalan dengannya.
“aku lagi ingin di rumah, kamu temenin aku ajah yah di rumah..”pintaku pelan. Adi menatapku sejenak lalu ku tarik tangannya menuju taman belakang.
Tak banyak yang aku bicarakan,hingga jam mengarah ke angka 9. Adi akhirnya pulang dengan senyum penuh tanya.
4 tahun bukanlah waktu yang singkat . telah cukup lama aku bersamanya..
Aku bosan…
***
Pagi-pagi sekali ku terbangun oleh dering hp, “hah?kak rama?” aku terkejut melihat no kak Rama di hpku, karna sudah 2 bulan dia tidak menelfonku.
Selama kuliah di Al-azhar kakak tidak pernah pulang.sejak 4 tahun lalu..
“Assa….” Belum sempat ku selesai salam, kak rama menutup telfon. Dia selalu saja begitu, iseng miss call-in orang…
Tit.. tit.. tit…
Hpku kembali berbunyi,”apa sih kak?” tanyaku saat kak Rama menelfon untuk kedua kalinya itu.
“adek.. galak banget sih ? kakak rindu ni..” ucapnya dengan nada manja.
Ah kak Rama selalu saja begitu..
“tumben kak Rama telfon? Bukannya selama 2 bulan ini aku udah di lupain?” keluhku saat itu.
“kakak mau pulang” Jawabnya santai
“ah pasti boong..”
“bener, tunggu aja nanti malam” kak Rama tertawa
“kok secepat itu, perjalannya kan jauh? Kakak ada di mana sekarang?”
Tit.. kak Rama mematikan telfonnya.
Untuk kesekian kali kak Rama membuatku kesal.
Benarkah kak Rama akan pulang? Bisikku dalam hati
Sejanak aku berfikir, tiba-tiba ku teringat Dira, pacar pertama ku. Yang membuatku tak punya semangat hidup karena keputusannya tuk kuliah bersama kak Rama, hingga aku bertemu Adi yang mampu membuat aku lupa akan cintaku pada Dira.
Apakah dia juga akan pulang??.....
***
Ning nong….
Aku segera berlari menuju pintu, pasti itu kak Rama.. aku benar-benar tak sabar..
“Ayra… kok lari segala sih?? Memangnya itu kakak mu?” pertanyaan mama menghantikan langkahku “loh mama kok tau kak rama mau pulang?” tanyaku heran.
“kakak mu kan sering telfon mama” sejenak ku terdiam, karna mama tak pernah cerita padaku. Tapi, tak lama ku biarkan pikiran itu. Aku kembali berlari menuju pintu,
“kak Rama aku kangen..”ucapku sambil membuka pintu, ups Adi..ternyata bukan kak Rama.. “ Adi, ada apa?”tanyaku…
“Cuma pengen main aja Ay,aku ganggu ya?”
“sebenernya sangat mengganggu “ bisikku dalam hati. Ku lihat Adi sangat mengharap, ku iyakan kemauannya dan ku persilahkan dia masuk . untuk melepas rasa jenuh ku ajak dia nonton DVD terbaruku.
Saat lagi asik nonton dengan Adi, bel kembali berbunyi, itu pasti kak Rama. “Di, ku buka pintu dulu” dengan bergegas ku meninggalkan Adi . ku intip dari jendela , ya Allah .. kak Rama…
“kak , aku kangen” tubuhku pun langsung mendekap tubuh hangat kak Rama. Aku menangis, sungguh sudah lama aku tak merasakan dekap hangat kakak ku itu.
“adikku yang manis, gak usah nangis gitu. Kakak minta maaf ya gak pernah pulang dan jarang hubungin kamu” tuturnya seraya mengusap air mataku.
Lalu ku tarik tangan kak Rama menuju ruang tamu. Aku , kak Rama dan Mama melepas rindu bersama dan membuka semua oleh2 dari kak Rama.
