Resume buku Psikologi umum : SARLITO W. SARWONO : resume buku Psikologi umum ini
sengaja aku posting buat adeg-adeg angkatanku nanti dalam menempuh mata
kuliah Psikologi umum oleh Pak Hendra ^_^ . biar gag frustasi
kayak aku yg harus ngetik buku setebal itu ... hhe . baca juga ya Resume buku Psikologi Sosial : THEODORE M. NEWCOMB dkk
BAB 1
SEJARAH DAN
DEFINISI PSIKOLOGI
Psikologi berasal dari kata-kata Yunani : psyche yang
berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti
ilmu jiwa. Namun, arti “ilmu jiwa” masih kabur sekali. Dampak dari kekaburan
arti itu, sering menimbulkan berbagi pendapat mengenai definisi psikologi yang
berbeda.
Thales ( 624-548 SM ) yang dianggap sebagai Bapak
Filsafat , beliau mengartikan jiwa sebagai sesuatu yang supernatural. Jadi,
jiwa itu tidak ada, karena menurut beliau yang ada di alam ini hanyalah gejala
alam (natural phenomena) dan semua gejala alam berasal dari air.
Anaximander (611-546) berpendapat lain, bahwa segala
sesuatu barasal dari apeiron artinya
tak terbatas, tak terbentuk, tak bisa mati (the
boundless, formless, immortal matter), yaitu seperti konsep Tuhan di zaman
kita sekarang. Berdasarkan hal itu beliau berpendapat bahwa jiwa itu ada.
Filsuf lain seperti Anaximenes percaya bahwa
jiwa itu ada, karena segala sesuatu berasal dari udara.
Beberapa tokoh yang sangat berperan penting terhadap
perkembangan psikologi adalah tiga serangkai Sokrates (469-399 SM), Plato
(427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM), yang sering disebut TRIO SPA. Plato
adalah murid Sokrates, dan Aristoteles murid plato. Sokrates memperkenalkan
teknik maeutics yaitu wawancara untuk memancing keluar pikiran-pikiran dari
seseorang. Ia percaya bahwa pikiran-pikiran itu mencerminkan keberadaan jiwa di
balik tubuh manusia.
Plato kemudian berteori bahwa jika manusia mulai masuk ke
tubuhnya sejak manusia ada di dalam kandungan, dan mempunyai tiga fungsi yaitu
Logisticon (akal) yang berpusat di
kepala, Thumecticon (rasa) yang berpusat di dada, dan Abdomen (kehendak) yang
berpusat di perut.Perkembangan definisi-definisi masih berlanjut ada beberapa
definisi sebgai berikut:
·
Gardner
Murphy (1929) Ã Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang
diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
·
Boring,
Edwin G, dll ( 1948) Ã Psikologi
adalah studi tentang hakikat manusia.
·
Clifford
T. Morgan (1966) Ã psikologi
adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
![]() |
Ilmu pengetahuan adalah suatu kumpulan pengetahuan yang
tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu. Psikolokogi di
samping merupakan ilmu juga merupakan seni, karena dalam pengalamannya dalam
berbagai segi kehidupan manusia, di perlukan keterampilan dan kreativitas
tersendiri.
perilaku adalah perbuatan-perbuatan terbuka (overt)
maupun yang tertutup (covert). Perilaku terbuka adalah perilaku yang kasat
mata, dapat diamati secara langsung melalui pancaindra, seperti berlari
melompat dan sebagainya. Perilaku yang tertutup hanya dapat diketahui secara
tidak langsung melalui metode-metode khusus, misalna berpikir, sedih,
berkhayal, takut dan sebagainya. Istilah
perilaku ini bisa mewakili istilah behavior maupun activity dan intropeksi.
Manusia. Makin lama objek materiil psikologi makin
mengarah kepada manusia dikarenakan manusia paling membutuhkan ilmu ini dalam
berbagai segi kehidupannya, di ekolah, di kantor, di rumah tangga, dan sebagainya.sedangkan hewan
masih menjadi objek psikologi, tetapi hanya sebagai perbandingan saja.
lingkungan adalah tempat dimana manusia hidup,
menyesuaikan dirinya (beradaptasi) dan mengembangkan dirinya, manusia memiliki
akal budi dimana alat yang sangat tangguh yang menyebabkan ia dapat bertahan
hidup di dunia ini.
Hubungan Psikologi dengan Ilmu-ilmu lainnya
Ilmu-ilmu sosial adalah yang pertama-tama berhubungan dan
yang terdekat dengan psikologi, karena hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan
dalam ilmu-ilmu spsial dikembangkan berdasarkan perilaku manusia atau kelompok
manusia (masyarakat, komunitas, kelompok etnik, dll). Termasuk dalam ilmu
sosial antara lain :
·
sosiologi,
·
ilmu
ekonomi,
·
ilmu
hukum,
·
ilmu
politik,
·
antropologi,
dan
·
filsafat.
Disamping itu ilmu-ilmu pasti dan teknologi juga banyak membantu :
·
ilmu
kedokteran,
·
arsitektur
dan tata kota, dan
·
teknologi
penerbangan.
Selain itu, psikologi pun banyak sekali membantu berbagai profesi, seperti:
@ Guru dalam mendidik murid-muridnya
@ Manajer perusahaan dalam mengatur pegawai-pegawainya.
@ Tentara dalam menyusun perang ”urat saraf” (psywar).
@ Polisi dalam menginterogasi tahanan atau mengatasi huru
hara dan sebagainya.
Ilmu-ilmu yang
kurang mempergunakan psikologi dengan sendirinya adalah ilmu-ilmu yang tidak
langsung berhubungan dengan manusia sebagai objeknya, seperti ilmu pengetahuan
murni dan ilmu pengetahuan alam.
Persamaan dan perbedaan Psikologi dengan Psikiatri
Objek studi dari psikologi dan psikiatri adalah jiawa
manusia,, tetapi psikiatri adalah cabang (spesialisasi) ilmu kedokteran yang
bidang utamanya juga mengenai penyakit-penyakit, dalam hal ini penyakit jiwa.
Tugas psikiater sebagai seorang dokter adalah mengobati orang-orang yang sakit
atau mengalami gangguuan jiwa, termasuk psikosis dan penyalah guna narkoba.
Psikologi lebih banyak berhubungan dengan orang normal daripada dengan orang
sakit. Meskipun demikian, memang sering terjadi tumpang tindih (over lapping) karena psikiatri akhir-akhir
ini tidak berorientasi medis saja, tetapi sudah pula memerhatikan factor-faktor
sosial, kebudayaan, dll. Dalam psikologi pun dikenal bidang psikologo klinis
atau psikologi abnormal yang menangani masalah-masalah yang timbul sebagai
akibat adanya gangguan-gangguan kejiwaan.
Teknik yang digunakan oleh psikolog adalah observasi dan
berbagai bentuk wawancara, mulai dari konsultasi, konseling, sampai
psikoterapi.


Sakit/gangguan jiwa
Metode-metode dalam psikologi
Selayaknya ilmu pengetahuan, terdapat metode-metode dalam
penelitiannya sehingga dapat diterapkan pada kehidupan. Beberapa metode dalam
psikologi adalah sebagai berikut.
1.
Metode Eksperimental
Proses
eksperimen dimulai dengan pembagian kelompok. Pertama, kelompok yang tidak mengalami perlakuan khusus. Kelompok
ini selanjutnya disebut kelompok control. Kelompok lainnya menerima perlakuan
khusus. Kelompok ini yang kemudian disebut kelompok eksperimen. Adapun yang
diperlakukan terhadap kelompok eksperimen adalah perlakuan yang secara khusus
dibuat untuk menghasilkan situasi yang diinginkan.
Dalam
wikipedia disebutkan bahwa percobaan atau disebut juga eksperimen berasal dari
bahasa latin yakni ex-periri yang berarti menguji coba, merupakan suatu set
tindakan dan pengamatan, yang dilakukan untuk mengecek atau menyalahkan
hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala.
Menurut
Cochran (1957) mengartikan eksperimen sebagai sebuah atau sekumpulan percobaan
yang dilakukan melalui perubahan-perubahan terencana terhadap variabel input
suatu proses atau sistem sehingga dapat ditelusuri penyebab dan faktor-faktor
sehingga membawa perubahan pada output sebagai respon dari eksperimen yang
telah dilakukan.
Menurut
Zulnaidi (2007: 17) mengungkapkan bahwa metode eksperimen adalah prosedur
penelitian yang dilakukan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dua
variabel atau lebih, dengan mengendalikan pengaruh variabel yang lain. Metode
ini dilaksanakan dengan memberikan variabel bebas secara sengaja (bersifat
induse) kepada objek penelitian untuk diketahui akibatnya di dalam variabel
terikat.
Dalam
penelitian dengan metode eksperimen, terdapat tiga prinsip dasar yang terdapat
dalam desain eksperimen, antara lain sebagai berikut: 1) replikasi, merupakan
pengulangan dari eksperimen dasar; 2) randomization, prinsip ini digunakan pada
uji signifikan valid. Uji signifikan akan valid bila pengamatan didistribusikan
secara bebas yang dilakukan dengan pengambilan sampel secara random atau acak;
3) blocking, merpakan prinsip yang digunakan untuk mengisolasi treatment dari
pengaruh faktor lain supaya hasil eksperimen menjadi lebih akurat.