“masih ada sesuatu yang special buat Ayra”
“apa kak?”tanyaku
“sebentar lagi donk”jawabnya
“loh Ay, bukannya tadi ada Adi?” mama mengingatkanku.
Aku hampir lupa, Adi ku tinggal sendiri di ruang tengah.
“eh iya ma , lupa” ku segera pergi ke Adi. Ku lihat Adi sudah ketiduran di lantai. Kasihan dia, tapi siapa suruh kesini?
“Di, pindah ke kamarku aja, biar aku tidur di kamar kakakku” Adi terbangun
“maaf Ay, aku ketiduran. Tapi kayaknya aku pulang aja” Adi beranjak dari ruangan itu
“Di, gak sebaiknya kamu disini?” bujukku padanya
“gak usah, makasih , aku pulang dulu” ku antarkan Adi ke depan pintu. Setelah adi pergi ku langsung menutup pintu kembali.
***
ning nong…
Baru tiga langkah bel kembali berbunyi
“ah Adi mau apa lagi sih? Tadi disuruh pindah maunya pulang” gumamku kesal
“apalagi sih Di?” ucapku seraya membuka pintu. Ya Tuhan .. ku pikir…. Ternyata …
aku terdiam melihat sosok di depanku itu.
“Dira?” tanyaku tak percaya
“Ayra” tubuhku serasa terdorong kea rah Dira. Seperti ada magnet-magnet menarik tubuhku padanya. Tiba-tiba saja ku memeluk Dira. Mendekap penuh perasaan. Entah dari detik keberapa sejak ku melihatnya tadi, perasaan itu muncul kembali. Masa lalu yang telah lama tertutup seakan kembali terurai.
“ehm… gak sopan pelukan di depan pintu” suara kak Rama mengagetkan ku.
Melepas pelukan ku dengan Dira. Lalu mama dan kak Rama sengaja membiarkanku berdua di ruang tamu. Aku dan Dira sedikit canggung setelah 4 tahun tak bertemu.
“mimi, aku kangen kamu” ucap Dira membuka percakapan dan menggenggem tanganku.
Mimi?dia masih memanggilku mimi, sebutan sayang yang dia berikan dulu sebagai tanda aku kekasihnya.
“ku kira kamu tak mungkin kesini, seharusnya kamu tau saat itu aku benar-benar tak mau kamu pergi. Aku cinta kamu, kamu kejam.” Satu parsatu air terurai dari mataku.
“maafkan aku mi, aku hanya ingin membuat orang tuaku bahagia. Kamu masih sayang aku kan?”
aku tak mampu menutup perasaan ku sendiri, ku akui aku masih sayang dia.
***
satu minggu sudah semenjak Dira hadir kembali dalam hidupku. Tiap malam Dira selalu datang ke rumahku tuk bertemu kak Rama juga menemuiku. Aku sayang Dira, perasaan yang lama terpendam benar-benar makin kuat ku rasakan. Hingga Adi, entah bagaimana dia, titk jenuh itu benar-benar telah menguasai hatiku. Selama liburan ini aku hanya bicara dengannya via hp. Aku makin ilfil melihat Adi.
“Ay ada Dira tuh” suara kak Rama dari luar kamarku, “iya kak” jawabku dan langsung keluar menemui Dira.
“pipi” ku panggil dia dengan sebutan sayangku dulu. “mimi, jalan-jalan yuk” ajak Dira padaku
“boleh, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu”
saat hendak ku tinggalkan tiba-tiba bel berbunyi, “siapa ya?” gumamku
ku intip dari jendela, oh Tuhan.. itu Adi. Bisa gawat kalo sampai mereka bertemu.
“siapa mi?” Dira bertanya melihat keanehan sikapku
“gak tau, ikut aku yuk ke kamar aku punya game terbaru” ku menarik tangan Dira ke kamarku. Lalu ku biarkan dia dan ku membuka pintu.
“eh Adi sayang… ada apa?pasti kangen?” tanyaku lembut padanya
“”iyah” Adi tersenyum
“udah lama kamu gak manggil aku sayang Ay”
“maaf, aku baru sadarin kalau aku abaikan kamu selama ini, aku kangen juga akhirnya” tuturku pelan
“jalan yuk” Adi meraih tanganku
“itu masalahnya, sebentar lagi aku harus ikut mama. Besok ajah ya “ rayuku padanya
“oh.. iya deh, tapi janji ya Ay”
“ iyah” jawabku
“pulang dulu ya” lalu Adi meninggalkan aku dengan senyumnya. Untung saja dia termakan ucap manisku.
“siapa mi?” Tanya Dira
“orang minta sumbangan” jawabku enteng
“ya udah kita berangkat jalan-jalan aja” ajakku padanya.
Aku dan Dira kian dekat. Takkan ku biarkan sang waktu kembali pisahkan aku dengan seorang yang ku cintai lagi. Cukup sekali ku kehilangan Dira, tak untuk kedua kalinya.
Saat ini aku benar-benar bingung bagaimana caranya aku harus mutusin Adi? Apa alasanku? Aku tak ingin semua menyalahkan aku jika aku memutuskan hubungan ini tanpa sebab. Aku harus membuat Adi yang tersalah agar semua simpati padaku. Tapi apa? ..
***
Semakin hari perasaanku makin kuat pada Dira. Hingga adi benar-benar telah mati di hati. Bahkan nanti siang Dira dan keluarganya akan datang ke rumahku untuk melamar.
“ay, nanti nonton yuk” ajak Adi padaku saat jam kuliah baru saja usai.
“maaf aku ada acara” jawabku pelan
“kenapa sih Ay, kamu gak pernah ada waktu lagi buat aku?
“apa sih maksud kamu Di? Kamu aja yang terlalu sensi sekarang” jawabku kesal
“siapa yang sensi Ay?” bantah Adi dengan tatapan yang begitu tajam padaku.
“aku males bahas ini , aku gak ingin berantem”
“siapa yang ingin berantem?”
“udahlah Di, aku ada acara.aku pulang” lalu aku tinggalkan Adi begitu saja
ku biarkan dia dengan segala kekesalannya. Biarlah dia merasakan kebosananku hingga dia yang memutuskan sendiri tuk pergi dari hidupku.
***
“Ay, Dira sudah datang” ucap kak Rama setengah teriak dari luar kamarku. Aku benar-benar sudah tak sabar memakai cincin dari Dira. Ku segera keluar kamar menemui mereka.
“Ay, bagaimana dengan jawabanmu?” Tanya papa padaku. Aku hanya tersenyum malu. Dengan beribu perasaan di hati, ku biarkan Dira melingkarkan cincin di jari manisku sebagai tanda ku terima dia.
Aku benar-benar bahagi bisa memiliki Dira seutuhnya.
“Ay, mama ingin bicara” tiba-tiba mama menarik tanganku menjauhi Dira dan keluarga. “”kenapa kamu terima Dira? Bukannya setau mama kamu pacaran dengan Adi? Kamu sangat sayang Adi kan?” pertanyaan mama menggertak hatiku.
“aku bosan sama Adi ma, aku sayang Dira seperti dulu , seperti yang mama tau jauh sebelum ku mengenal Adi” jawabku
“jangan main-main Ay, ini masa depanmu” lalu mama meninggalkanku. Aku tak terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting bagiku , ku telah memiliki Dira seutuhnya dan aku bahagia.
***
“Ay, sebenarnya maumu apa?” Tanya Adi saat menelfonku.
“aku gak mau apa-apa, jangan ganggu aku lagi” pintaku sebelum akhirnya ku putus telfon dari Adi. Aku memang sengaja tak mengabari pertunanganku dengan Dira pada Adi. Ku fikir, biarlah dia tidak tau apa2 tentangku.