Adapun
tujuan dari metode eksperimen menurut Dedi Sutedi (2009: 54) adalah untuk
menguji efektifitas dan efisiensi dari suatu pendekatan, metode,teknik,
atau media pengajaran dan pembelajaran, sehingga hasilnya bisa diterapkan jika
memang baik atau tidak digunakan jika memang tidak baik dalam pengajaran
sebenarnya. Sedangkan menurut Nazir (1988: 75) mengemukakan tujaun dari
penelitian eksperimental adalah untuk menyelidiki ada-tidaknya hubungan sebab
akibat serta berapa besar hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan
perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan
menyediakan kontrol perbandingan.
kriteria
umum dari metode eksperimental tidak jauh berbeda dengan penelitian-penelitian
dengan menggunakan metode lain. Beberapa kriteria yang penting dari metode
eksperimental adalah sebagai berikut:
1.
Masalah yang dipilih harus masalah yang
penting dan dapat dipecahkan
2.
Faktor-faktor serta variabel dalam
percobaan harus didefinisikan seterang-terangnya
3.
Percobaan harus dilaksanakan dengan
desain percobaan yang cocok, sehingga maksimisasi variabel perlakuan dan meminimisasikan
variabel pengganggu dan variabel random
4.
Ketelitian dalam observasi serta
ketepatan ukuran sangat diperlukan
5.
Metode, material serta referensi yang
digunakan dalam penelitian harus dilukiskan seterang-terangnya karena
kemungkinan pengulangan percobaan ataupun penggunaan metode dan material untuk
percobaan lain dalam bidang yang serupa
6.
Interpretasi serta uji statistik harus
dinyatakan dalam beda signifikan dari parameter-parameter yang dicari atau yang
diestimasi.
Merencakanan percobaan
Secara singkat Nazir
(1988: 76) mengemukakan bahwa terdapat dua hal penting dalam merencanakan
eksperimen, yakni:
1.
Langkah-langkah dalam percobaan. Dalam
langkah-langkah ini terdapat tiga hal penting yang perlu dijelaskan, yakni: 1)
rumusan masalah serta pernyataan tentang tujuan percobaan atau penelitian; 2)
gambaran dari percobaan yang akan dilakukan, termasuk tentang besarnya
percobaan, jumlah dan jenis perlakuan, material yang dipakai, dan sebagainya;
3) outline dari penganalisaan yang akan dikerjakan.
2.
Desain penelitian percobaan. Desain
percobaan merupakan langkah yang utuh dan berurutan yang dibuat terlebih dahulu
sehingga keterangan yang ingin diperoleh dari percobaan akan mempunyai hubungan
yang nyata dengan masalah penelitian.
Melaksanakan percobaan
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan percobaan antara lain adalah
pengenalan terhadap material yang digunakan dalam percobaan, dapat juga
menggunakan checklist bilamana diperlukan. Mencatat berbagai hal yang
berhubungan dengan penelitian, dapat menggunakan buku catatan sebagai record
book. Dalam buku catatan tersebut dapat berisikan berbagai data kuantitatif
ataupun kualitatif tentang performance dari penelitian tersebut. Setelah
melakukan penelitian percobaan, maka dilanjutkan dengan melakukan analisa,
interpretasi serta generalisasi dari penemuan-penemuan.
Syarat-syarat percobaan yang baik
Nazir
(1988: 83-84) mengemukakan bahwa terdapat beberapa syarat pokok dalam mengadakan
penelitian eksperimen yang baik antara lain adalah:
1. Percobaan harus
bebas dari bias
Percobaan
harus sedemikian rupa direncanakan sehingga tidak bias. Ketidakbiasakan satu
percobaan dapat dijamin dengan adanya desain yang baik. secara garis besar, adanya
randomisasi mengurangi sifat bias dar percobaan.
2. harus punya ukuran
terhadap error
Dengan
adanya desain yang baik, maka error dapat diukur. Dalam istilah desain
percobaan error tidak sama artinya dengan kesalahan. Yang dimaksud dengan error
adalah semua variasi ekstra, yang juga mempengaruhi hasil di samping pengaruh
perlakuan-perlakuan. Dengan adanya ukuran error, maka percobaan menjadi
objektif sifatnya. Ukuran error ini bergantung pada desain percobaan yang
dipilih.
3.
Percobaan harus punya ketetapan
Percobaan
harus dilakukan dengan desain yang dapat menambah ketepatan. Ketepatan dapat
terjamin jika error teknis dapat dihilangkan dan adanya replikasi pada
percobaan. Ketepatan atau presisi dapat ditingkatkan jika error teknis, seperti
kurang akuratnya alat penimbang, kurang baiknya dalam menggunakan meteran, dan
sebagainya, maka jumlah replikasi dapat menambah ketetapan percobaan.
4.
Tujuan harus didefinisikan sejelas-jelasnya
Tujuan
percobaan harus dibuat sejelas-jelasnya, ditambah dengan alasan-alasan yang
kuat mengapa memilih perlakukan demikian. Pada kondisi mana hasilnya akan
diaplikasikan serta pada daerah ilmu mana sasaran penelitian tersebut ingin
diterapkan. Tujuan percobaan didefinisikan dan dapat dituangkan dalam
hipotesa-hipotesa nol yang akan dikembangkan.
5. Percobaan
harus punya jangkauan yang cukup
Tiap
percobaan harus mempunyai jangkauan atau scope yang cukup sesuai dengan tujuan
penelitian. Scope dari percobaan sangat penting artinya untuk keperluan
mengadakan perulangan percobaan satu faktor sudah kita atur konstan. Tetapi
pada dewasa ini dengan adanya teknik percobaan faktorial, pengulangan percobaan
telah dapat dilakukan secara simultan.
Jenis-jenis eksperimen
Zulnaidi (2007: 17)
mengemukakan bahwa dalam penggunaan metode eksperimen dapat dibedakan menjadi
dua jenis bila ditinjau dari segi tujuannya, yaitu:
1. Eksperimen
eksploratif
Eksperimen
ini bermaksud untuk mempertajam masalah dan perumusan hipotesa tentang hubungan
sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Untuk itu eksperimen eksploratif
biasanya mempergunakan binatang atau benda percobaan. Penggunaan manusia
percobaan dalam eksperimen ini sangat terbatas karena mengandung resiko yang
cukup besar.
2. Eksperimen
pengembangan
Eksperimen
ini dilakukan untuk menguji/ mengetes atau membuktikan hipotesa dalam rangka
menyusun generalisasi yang berlaku umum.
Lebih lanjut lagi
Zulnaidi (2007: 17-18) menjelaskan bahwa bila didasarkan cara pelaksanaannya
metode eksperimen dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni:
§ Eksperimen
murni
Di
dalam eksperimen ini perlakuannya sengaja dibuat akan dikenakan pada objek
penelitian dengan kata lain kondisi objek penelitian sengaja dirubah dengan
memberikan perlakuan tertentu dan mengontrol variabel lain secara cermat selama
jangka waktu tertentu.
Nazir
(1988: 86) memberikan contoh metode eksperimen murni atau sungguhan, yakni:
Penelitian
tentang pengaruh dua metode mengajar bahasa Inggris pada kelas II SLA sebagai
fungsi dari taraf intelegensia (tinggi, sedang, rendah) dan besarnya kelas
(besar, kecil), dimana guru ditempatkan secara random berdasarkan intelegensi,
besarnya kelas dan metode mengajar.
Contoh lain:
Percobaan faktorial
tentang pengaruh pemupukan dan jarak tanam dengan adanya kontrol pada percobaan
faktorial. Replikasi juga sangat ketat di awasi
§ Eksperimen
berpura-pura
Di
dalam eksperimen ini kondisi objek penelitian sulit untuk dirubah dalam bentuk
memberikan perlakukan tertentu. Oleh karena itu, di dalam kondisi yang sudah
berlangsung itu diusahakan memisah-misahkan variabel yang ada, sehingga
seolah-olah terdapat perlakuan dan variabel kontrol serta variabel-variabel
lain seperti terdapat di dalam eksperimen yang sebenarnya. Dengan demikian
eksperimen bukanlah percobaan yang sesungguhnya, melainkan yang bersifat
pura-pura (quaisy)
Nazir (1988: 86)
memberikan contoh metode eksperimen berpura-pura atau semu, yakni:
Penelitian
untuk mengetahui pengaruh dua macam cara menghafal kata-kata asing pada 4 buah
kelas SLA tingkat I tanpa menentukan penemapatan murid-murid pada perlakuan
secara random atau mengawasi waktu latihan secara cermat.
Perbedaan penelitian eksperimen dan penelitian deskriptif
Terdapat perbedaan
pokok yang terdapat antara penelitian eksperimen dan penelitian deskriptif (ex
post facto), yakni:
PEMBEDA
|
PENELITIAN EKSPERIMEN
|
PENELITIAN
DESKRIPTIF
|
Kontrol
|
Terdapat
kontrol terhadap variabel
|
Tidak adanya kontrol terhadap variabel
|
Peneliti
|
Peneliti
dapat mengadakan manipulasi terhadap variabel
|
Tidak dapat mengadakan manipulasi
terhadap variabel, karena variabel yang diteliti berada dalam keadaan apa
adanya
|
Objek
|
Objek
diatur terlebih dahulu, untuk dilakukan berbagai perlakuan
|
Tidak dapat melakukan pengaturan
objek, karena data dikumpulkan setelah kejadian berlalu (ex post facto)
|
2.
Observasi Ilmiah
Dalam observasi
ilmiah tidak diterapkan situasi-situasi sengaja. Disini hanya dilakukan
pengamatan terhadap situasi yang sudah ada, situasi yang terjadi secara spontan,
tidak dibuat-buat dan karenanya dapat disebut sebagai situasi yang sesuai
dengan kehendak alam, yang alamiah. Hasil pengamatan ini kemudian dicatat
dengan dengan telitiuntuk kemudian diambil kesimpulan-kesimpulan umum maupun
khusus.
3.
Sejarah
Kehidupan
Sejarah hidup seseorang dapat merupakan sumber data yang
penting untuk lebih mengetahui jiwa orang yang bersangkutan. Sejarah kehidupan
ini dapat disusun melalui dua cara yaitu:
a.
Pembuatan
buku harian.
b.
Rekonstruksi
biografi.
4.
Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab antara si pemeriksa dan
penderita. Maksudnya adalah agar orang itu mengemukakan isi hatinya sedemikian
upa sehingga pewawancara dapat menggali semua informasi yang diperlukan.
Beberapa teknik wawancara:
·
Wawancara
bebas
Pertanyaan dan jawaban diberikan sebebas-bebasnya oleh
pewawancara maupun yang di wawancara.
·
Wawancara
terarah
Dalam hal ini sudah ada beberapa pokok yang harus diikuti
pewawancara dalam mengadakan wawancara.
·
Wawancara
terbuka
Pertanyaan-pertanyaan sudah ditentukan sebelumnya, tetapi
jawaban dapat diberikan bebas tidak terikat.
·
Wawancara
tertutup
Pertanyaan-pertanyaan sudah ditentukan sebelumnya dan
kemungkinan-kemungkinan jawaban juga sudah disediakan.
5.
Angket
Angket adalah wawancara tertulis.
Pertanyaan sudah tersusun dalam lem lembar-lembar pertanyaan. Orang yang akan diperiksa tinggal membaca
pertanyaan dan memberi jawaban pada kolom yang tersedia.
Keuntungan
angket adalah daya sebarnya yang luas kepada masyarakat.
6.
Pemeriksaan Psikologis
Secara popular metode
ini dikenal dengan nama psikotes. Metode ini menggunakan alat-alat
psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang
benar-benar terlatih.
Keuntungan metod ini
adalah bahwa dalam waktu yang relative sangat singkat dapat dikumpulkan banyak
data mengenai diri seseorang, termasuk juga data yang tidak dapat diketahui
melalui metode lainnya. Keuntungan lainnya bahwa metode ini dapat dilaksanakan
secara massal sehingga dapat diperiksa banyak orang sekaligus, bahkan jika
diperlukan dapat dilakukan melalui telepon atau internet.
metode ini adalah tidak dapat dipergunakan
secra luas, karena hanya dapat dilakukan oleh orang yang ahli dan memang sudah terlatih.
Aliran-aliran dalam Psikologis
terdapat
dua teori yang mengarahkan berdirinya psikologi sebagai ilmu. Kedua teori ini
adalah :
1. Psikologi
pembawaan atau Psikologi Nativistik
Teori
ini menyatakan bahwa jiwa terdiri dari beberapa factor yang dibawa sejak lahir
atau disebut pembawaan atau bakat. Pembawaan-pembawaan terpenting adalah pikiran,
perasaan, dan kehendak.
2. Psikologi
Asosiasi atau Psikologi Empirik
Jiwa
berisi ide-ide yang didapatkan melalui panca indera, dimemorikan dan saling diasosiasikan
satu sama lain melalui prinsip-prinsip kesamaan, kekontrasan, dan kelangsungan.
Teori-teori dalam
Psikologi
Charles Darwin (1809-1882) , adanya pendapat
Darwin bahwa ada kontinuitas antara hewan dengan manusia, timbullah Psikologi
Komparatif (Psikologi Perbandingan). Francis Galton (1822-1911) perintis
Psikologi Eksperimental untuk pertama kalinya perbedaan-perbedaan antara satu
orang dengan orang lainnya dalam berbagai kemampuan (perbedaan-perbedaan
individual).
Beberapa aliran yang terkemuka dengan teori-teori
masing-masing akan dikemukakan sebgai berikut :
a.
Elementisme atau Stukturalisme
Penyelidikan
tentang struktur kejiwaan manusia dan ia mendapati bahwa jika manusia itu
terdiri dari berbagai elemen seperti : pengindraan, perasaan, ingatan, dll.
b.
Behaviourisme atau Psikologi S-R
Mementingkan
perilaku terbuka yang langsung dapat diamati dan diukur daripada perilaku
tetutup yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung. Aliran ini biasa
disebut aliran S-R ( Stimulus-Respons) , karena perilaku selalu dimulai dengan
adanya rangsangan (stimulus) dan diikuti oleh suatu reaksi (response) terhadap
rangsangan tersebut.
c.
Psikologi Gestalt
Bahwa dalam
pengamatan atau persepsi suatu situasi, rangsangan ditanggap secara
keseluruhan.
d.
Psikoanalisis
Teori ini
merupakan penemuan baru pada saat itu karena selama itu para ahli hanya
menyibukkan diri dengan alam kesadaran sebagaimana yang nyata dalam teori-teori
lain yang berlaku di saat itu. Teknik penyembuhan penyakit-penyakit kejiwaan
(psikoterapi) mempunyai metode untuk membongkar gangguan-gangguan yang terdapat
dalam ketidaksadaran ini, antara lain dengan metode analisis mimpi dan asosiasi
bebas.
e.
Psikologi Humanistik
Paham yang
mengutamakan manusia sebagai makhluk keseluruhan. Mereka tidak setuju dengan
pendekatan-pendekatan lain yang memandang manusia hanya dari salah satu aspek
saja. Manusia harus dilihat sebagai totalitas yang unik, yang mengandung semua
aspek dalam dirinya dan selalu berproses untuk menjadi dirinya sendiri.
Tugas psikologi menurut paham ini adalah
mendorong potensi-potensi yang baik pada diri seseorang dalam proses
aktualisasi dirinya. Karena manusia itu unik, maka penanganannnya dalam
psikoterapi juga unik.
Dua tokoh dari
aliran ini adalah Crl Rogers , dan Abraham maslow yang terkenal dengan teori
hierarki motivasinya.

Gambar: Teori
hierarki motiv dan Maslow : kebutuhan manusia berjenjang dari yang paling
mendasar (kebutuhan biologis), sampai yang paling tinggi (kebutuhan aktualisasi
diri).
Cabang-cabang Psikologi
Psikologi dewasa ini tidak hanya mementingkan aliran-aliran
yang sifatnya teoritis, tetapi juga memperhatikan penerapannya. Di Indonesia
psikologi baru di kenal secara formal sejak didirikannya jurusan psikologi ada fakultas
Kedokteran UI. Tetapi pada saat diresmikan sebuah fakultas yang mandiri,
fakultas psikologi UI mempunyai beberapa bagian yang masing-masing
mengembangkan cabang psikologi yang berbeda yaitu Bagian Psikologi Klinis,
bagian psikologi Kejuruan dan Perusahaan, Bagian Psikologi Anak, Bagian
Psikologi Eksperimen dan Bagian Psikologi Sosial.
Beberapa Divisi-divisi
dalam American Psychology Association :
NO
|
Daftar Divisi dalam
APA
|
Topik-topik diteliti
dan dipraktekkan
|
1
|
Society for General
Psychology ( Paguyuban Psikologi Umum)
|
Umum
|
2
|
Society for the
teaching of Psychology ( Paguyuban untuk Pengajaran Psikologi)
|
Pengajaran
|
3
|
Society for the
Psychology study of aesthetics, Creativity and the Arts
|
Konsultasi, industry,
dn organisasi dan SDM
|
4
|
Educational
Psychology (Psikologi Pendidikan)
|
Pendidikan,
pengajaran
|
BAB 2
MANUSIA
Manusia sebagai Makhluk
yang Bereksistensi
Proses perkembangan manusia
sebagian ditentukan oleh kehendaknya sendiri. Berbeda dengan makhluk yang lain
yang sepenuhnya tergantung pada alam. Kebutuhan untuk terus-menerus menjadi
inilah yang khas manusiawi dunia untuk kepentingannya sehingga timbullah kebudayaan
dalam segala bentuknya itu, yang tidak terdapat pada makhluk yang lainnya.
Bentuk-bentuk kebudayaan antara lain adalah sistem perekonomian, kehidupan
sosial, dengan norma-normanyan dan kehidupan politiknya.
Manusia sebagai Makhluk
Hidup
Sifat-sifat manusia
pada umumnya:
§
Ikatan-ikatan
Biologis
Bertentangan dengan eksistensinya, manusia adalah makhluk
biologis yang sampai pada batas-batas tertentu terikat pada kodrat alam. Manusia
membutuhkan udara untuk bernapas serta makanan dan minuman untuk mempertahankan
hidupnya. Dibandingkan dengan makhluk yang lainnya, manusia adalah satu-satunya
makhluk yang tidak dibekali alat-alat untuk bertahan dalam lingkungannya secara
alamiah. Sema ini menunjukkan betapa manusia sebagai makhluk biologis yang
lemah. Menurut teori evolusi Darwin, hanya tingkat kecerdasan yang tinggilah
satu-satunya modal manusia untuk tetap bertahan dalam dunia ini.
§
Makhluk
adalah Satuan hidup
bagian-bagian tubuh merupakan sebuah kesatuan yang tidak
dapat dipisah-pisahkan. Setiap bagian mempunyai fungsinya sendiri-sendiri dan
fungsi itu dikoordinasikan agar makhluk yang bersangkutan mampu beradaptasi dan
bertahan dalam lingkungannya. Bagian-bagian tubuh kalau dilepaskan dari
organisasi tubuh secara keseluruhan tidak dapat lagi berfungsi. Khususnya pada
manusia, jiwa, kesadaran, dan ketidaksadaran juga termasuk dalam satuan hidup
tersebut.