Tiba2 sms dari Adi masuk ke hpku
=kamu inget janjiku kan Ay? Sekarang udah tanggal berapa?=
sms itu ta ku balas, namun pertanyaan itu membuatku teringat janji Adi. Ya Allah sekarang udah tanggal 30, Adi berniat akan melamark tepat tanggal 1 juni. Aku takut dia serius, ah! Anak itu pembawa masalah.
“Ay, tadi adi menelfon mama, dia bilang besok pagi jam 7 mau kesini”
ucap mama dari luar kamarku. Adi lagi! Dia mau apa sih? Apa dia belm nyadar jug aaku sudah tak mengharapkan dia, bisikku dalam hati.
***
Jam sudah menunjukkan jam 7, hatiku benar-benar gundah. Sebentar lagi Adi pasti datang, aku harus gimana? Dira juga mau kesini tuk mengajakku kerumah sakit menjenguk sepupunya. Duh ini semua gara-gara Adi yang gila itu. Gumamku terus dalam hati.
Ning nong..
Bel rumahku berbunyi, siapa ya? Ku harap itu bukan Adi.
Kuberjalan menuju pintu dengan segala resah yang terus mendera. Ku buka pintu dan ku pejamkan mataku,
“mimi?” suara Dira. Ku beranikan membuka mata
“loh pi, kenapa?” aku terkejut saat ku melihat baju Dira yang sat itu berlumuran darah.
“pipi kenapa?” ku terus menarik Dira tuk ku ajak ke rumah sakit. Aku benar-benar khawatir kala itu.
“mi, aku gak knapa2, tadi aku Cuma abis nolong orang kecelakaan” jelasnya.
“kok gak bilang dari tadi sih? Bikin aku kaget ajah”
“kan mimi yang gak mau denger,”
“ya udah ganti baju sana, pinjem baju kak Rama”
Dira pun lalu masuk ke rumahku.
***
Rumah sakit agak ramai, dengan bau obat2an yang sangat ku benci. Aku dan Dira langsung menuju lantai 3 di mana Bobi di rawat.
“loh pi, bukannya sebelah kanan?” tanyaku saat Dira justru menuju ke arah yang berlawanan dari kamar Bobi.
“aku masih mau lihat orang yang aku tolong tadi”
jawabnya singkat. Dengan perasaan ragu ku ikuti Dira. “ sebenernya ngapain?” gumamku.
Tepat didepan kamar bernomor 31a Dira berhenti dan memasuki ruangan itu.
Di dalam terlihat ramai, sepertinya orang yang di rawat itu benar2 parah.
Aku berjalan tepat di belakang Dira. Aku tak begitu suka melihat orang yang lagi sakit. Mudah terharu, malu bila ku menangis melihat orang itu.
“Ayra” suara yang familiar itu memanggilku. Seperti ku sangat mengenal suaranya. Ku tolehkan pandanganku pada perempuan di sebelahku, tante Merry, mamanya Adi. Bisikku dalam hati.
Tiba2 tante memelukku,” Ay, Adi ingin kerumahmu tadi, tapi sepertinya Tuhan tak mengijinkan. Kasian dia Ay”
Bisik tante dengan isak tangis padaku. Aku mulai mengerti keadaan ini. Ku lepas perlahan pelukan tante Merry, ku beranikan diriku melihat sosok yang terbaring di tempat tidur itu.
Ya Allah, benar. Dia Adi…
Adi dengan segala kesakitannya. Tanpa tersasa ku menitikkan air mataku padanya.
Tiba2 ku luluh melihat Adi, seakan mataku yang kemarin tertutup kini terbuka kembali.
Sungguh ku takut kehilangan Adi. Perlahan ku lihat mata Adi terbuka, dia meraih tanganku, dia menggenggam tanganku dengan tangan dinginnya. Aku makin menangis…
Tangan itu semakin kuat menggenggamku. Entah, mungkin dia sangat kesakitan.