§
Sistem
Energi yang Dinamis
Manusia selalu membutuhkan energy untuk mempertahankan
hidupnya, untuk mengembangkan keturunan, untuk tumbuh, untuk menyelesaikan
tugas. Karena kebutuhan akan energi itu manusia selalu berusha untuk mengadakan
sejumlah energi dalam tubuhnya. Jumlah energi yang tersedia harus sesuai dengan
yang diperlukan, kalau manusia pada saat demikian akan aktifnya sehinnga
membutuhkan energi melebihi persediaan yang ada, maka akan terjadi berbagai
hambtan dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas tersebut.
§
Pertumbuhan
yang Mengikuti Pola Tertentu
Pertumbuhan manusia sejak dalam kandungan sudah
ditentukan polanya, dan tiap-tiap sel tubuh berkembang sesuai dengan jalur
perkembangannya masing-masing. semuanya mengarah pada satu tujuan untuk menjadi
makhluk manusia dengan organ-organ yang tersusun secara harmonis.
§ Perkembangan
Menjadi Makhluk Manusia
Ketika sel telur di
buahi oleh sperma dari lelaki menghasilkan satu sel baru yang disebut zigot. Zigot
ini akan membelah diri menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, 32 sel, dan
seterusnya. Zigot yang telah membelah menjadi banyak sel tadi akan berkembang
menjadi embrio, kemudian menjadi janin dalam rahim ibu. Lamanya waktu janin
tumbuh dan berkambang di dalam rahim ibu, dari mulai proses pembuahan hingga
kelahiran adalah kurang lebih 9 bulan. Zigot yang berkembang dengan membelah
diri menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, dan terbentuklan kumpulan sel. Kumpulan sel
ini akan berkembang menjadi janin Kumpulan sel di dalam rahim ibu. Perkembangan
janin selama di dalam rahim dibagi dalam tiga tahapan. Lamanya waktu pada
setiap tahapan adalah tiga bulan.
1. Trimester
Pertama
Tiga bulan pertama
embrio berkembang menjadi janin yang panjangnya kurang lebih 5,5 cm. Janin
sudah berbentuk seperti manusia walaupun ukuran kepalanya sangat besar. Di
akhir tiga bulan pertama ini janin juga sudah mulai dapat menggerakkan tangan
dan kakinya.
2. Trimester
Kedua
Pada tiga bulan kedua,
janin sudah semakin berkembang dan panjangnya sudah mencapai kurang lebih 19
cm. Tangan dan kakinya telah berkembang, muka tumbuh memanjang. Pada tiga bulan
kedua ini detak jantung janin juga sudah mulai bisa dideteksi. Gerakan janin
juga mulai aktif.
3. Trimester
Ketiga
Di tiga bulan ketiga
terjadi pertumbuhan ukuran janin sangat cepat. Ukuran tubuh sudah proporsional
seperti bayi. Karena ukuran tubuhnya semakin besar, janin tidakterlalu leluasa
bergerak di dalam rahim. Menjelang kelahiran bayi pada umumnya sudah mencapai
panjang sekitar 50 cm. Berikutnya janin akan lahir ke dunia dan disebutlah
dengan sebutan bayi. Rata-rata berat bayi adalah 3.500 gram dengan panjang
berkisar 48-51 cm.
Pengaruh Proses
Pematangan Terhadap Perilaku
Perilaku manusia tidak dapat dilepaskan dari proses pematangan
organ-organ tubuh. Contoh klasik dari proses pematangan anggota tubuh ini
adalah anak burung yang sejak menetes dari telurnya dikurung dalam sangkar.
Ciri-ciri Perilaku
manusia yang Membedakan dari Hewan
Kepekaan
sosial
Manusia bukan saja merupakan makhluk sosial, yaitu
makhluk yang harus hidup dengan sesamanya, tetapi lebih dari itu, manusia
mempunyai kepekaan sosial. Kepekaan sosial adalah kemampuan untuk menyesuaikan
perilaku dengan harapan dan pandangan orang lain. Orang yang tidak mamu
memahami dan menyesuaikan diri dengan situasi sosial di sekelilingnya dianggap
tidak mempunyai kepekaan sosial.
Kelangsungan Perilaku
Perilaku atau perbuatan manusia tidak terjadi secara
sporadis (timbul dan hilang begitu saja) tetapi selalu ada kelangsungan antara
satu perbuatan dengan perbuatan berikutnya. Perilaku manusia tidak pernah berhenti pada suatu saat,
perbuatan terdahulu merupakan persiapan bagi perbuatan yang kemudian, sedangkan
perbuatan yang demikian kelanjutan dari perbuatan yang sebelumnya.
Orientasi pada tugas
Suatu perilaku manusia selalu mengarah pada tugas
tertentu. Hal ini tampak jelas pada perbuatan-perbuatan seperti belajar atau
bekerja, tetapi hal ini juga terdapat pada perilaku lain yang tampaknya tidak
ada tujannya. Jadi orientasi pada tugas adalah suatu perbuatan atau tindakan
yang mengarah pada belajar atau bekerja.
Usaha dan Perjuangan
sesuatu yang ditentukannya sendiri dan dipilihnya
sendiri, dia tidak akan memperjuangkan sesuatu yang sejak semula memang tidak
ingin diperjuangkan. Dengan kata lain, manusia mempunyai aspirasi yang
diperjuangkan, sedangkan hewan hanya berjuang untuk memperoleh sesuatu yang
sudah diberi oleh alam. Harga diri misalnya, merupakan aspirasi yang dapat di
perjuangkan manusia, yang tidak terdapat pada hewan.
Setiap Individu manusia yang unik
Unik berarti beda dengan yang lainnya, jadi setiap manusia selalu mempunyai ciri-ciri dan
sifat-sifat tersendiri yang membedakannya dari manusia-manusia lainnya. Tidak
ada dua manusia yang sama di dunia ini. Pengalaman masalalu dan aspirasinya
untuk masa-masa yang akan datang menetukan perilaku seseorang di masa kini. Karena
setiap orang mempunyai pengalaman dan aspirasi yang berbeda-beda.
Perkembangan
Manusia
Dalam mempelajari perkembangan manusia, kita harus membedakan
dua hal, yaitu proses pematangan dan
proses belajar. Selain itu ada hal
ketiga dan keempat yang menentukan perkembangan, yaitu kekhasan atau bakat dan lingkungan. Lebih lengkapnya akan di
jelaskan sebagai berikut :
Pematangan,
berarti proses pertumbuhan yang menyangkut penyempurnaan fungsi-fungsi tubuh
secara alamiah sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan dalam perilaku,
terlepas dari ada atau tidak adanya proses belajar. Perkembangan ini ditentukan oleh proses pematangan
organ-organ tubuh dan terjadi pada setiap manusia normalsehingga kita dapat
memperhitungkan sebelumnya.
Belajar,
berarti mengubah atau
memperbaiki perilaku melalui latihan, pengalaman, atau kontak dengan lingkungan
( fisik dan sosial ) yang disebabkan melalui latihan dan pengalaman serta
relatif tidak berubah.
Dalam proses belajar ada tiga hal yang harus dipahami, yakni:
1.
Belajar
adalah perubahan tingkah laku (yang buruk atau benar);
2.
Melalui
seperangkat latihan dan pengalaman;
3.
Relatif
permanen, tidak hanya muncul sesaat.
Dari tiga hal di atas ada beberapa tingkah laku yang
terlihat seperti belajar, gerak refleks dan respons emosi bukanlah dipelajari
oleh individu tetapi otomatis dilakukan oleh tubuh.
Pengkondisian Klasik / (Classical
Conditioning)
yaitu prinsip belajar yang menggunakan pemasangan
stimulus netral dan stimulus yang dikondisikan. Kesimpulan yang diperoleh
adalah asosiasi pada classical
conditioning merupakan hubungan yang memiliki makna antara satu stimulus dan
stimulus lainnya, hubungan ini terbina hanya jika ada stimulus netral yang
diiktkan dengan stimulus yang tidak netral lainnya.
Penerapan pengkondisian Klasik Tingkah Laku Manusia
Proses pendekatan sebelum pacaran jika ditelaah memiliki
pola kondisioning klasik yang amat terasa. Orang yang pacaran lebih
memerhatikan telepon, karena dering telepon diasosiasikan dengan sang penelepon
yakni pacar. Bunyi dering telepon awalnya adalah sesuatu yang netral, tetapi
perlahan dering tadi muncul berbarengan dengan pacar. Dering yang awalnya netral
menjadi penanda atas kehadiran pacar diseberang sana. Terkait pula dengan
emosi, maka dering telepon kemudian tidak hanya menandakan kehadiran pacar,
namun juga membangun emosi positif (senang).
Pengkondisian
Operan / Operant Conditioning
Pada prinsipnya, setiap stimulus akan menghasilkan beberapa
kemungkinan respons. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, maka hanya
respons-respons tertentu saja yang diperkuat (dengan “hadiah”) atau ketika ada
respons yang tidak diinginkan, dilemahkan, yang pada akhirnya menjadikan respons
tadi menjadi respons yang “dipelajari.” Jadi pengkondisian operan adalah
respons alami yang diperkuat atau dilemahkan, tergantung pada kondisi diterima
atau ditolak.
Ganjaran positif,
ganjaran negative, dan hukuman
adalah stimulus yang
ditambahkan pada lingkungan yang kemudian meningkatkan respons awal, ganjaran
negatif adalah jika stimulus tertentu diangkat atau dihilangkandan menimbulkan
ketidaknyamanan sehingga memunculkan kembali respons yang diingnkan di masa yang
akan datang, dan hukuman yaitu stimulus yang memungkinkan untuk mengurangi
timbulnya tingkah laku yang tidak diinginkan di masa mendatang.
Shaping
yaitu proses yang
menggunakan pembelajaran dengan jalan pelajaran yang diberikan secara perlahan
mendekati sama dengan tingkah laku rumit.
Terapannya dalam
Tingkah Laku
Dalam pelaksanaan teori belajar pengkondisian operan lebih
sering dilaksanakan. Hal dasarnya hanya menguatkan tingkah laku yang diinginkan
dan kurangi yang tidak diinginkan. Jika ada yang kurang, penggunaan hukuman
dimungkinkan.
Sinergi Pematangan dan
Belajar
Kekhasan
berarti sesuatu yang menonjol pada satu dua anak yang berbeda dengan anak yang
lain, seperti itulah yang disebut bakat atau potensi bawaan sejak lahir.
Lingkungan
terdiri dari dua yaitu pertama lingkuangan fisik yng terdekat ibu dan yang
kedua lingkungan sosial.
Masa Kanak-kanak
Manusia
dilahirkan dalam keadaan yang sepenuhnya tidak berdaya dan harus menggantungkan
diri pada orang lain, terutama ibunya. Uniknya, lamanya waktu harus tergantung
pada orang lain inilah yang membuat ia punya kesempatan paling banyak untuk
mempersiapkan dirinya dalam perkembangannya sehingga pada akhirnya taraf
perkembangan manusia adalah yang tertinggi. Pengaruh orang tua dan lingkungan masa kanak-kanak tidak
berhenti di masa kanak-kanak saja. Menurut penganut Psikoanalisis, pengaruh
pengalaman masa kanak-kanak kadang-kadang tidak dirasakan atau disadari oleh
yang bersangkutan, karena semua itu disimpan di dalam bentuk prilaku-perilaku
yang aneh, yang lain daripada perilaku normal.
Masa
negativistik kedua timbul pada usia lima atau enam tahun, pada saat anak mulai
mengenal lingkungan yang lebih luas. Karena itu ia mulai lagi suka membantah dan tidak mau menurut kata orang
tuanya. Masa negativistik kedua ini sering ditandaidengan tempertantrum, yaitu
peilaku mengamuk, menangis, menjerit, merusak, menyerang,dan meyakiti diri
sendiri, yang dilakukan apabila ada kehendak-kehendak yang tidak dipenuhi.
Masa negativistik
ketiga terjadi pada masa remaja. Anak dalam perkembangan kepribadiannya selalu
membutuhkan seorang tokoh identifiasi. Identifikasi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang
lain. Jadi, dalam proses identifikasi anak tidak saja ingin menjadi identik
secara lahiriah tetapi, terutama secara batin. Kontak sosial di luar rumah
penting juga untuk anak, ia harus cukup berani mempertahankan haknya sebaliknya
ia juga harus mau mengakui hak orang lain. Perilakunya mulai di atur oleh
norma-norma sosial.
Ada beberapa ciri kepribadian
yang dapat timbul pada seorang anak karena adanya prngaruh-mempengaruhi antar
saudara. Beberapa ciri tersebut antara lain:
1.
Bertanggung jawab , biasanya pada anak
sulung
2.
Mudah bergaul, biasanya anak kedua atau
di tengah
3.
Manja, biasanya anak bungsu
4.
Aktif dalam kegiatan social, biasanya
anak dari keluarga besar
5.
Teliti, juga dalam keluarga besar
6.
Isolasi, biasanya pada anak dari
keluarga yang terlalu besar sehingga tidak cukup perhatian dapat diberikan
kepada masing-masing anak.
7.
Tidak bertanggung jawab, juga dari
keluarga terlalu besar
8.
Sakit-sakitan, merupakan usaha anak
untuk menarik perhatian orang tua karena orang tua terlalu banyak memerhatikan
saudara-saudara yang lainnya.
Masa Remaja : Proses Pendewasaan
Masa Remaja
sebagai masa yang penuh kesukaran. Hal ini disebabkan masa remaja merupakan
masa transisi antara kanak-kanak dan masa dewasa. Masa transisi sering kali
menghadapkan individu yang bersangkutan kepada situasi yang membingungkan, di
satu pihak ia masih kanak-kanak, tetapi di lain pihak ia sudah harus bertingkah
laku seperti orang dewasa. Perbedaan pendapat dan perbedaan nilai-nilai antara
remaja dan orang tua menyebabkan remaja tidak selalu mau menurut pada orang
tua. Oleh karena itu, masa remaja dikenal juga sebagai masa negativistik yang
ketiga.
Masa remaja adalah suatu tahap
antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal
pubertas sampai tercapainya kematangan; biasanya mulai dari usia 14 pada pria
dan usia 12 pada wanita. Transisi ke masa dewasa bervariasi dari satu budaya kebudayaan
lain, namun secara umum didefinisikan sebagai waktu dimana individu mulai
bertindak terlepas dari orang tua mereka.
§ Perkembangan fisik
Perubahan
dramatis dalam bentuk dan ciri-ciri fisik berhubungan erat dengan mulainya
pubertas. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi
hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Hormon
pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh
mendekati tinggi dan berat dewasanya dalam sekitar dua tahun. Dorongan
pertumbuhan terjadi lebih awal pada pria daripada wanita, juga menandakan bahwa
wanita lebih dahulu matang secara seksual daripada pria. Pencapaian kematangan
seksual pada gadis remaja ditandai oleh kehadiran menstruasi dan pada pria ditandai
oleh produksi semen. Hormon-hormon utama yang mengatur perubahan ini adalah
androgen pada pria dan estrogen pada wanita, zat-zat yang juga dihubungkan
dengan penampilan ciri-ciri seksual sekunder: rambut wajah, tubuh, dan kelamin
dan suara yang mendalam pada pria; rambut tubuh dan kelamin, pembesaran
payudara, dan pinggul lebih lebar pada wanita. Perubahan fisik dapat
berhubungan dengan penyesuaian psikologis; beberapa studi menganjurkan bahwa
individu yang menjadi dewasa di usia dini lebih baik dalam menyesuaikan diri
daripada rekan-rekan mereka yang menjadi dewasa lebih lambat.
§ Perkembangan intelektual
Tidak
ada perubahan dramatis dalam fungsi intelektual selama masa remaja. Kemampuan
untuk mengerti masalah-masalah kompleks berkembang secara bertahap. Psikolog
Perancis Jean Piaget menentukan bahwa masa remaja adalah awal tahap pikiran
formal operasional, yang mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang
melibatkan logika pengurangan/deduksi. Piaget beranggapan bahwa tahap ini
terjadi di antara semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman terkait
mereka. Namun bukti riset tidak mendukung hipotesis ini; bukti itu menunjukkan
bahwa kemampuan remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari
proses belajar dan pendidikan yang terkumpul.
§ Perkembangan seksual
Perubahan
fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan
seks. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial,
sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Namun
sejak tahun 1960-an, aktivitas seksual telah meningkat di antara remaja; studi
akhir menunjukkan bahwa hampir 50 persen remaja di bawah usia 15 dan 75 persen
di bawah usia 19 melaporkan telah melakukan hubungan seks. Terlepas dari keterlibatan
mereka dalam aktivitas seksual, beberapa remaja tidak tertarik pada, atau tahu
tentang, metode Keluarga Berencana atau gejala-gejala Penyakit Menular Seksual
(PMS). Akibatnya, angka kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit kelamin kian
meningkat.
§ Perkembangan emosional
Psikolog
Amerika G. Stanley Hall mengatakan bahwa masa remaja adalah masa stres
emosional, yang timbul dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi
sewaktu pubertas. Psikolog Amerika kelahiran Jerman Erik Erikson memandang perkembangan
sebagai proses psikososial yang terjadi seumur hidup.
Tugas
psikososial remaja adalah untuk tumbuh dari orang yang tergantung menjadi orang
yang tidak tergantung, yang identitasnya memungkinkan orang tersebut
berhubungan dengan lainnya dalam gaya dewasa. Kehadiran problem emosional
bervariasi antara setiap remaja.
Masa Dewasa
Memasuki alam kedewasaan, seorang laki-laki harus
mempersiapkan diri untuk dapat hidup dan menghidupi keluarganya, kaum perempuan
juga harus mempersiapkan diri untuk berumah tangga. Semua ini menunjukkan bahwa
usia-usia 40 tahunan, yang sering disebut pula sebagai usia pertengahan atau
usia setengah baya, merupakan masa krisis bagi sebagian orang. Sebgaian besar
orang pada umumnya dapt mengatasi masalah-masalah dalam periode krisis ini
dengan baik.
secara psikologi ada 4 jenis kelamin (gender), yaitu:
1.
Maskulin,
yang biasa terdapat pada laki-laki: tegas, rasional, cepat mengambil keputusan,
dan lain-lain)
2.
Feminin,
yang biasa terdapat pada perempuan:
lemah lembut, emosinal, lebih suka mengikuti keputusan, dan lain-lain.
3.
Androgin, pria atau perempuan yang mempunyai sifat maskulin maupun feminin yang sama kuat.
4.
Tak
tergolongkan , dalam tes gender menunjukkan skor maskulin maupun feminin sama
rendah.
Masa Tua
Pada masa tua
ini terjadilah perubahan-perubahan yang mudah terlihat, yakni perubahan fisik.
Masalah utama pada orang-orang tua adalah rasa kesepian dan kesendirian.
Batasan Usia bagi Tiap Masa Perkembangan adalah menetapkan tahap-tahap
perkembangan manusia, maka dalam Psikologi Perkembangan sekarang ini digunakan
pedoman-pedoman tertentu untuk menetapkan tingkat perkembangan psikologi
manusia.