Ku lihat matanya dengan pelan melirik tante Merry.
“ma..ma.. Adi.. ing.. ngin .. jadi.. mi.. lik .. Ay..” tutur Adi dengan terbata, ku memeluknya.
Saat itu juga tante memberikan sebuah cincin pada Adi, dan Adi meraih tanganku kembali.
Aku semakin teriris. Jari manisku telah melingkar cincin pertunanganku dengan Dira. Sejenak ku teringat Dira. Ku lihat Dira yang sedari tadi melihatku dari belakang, wajah Dira yang seakan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tak ku pedulikan dia, ku kembali menatap Adi yang mulai meneteskan air mata. Dengan penuh keyakinan akhirnya ku buka cincin di jari manisku, ku ulurkan tangan dan ku biarkan Adi malingkarkan cincin yang ada di tangannya. Ku acuhka Dira, yang ada di pikiranku hanya ingin Adi tersenyum. Yang ku tau, hati kecilku membisikkan cinta untuknya kembali.
Semua keluarga Adi menangis terharu melihtku.
“ka mu mau ja..di istriku.. kan?” Adi menaruh tanganku di atas dadanya. Aku hanya menganggukkan kepala. Tiba2 pintu terbuka. Ku lihat mama dan papaku, mungkin keluarga Adi telah mengabari orang tuaku. Tak ku hiraukan kedatangan mereka. Ku lihat Adi melirik pamannya, seperti memberi isyarat. Ku tau pamannya itu adalah seorang penghulu terkemuka.
Paman Adipun langsung menuntun ijab qobul pada adi saat papa menganggukkan kepalanya.
Ku menikah dengan Adi tanpa rencana saat itu juga.
Kini ku benar2 resmi menjadi istri Adi. Aku menangis lirih, ku teringat semua salahku padanya. Aku sempat menyakiti dia, sungguh terlambat ku menyadari semua ini.
Ku terus mendekap tubuh Adi yang sangat dingin.
Dengan genggaman erat tangan Adi. Kian detik berlalu, perlahan tangannya mulai lemas, ku lihat matanya semakin sayu.
“tante” ucapku seraya melihat tante merry yang menangis itu.
Tante hanya memegang pundakku. Mamapun hanya tersenyum dan mengerdipkan matanya, ku mengerti maksud mama. Akupun menuntun Adi berucap dengan segala rasa sakit yang amat di hatiku, dengan perlahan ku ucap syahadat yang di ikuti oleh Adi.
Tepat kata terakhir dia memejamkan matanya, dengan senyum yang begitu manis…
yang takkan pernah ku lupakan.
Kini adi benar-benar telah pergi….
“Ayra saying adi.. tunggu ay di surga sayang,,”
bisikku pelan tuk terakhir kalinya pada Adi.
Aku menangis kala itu, tak bisa terhenti . hatiku tergores luka yang amat dalam.
Hanya beberapa menit, takdir telah merubah segalanya… merubah jalan hidupku…
Aku bahagia menjadi istri Adi, bahagia melihat dia tersenyum di akhir hayatnya.
Tapi ku terluka sempat menyakiti Adi,
Ku menyesal baru menyadari kesalahan saat dia akan pergi tuk selamanya..
Setelah pemakaman Adi, ku temui Dira.
Aku hanya bisa meminta maaf atas semua yang telah terjadi dan mengembalikan cincin pertunangan itu.
Entah apa yang ada di hati Dira, tak ku pedulikan semua, saat ini ku hanya ingin menjaga hatiku untuk Adi. Tak ingin mengganti posisi Adi dengan siapapun.
Ku kan terus menjadi istri Adi hingga ku benar2 yakin Adi merelakanku bahagia bersama orang lain.
Entah sampai kapan…
*The End*
itu lah Cerpen Cinta yang berjudul Detik-detik terakhir , Cerpen cinta berikutnya segera :D







1 comments:
ah cek panjange
Posting Komentar