Pada masa tua umumnya diikuti
waktu masa pensiun tiba, padahal orang yang bersangkutan masih cukup kuat, maka
harus di usahakan agar kesibukan-kesibukannya tidak berhenti dengan tiba-tiba.
Di indonesia usia pensiun adalah 55 tahun, padahal pada usia tersebut lansia
masih bisa berkarya. Kondisi ini harus di lihat dalam konteks yang lebih luas
karena jumlah lansia yang cukup besar. Beberapa cara untuk menghindari
penghentian kegiatan secara mendadak, antara lain:
¾
Memberikan
masa bebas tugas sebelum pensiun
¾
Memberi
pekerjaan yang lebih ringan sebelum pensiun
¾
Mencari
pekerjaan lain dalam masa pensiun
¾ Melakukan kegiatan yang bersifat kegemaran.
Batasan Usia bagi Tiap
Masa Perkembangan
Dalam psikologi memanng sulit
ditetapkan batas-batas usia yang tegas bagi masing-masing masa perkembangan
tersebut. Akan tetapi, dalam praktik, sering kali diperlukan batasan-batasan
yang tegas. Demikian pula dalam ilmu
kesehatan, program-program kesehatan memerlukan batasan usia yang sangat tegas
antara berbagai tahap perkembangan jiwa manusia.
Mengingat susahnya menetapkan
batasan usia yang berlaku umum untuk menetapkan tahap-tahap perkembangan
manusia, maka dalam psikologi perkembangan sekarang ini lebih banyak digunakan
pedoman-pedoman tertentu untuk menetapkan tingkat perkembangan psikologi
manusia, yaitu;
1.
Bayi (infancy): masa sebelum bias
berjalan. Biasana di bawah umur satu tahun.
2.
Toddler: sekitar umur 18 bulan.
Perbendaharaan katanya berkembang pesat. Ia bias mempelajari 7-9 kata baru
setiap hari.
3.
Kanak-kanak (childhood): yaitu tahap
antara masa bayi dan remaja.
4.
Praremaja (preadolescence): yaitu tahap
perkembangan manusia dalam rangka masa kanak-kanak.
5.
Remaja (adolescence): masa transisi dari
kanak-kanak ke dewasa. Ciri khas seorang remaja ketika masuk remaja adalah
pubertas (tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder)
6.
Dewasa (adulthood): bias mengandung
banyak arti. Tergantung dari sudut pandangnya, bahkan bias saling bertentangan.
Seseorang bias sudah dewasa secara biologis, tetapi masih kanak-kanak secara
social, atau menurut agama sudah boleh menikah, tetapi menurut agama belum.
Dewasa di bagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
7.
Dewasa muda, biasanya berusia antara
19-40, yaitu orang-orang yang masih sangat produktif dari segi seksual, social,
dan ekonomi.
8.
Usia pertengahan, yaitu usia antara
dewasa muda dengan dengan usia lanjut. Sukar untuk mendefinisikan batas usia
pertengahan, karena cukup banyak orang yang masih jauh melampaui usia 40 tahun.
Karena itu sebagai atokan hanya di sebutkan bahwa usia pertengahan adalah
sekitar dua pertiga dari usia harapan hidup di masyarakat yang terkait.
9.
Usia lanjut, yaitu usia yang sudah
melewati batas usia rata-rata harapan hidup.
BAB 3
FUNGSI-FUNGSI PSIKIS
Persepsi
Objek-objek di sekitar kita, kita tangkap melalui alat-alat
indra dan diproyeksikan pada bagian tertentu di otak sehingga kita dapat
mengamati objek tersebut.
Pada bayi yang baru
lahir, bayangan-bayangan yang sampai ke otak masih tercampur aduk sehingga bayi
belum dapat membeda-bedakan benda-benda dengan jelas.kemampuan untuk
membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan dan sebagainya itu, yang
selanjutnya diinterpretasi disebut presepsi.
Presepsi berlangsung saat seseorang menerima stimukus dari
dunia luar yang di tangkapoleh organ-organ bantunya yang kemudian masuk ke
dalam otak. Di dalamnya terjadi proses berpikir yang pada akhirnya terwujud
dala sebuah pemahaman. Pemahaman ini yang disebut persepsi.
Telinga
Telinga mempunyai tiga bagian , yakni telinga bagian luar,
telinga bagian tengah dan telinga bagian dalam. Untuk bagian luar dimulai dari
bunyi. Bunyi adalah gerakan molekul-molekul udara yang terbuat oleh getaran
sebuah objek (feldman, 2003). Pola bunyi sampai terdengar di telinga mirip
dengan gelombang air yang terjadi ketika air tenang dilempar batu dan muncul
gelombang menjauhi tempat batu terjatuh.
Gambar 3.2 penampang
telinga

Organ
pertama yang bertemu dengan gelombang suara adalah gendang telinga. Ketika
bunyi semakin intensif maka gendang telinga semakin bergetar. Getaran yang di
terima oleh gendang di transfer ke telinga bagian tengah. Di bagian tengah
terdapat tiga tulang yakni hammer, anvil,
stirrup. Dari bagian tengah ini getaran di transmisikan. Dan kemudian
getaran ini masuk ke telinga bagian dalam.
Pada bagian dalam, getaran suara diubah agar bisa
ditransmisikan ke otak. Organ pertama di bagian dalam ini adalah kokhlea.
Berbentuk tabung yang terselubung berisi cairan yang bergetar ketka terdapat
suara. Di dalam kokhlea juga terdapat sel-sel rambut yang berfungsi
menyampaikan getaran menjadi pesan untuk otak.
Hidung
Manusia bisa menghidu 10.000 bauan yang berbeda ( Feldman,
2008). Antara lelaki dan perempuan juga diketahui bahwa bisa saling membedakan
(Feldman, 2008) dan perempuan memiliki kemampuan membaui lebih baik daripada
lelaki ( Engen, 1987, dalam feldman, 2008).
Cara kerja penghidu dimulai ketika molekul-molekul dari sebuah
substansi masuk dalam saluran hidung dan mengenai sel-sel olfaktori. Sel
olfaktori merupakan syaraf reseptor yang jumlah dan jenisnya ribuan. Tiap-tiap
reseptor bekerja untuk bauan yang spesifik. Setelah diterima oleh reseptor
kemdian dikirimkan ke otak dan dimulailah proses pengenalan untuk masing-masing
bauan ( Rubin dan Katz; Murphy dkk., 2004 dalam Feldman, 2008).
Bebauan juga berguna untuk komunikasi. Hasil penelitian
terhadap kelompok mamalia ditemukan pola komunikasi berdasar bauan yang amat
berguna. Simpulan yang diambil dari penelitian ini adalah bahwa mamalia dapat
mengomunikasikan adanya bahay terhadap sesamanya lewat penciuman ( Jurnal science dalam koran tempo, Rabu, 27 Agustus 2008).
Lidah
Bagian pengecap ini mempunyai leihdari seribu tipe sel
reseptor. Secara garis besar para ahli percaya hanya terdapat empat tipe dasar
reseptor, yakni untukmengecap rasa manis, asam, asin, dan pahit. Pada tiap sel
reseptorterdapat 10.000 kuncup cicip yang menyebar di lidah, bagian mulut, dan
kerongkongan ( Feldman, 2003).
Penelitian terhadap manusia tentang lidah menemukan bahwa
setiap orang memiliki ciri yang berbeda. Ada segolongan individu yang di sebut
perasa super ( supertasters), yakni orang yang sangat sensitif dalam mengecap
rasa.
Kulit
Kulit sangat membantu manusiadalam mempersepsi dunia
sekeliling. Kita bisa membedakan satu objek kasar atau halus, keras atau lembek
dimulai dari informasi yang diterima oleh kulit. Bahkan bagi individu buta,
sentuhan pada jemarinya adalah cara untuk mengetahui dunia. Pada bagian ujung
jemari terdapat sel-sel Meisners berespons terhadap bintik-bintik huruf Braille
( Garret, 2005). Pada bagian ini ada beberapa hal yang dirasakan yakni
sentuhan, tekanan, suhu, dan sakit yang amat berguna untuk kebertahanan hidup.
Manusia menjadi siaga untuk mengadapi bahaya yang ada di luar tubuh.
Reseptor-reseptormenyebar keseluruh bagian kulit dengan berbeda kedalamannya
pada tiap-tiap bagian tubuh.
Mata
Dalam bahasa puisi, mata adalah jendela hati. Yang dilihat oleh
mata adalah cahaya yang merupakan energi fisik yang menstimulasi mata (Feldman,
2003). Dalam analogi yang sederhana , mata mirip dengan kamera. Mata harus
mengukur dan mengatur besarnya cahaya yang masuk. Lensa mata kemudian
memfokuskan cahaya ke retina yang bekerja layaknya film, membentuk gambar
(Schwartz, 1986).
Penglihatan dimulai dengan cahaya yang merupakan gelombang
radiasi elegtromagnetik. Rentang panjang gelombang yang disebut juga sebagai
spektrum visual relatif kecil. Tentunya dengan demikian mata membutuhkan
kemampuan dasar yang baik. Di dalam mata terdapat sekitar 126 juta reseptor
cahaya, lengkap dengan jaringan yang rumit yang berujung pada syaraf optik
(Garret, 2005).
Struktur dan Proses
Penglihatan
Saat pertama kali sebuah objek muncul di depan mata, organ mata
yang pertama kali bekerja adalah kornea. Kornea berupa lapisan yang transparan
bekerja layaknya jendela pengaman, cahaya yang masuk diatur lebih besar atau
lebih kecil. Setelah melewati kornea cahaya melewati pupil, bagian gelap yang
merupakan pusat dari iris. Pupil mengatur masuknya cahaya, ini terlihat ketika
seseorang matanya akan berkontraksi ketika melihat cahaya terang dan tetap
tenang ketika melihat cahaya yang redup (Feldman, 2003; Garret, 2005). Iris
adalah bagian berwarna dari mata.
Bagian berikut yang di masuki cahaya adalah lensa. Terletak
persis di belakang pupil. Lensa bertugas membelokkan cahaya sehingga bisa di
fokuskan pada objek yang dilihat. Kerja lensa yang memfokuskan sinar sehingga
bisa berbentuk cekung atau cembung ini yang disebut sebagai akomodasi. Bagian
yang terakhir dari mata adalah retina. Bagian ini mengubah energi
elegtromagnetik dari cahaya menjadi informasi yang berharga bagi otak. Retina
terbentuk dari sel-sel resptor yang sensitif terhadap cahaya dan tersambung
dengan sel-sel syaraf (Garret, 2005).
Persepsi
Alat-alat indra tadi amatlah membantu dalam kehidupan
seseorang. Ia dapat memberi sensasi.
Sensasi adalah stimulan dari dunia luar yang dibawa masuk oleh sistem syaraf.
Hampir semua “hal” di dunia ini dibawa masuk oleh indra melalui sensasi.
Bentuk, tekstur, dan rasa yang anda terima merupakan sensasi, sedangkan
perbandingan yang anda lakukan adalah interpretasi.
Persepsi visual
Organisasi dalam persepsi mengikuti beberapa prinsip, yaitu:
1.
Wujud
dan Latar (figure and ground atau
emergence)
Objek-objek yang kita
amati di sekitar kita selalu muncul sebagai wujud (figure) dengan hal-hal lainnya sebagai latar (ground). Sebagai contoh ketika kta melihat beruang di bukit
berbatu, maka beruang itu akan menjadi wujud dan bebatuan di belakangnya akan
menjadi latar. Namun tidak selalu perbedaan latar sejelas itu. Dalam gambar
Wujud dan Latar, kita bisa melihatnya sebagai dua wajah (siluet) yang saling
berhadapan dengan latar belakang putih, atau sebagai sebuah vas bunga dengan
latar belakang hitam. Bentuk seperti ini dinamakan ambigous figure (bentuk ambigu) atau multistability (stabilitas ganda). Dalam kehidupan sehari-hari
justru pola ambigu ini yang sering terjadi sehingga terjadilah perbedaan
persepsi atau miskomunikasi.
2.
Pola
pengelmpokan
Dalam
psikologi, cara manusia mengelompokkan apa yang dipersepsinya dengan mengikuti
hukum tertentu yang dinamakan hukum Gestalt
(artinya; bentuk, keseluruhan) atau hukum Pragnanz
(bahasa jerman, artinya kesadaran, atau consciousness). Termasuk di dalamnya adalah hukum
kesamaan, hukum kedkatan, dan hukum keutuhan.
3.
Ketetapan
(constancy atau invariance)
Teori
Gestalt juga mengemukakan bahwa dari proses belajarnya, manusia cenderung akan
memersepsikan segala sesuatu sebagai sesuatu yang tidak baerubah, walaupun
indra kita sebetulnya menangkap adanya perubahan. Bayangkan jika kita tidak
mempunyai asa ketetapan itu, setiap hari kita tidak mengenali anak atau
suami/istri kita sendiri karena bajunya berganti-ganti.
Dalam
persepsi ada empat ketetapan dasar yang di kemukakan oleh Psikologi Gestalt,
yaitu Ketetapan Warna, Ketetapan Bentuk, dan Ketetapan Ukuran.
Ilusi
Otak manusia begitu
unggulnya sehingga otak dapat menginterpretasikan apa yang diindrakannya
sebagai persepsi yang tepat mendekati kebenaran. Ketetapan ukuran misalnya,
sangat penting untuk penerbang yang sedang mendaratkan pesawat terbangnya. Di
retinanya, terpapar bayangan (image) landasan yang sangat kecil di kejauhan,
tetapi bayangan itu berubah-ubah terus dan makin membesar ketika dia mendekati
(approach) landasan dengan kecepatan
sekitar 200 km/jam, namun, pilot tak kehilangan orientasi karena otaknya
menyesuaikan diri terus dan menerjemahkannya ke dalam persepsi yang tepat
sehingga akhirnya pesawat itu menyentuh landasan dan mendarat dengan selamat.
Ilusi
adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca
indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah
interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai
contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat
meng-interpretasikan suara gemerisik daun-daun sebagai suara yang mendekatinya.
Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada
penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi,
maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif. Ilusi terjadi dalam bermacam-macam
bentuk, yaitu ilusi visual (penglihatan), akustik (pendengaran), olfaktorik
(pembauan), gustatorik (pengecapan), dan ilusi taktil (perabaan).
Di sisi lain hukum-hukum persepsi itu, terkadang justru bisa
menimbulkan kesalahan persepsi, yang di sebut ilusi.
Gejala ilusi adalah gejala normal. Setiap orang mengalaminya.
Selain ilusi visual ada juga ilusi dari indra yang lain, misalnya ilusi auditif
(pendengaran) terjadi ketika kita mendengarkan rekaman stereo dengan menggunakan sepasang head set. Ilusi kinestetik (gerak otot) biasa di alami oleh orang
yang telah di amputasi salah satu anggota tubuhnya. Orang ini masih bisa
merasakan gatal, atau bahkan sakit pada kakina, padahal kakinya itu sudah tdak
ada. Gejala ini dinamakan phantom limb (anggota
tubuh fantasi).
Masalahnya adalah karena gejala itu normal dan terjadi pada
setiap manusia, maka ketika ilusi itu meningkat maka menjadi ilusi sosial maka
timbullah berbagai persoalan. Ilusi sosial adalah ilusi yang terjadi pada
persepsi sosial. Yang termasuk ilusi sosial adalah prasangka, stereotipi,
rasialisme, fanatisme, favoritisme, dan sebagainya.
Perbedaan Persepsi
Ilusi menyebabkan
perbedaan antara persepsi dengan realita, namun, sejauh masih menangkut ilusi
indra (visual, auditif), maka belum akan timbul masalah karena semua orang akan
mengalami ilusi yang sama. Lain halnya kalau sudah masuk ke persepsi sosial.
Karena banaknya faktor yang memengaruhi persepsi sosial dan faktor-faktor
itupun tidak tetap, maka seringkali terjadi perbedaan persepsi antara satu
orang dengan lainnya. Hal-hal yang menyebabkan perbedaan persepsi antarindividu
dan antar kelompok adalah sebagai berikut.
1.
Perhatian
Pada
setiap saat ada ratusan, mungkin ribuan rangsangan yang tertangkap oleh semua
indra kita. Tentunya kita tidak mampu menyerapseluruh rangsangan yang ada di
sekitar kita sekaligus karena keterbatasan daya serap dari persepsi kita, maka
kita terpaksa memusatkan perhatian pada salah satu atau dua objek saja.
2.
Set
Set
(mental set) adalah kesiapan mental
seseorang untuk menghadapi sesuatu rangsangan yang akan timbul dengan cara-cara
tertentu. Misalnya, seorang atlet pelari yang siap di garis “start” mempunyai
set bahwa beberapa detik lagi akan terdengar bunyi pistol saat mana ia harus
berlari. Terlambatnya atau batalnya bunyi pistol, bisa membuat atlet tersebut
kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
3.
Kebutuhan
Kebutuhan-kebutuhan
sesaat maupun yang menetap pada diri seseorang, akan memengaruhi ersepsi orang
tersebut. Dengan demikian, kebutuhan-kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan
perbedaan persepsi.
4.
Sistem Nilai
Sistem
nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat berpengaruh pula terhadap persepsi.
Suatu eksperimen di Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak-anak yang berasal
dari keluarga miskin mempersepsikan mata uang logam lebih besar daripada ukuran
yang sebenarnya. Gejala ini tiak terdapat pada anak-anak yang berasal dari
keluarga kaya.
5.
Tipe Kepribadian
Tipe
kepribadian juga akan memengaruhi persepsi. Misalnya, frida dan linda bekerja
di satu kantor yang sama di bawah pengawasan satu orang atasan yang sama. Frida
bertipe tertutup dan pemalu sedangkan linda lebih terbuka dan percaya diri.
Sangat mungkin frida akan mempersepsikan atasanhya sebagai tokoh yang
menakutkan dan perlu di jauhi, sementara buat linda bosnya itu biasa saja yang
dapat diajak bergaul seperti orang biasa lainnya
6.
Gangguan Kejiwaan
Sebagai
gejala normal, ilusi berbeda dari halusinasi dan delusi, yaitu kesalahan
persepsi pada penderita gangguan jiwa. Penyandang gejala halusinasi visual
seakan-akan melihat sesuatu (cahaya, bayangan, hantu atau malaikat) dan ia
percaya betul bahwa yang dilihatnya adalah realita . sedangkan penyandang
halusinasi auditif seakan-akan mendengar suara tertentu yang diyakininya
swebagai realita. Gejala ini bisa
terdapat pada satu rang yang menyebabkan orang itu mengalami delusi, Delusi
merupakan keyakinan bahwa dirinya sesuatu yang tidak sesuai dengan realita.
Berpikir dan Belajar
Belajar adalah suatu
proses dimana suatu perilaku ditimbulkan diubah atau diperbaiki melalui
serentetan reaksi atau situasi yang terjadi. Proses belajar tidak hanya
meliputi perilaku motorik, tetapi juga berpikir dan emosi. Belajar bahasa
inggris atau belajar komputer merupakan kombinasi antara belajar berpikir dan
belajar motorik.
Dalam proses belajar yang melibatkan berpikir, ada beberapa
faktor yang dapat memengaruhi proses belajar itu:
1.
Waktu istirahat: kalau sedang mempelajari sesuatu yang
meliputi bahan yang banyak atau proses yang panjang, dan dilakukan
sebagian-sebagian, perlu disediakan waktu-waktu tertentu untuk jeda atau
beristirahat. Istirahat menghindari kejenuhan otak sehingga proses belajar itu
lebih efektif
2. Pengetahuan tentang materi yang
di pelajari secara menyeluruh: dalam mempelajari
sesuatu lebih baik kalau kita pelajari dulu materi atau bahan yang ada secara
keseluruhan, baru setelah itu pelajari secara seksama bagian-bagiannya.
3. Pemahaman terhadap materi yang
dipelajari: kalau kita mempelajari sesuatu, tanpa
pemahaman, maka usaha kita akan menemui banyak kesulitan. Misalnya, dua orang
menghafal puisi berbahasa inggris. Orang pertama mengerti bahasa inggris,
sedangkan orang kedua tidak dapa berbahasa inggris. Akibatnya, bahan yang sama
akan dihafal jauh lebih cepat oleh orang yang pertama.
4. Pengetahuan akan prestasi
sendiri: kalau tiap kali kita dapat mengetahui hasil prestasi
sendiri, yaitu mengetahui mana-mana yang masih salah (untuk diperbaiki) dan
mana-mana yang sudah betul, maka akan lebih mudah kita memperbaiki
kesalahan-kesalahan itu. Dengan kata lain, pengetahuan akan prestasi sendiri
akan mempercepat kita dalam mempelajari sesuatu.
5. Transfer: Pengetahuan
kita mengenai hal-hal yang pernah kita pelajari sebelumnya, bisa memengaruhi
proses belajar. Pengaruh ini yang disebut transfer.
Selanjutnya proses
berpikir itu sendiri dapat kita golongkan ke dalam dua jenis, yaitu berpikir
asosiatif dan berpikir terarah.
1. Berpikir Asosiatif, yaitu
proses dimana suatu ide merangsang timbulnya ide-ide lain. Ide-ide itu timbul
atau terasosiasi dengan ide sebelumnya secara spontan. Jenis berpikir ini
disebut juga jenis berpikir divergen (menyebar) atau kreatif, umumnya pada para
penemu, encipta dan sebagainya dalam bidang ilmu, seni, pemasaran dan
sebagainya.
Jenis-jenis berpikir
asosiatif adalah
·
Asosiasi
Bebas: satu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain,
yaitu hal apa saja tanpa ada batasnya.
·
Asosiasi
Terkontrol: satu ide akan menimbulkan ide mengenai
hal lain dalam batas-batas tertentu saja.
·
Melamun:
mengkhayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang
tidak realistis. Di sisi lain, banyak temuan-temuan penting dalam ilmu
pngetahuan yang di mulai dengan melamun.
·
Mimpi:
ide-ide tentang berbagi hal yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur.
·
Berpikir
Artistik: proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan
pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa
menghiraukan keadaan sekitar.
2.
Berpikir Terarah: proses berpikir yang sudah ditentukan
sebelumnya dan di arahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahan suatu
persoalan. Jenis berpikir seperti ini disebut juga berpikir konvergen. Berpikir
konvergen (memusat) biasanya dapat diukur dengan tes-tes IQ.
Penggunaan Simbol Dalam
Berpikir
Proses berpikir selalu
menggunakan simbol, yaitu segala sesuatu yang dapat mewakili segala hal di
lingkungan luar, maupun yang ada pada diri kita sendiri, dalam alam pikiran
kita. Kata-kata adalah simbol. Kata “saya” mewakili diri kita sendiri. Makin
banyak hal yang perlu diwakili otak kita, makin banyak kosakata yang harus
disimpan oleh otak kita. Di samping kata-kata, bentuk-bentuk simbol yang
digunakan manusia antara lain adalah angka-angka. Makna simbol bisa dalam
sekali dan tidak terbatas.
Strategi Berpikir
Ada dua macam strategi
umum dalam memeahkan persoalan, yaitu:
1.
Strategi menyeluruh: di sini persoalan dipandang sebagai suatu keseluruhan dan dicoba
dipecahkan dalam rangka keseluruhan itu.
2.
Strategi detailistis: di sini ersoalan
dibagi-bagi dalam bagian-bagian dan dicoba dipecahkan bagian demi bagian.
Dalam
strategi pertama, seringkali dapat dilihat hal-hal yang sama pada beberapa
bagian sehingga dapat diatasi sekaligus. Dengan demikian, cara ini lebih
efisien dan lebih cepat, dan terutama berguna kalau waktunya terbatas.
Kesulitan dalam
memecahkan persoalan dapat ditimbulkan oleh:
1.Set: cara
pemecahan persoalan yang berhasil biasanya cenderung dipertahankan pada
persoalan-persoalan yang berikutnya. Pola yang sama untuk memecahkan soal yang
berbeda disebut set.
2. Sempitnya Pandangan: seringkali
dalam memecahkan persoalan, seseorang hanya melihat satu kemungkinan jalan ke
luar. Tentu saja dia akan menemui banyak kegagalan. Kesulitan seperti ini
disebabkan oleh sempitnya pandangan orang tersebut sehingga dia tidak dapat
melihat adanya beberapa kemungkinan jalan keluar.
Ingatan
Mengingat adalah
perbuatan menyimpan hal-hal yang pernah diketahui untuk dikeluarkan dan pada
saat lain digunakan kembali. Pemikiran lain yang beraliran faali, menyatakan
ingatan adalah simpanan pola dari sambungan-sambungan antara neuron-neuron di
otak. Tanpa ingatan, maka hampir tidak mungkin seseorang mempelajari sesuatu.
Tiga Sistem Ingatan
Proses dari ingatan
telah dijelaskan yakni melalui pengodean, penyimpanan, dan pengeluaran
informasi. Sistem yang dibangun untuk ingatan agar sebuah informasi tetap
diingat adalah melalui ingatan sensori, ingatan jangka pendek, dan ingatan
jangka panjang.
Ingatan sensori
adalah
tempat sementara penyimpanan informasi. Informasi yang disimpan oleh individu
sama persis dengan apa yang diterima.
Ingatan jangka pendek
Di
bagian ini ingatan dapat bertahan selama 15-25 detik (Feldman, 2003) .
kapasitasnya terbatas, sekitar lima sampai sembilan unit informasi, sering
disebut”seven-plus-or-minus-two”. Unit tadi bisa berupa angka, huruf atau kata.
Bagian otak yang bekerja adalah korteks frontal (Foer, 2007).
Ingatan Jangka Panjang
Penyimpanan
informasi relatif permanen, walaupun terkadang sulit untuk dikeluarka kembali.
Kapasitasnya nyaris tak terbatas.
Cara Mengingat
Ada beberapa cara untuk
mengingat kembali hal-hal yang sudah pernah diketahui sebelumnya, yaitu:
1.
Rekoleksi,
yaitu menimbulkan kembali dalam ingatan suatu
peristiwa, lengkap dengan segala detail dan hal-hal yang terjadi di sekitar
tempat peristiwa itu dahulu terjadi.
2.
Pembaruan
ingatan, ingatan hanya timbul kalau ada hal yang merangsang
ingatan itu.
3.
Memanggil
Kembali Ingatan (recall), yaitu
mengingat kembali suatu hal, sama sekali terlepas dari hal-hal di masa lalu.
4.
Rekognisi,
yaitu
mengingat kembali sesuatu hal setelah menjumpai sebagian dari hal tersebut.
5.
Mempelajari
Kembali, terjadi kalau kita mempelajari sesuatu yang dulu
pernah kita pelajari. Maka untuk mempelajari hal yang sama untu kedua kalinya,
banyak hal-hal yang akan di ingat kembali sehingga tempo belajar dapat menjadi
jauh lebih singkat.
Lupa
Daya ingat kita
tidaklah sempurna. Banyak hal yang pernah diketahui, tidak dapat diingat
kembali, atau dilupakan. Ebbinghaus menyimpulkan bahwa proses lupa terjadi
secara mekanistik, dengan sendirinya, dan hanya dipengaruhi oleh waktu saja.
Adapun lupa bisa terjadi karena kondisi otak, khususnya
penyakit karena virus.
Ada empat cara untuk menerangkan proses lupa secara psikologis,
dan satu cara menerangkannya secara fisiologis.
1.
Apa yang telah kita ingat, disimpan
dalam bagian tertentu di otak. Kalau materi yang harus diingat itu tidak pernah
digunakan, maka karena proses metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu
akan terhapus dari otak kita dan kita tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi,
karena tidak di gunakan, materi itu lenyap sendiri.
2.
Mungkin pula materi itu tidak lenyap
begitu saja, melainkan mengalami perubahan secara sistematis, mengikuti
prinsip-prinsip Psikologi Gestalt sebagai berikut:
1.
Penghalusan:
materi
berubah bentuknya ke arah bentuk yang lebih simetris, lebih halus, dan kurang
tajam sehinga bentuknya yang asli tidak dapat diingat lagi.
2.
Penegasan,
bagian-bagian
yang paling mencolok dari suatu hal adalah yang paling mengesankan sehinggga
dalam ingatan bagian-bagian ini dipertegas, dan yang diingat hanya
bagian-bagian yang mencolok ini sedangkan bentuk keseluruhan tidak begitu
diingat.
3.
Asimilasi,
bentuk
yang mirip botol, misalnya kita ingat sebagai botol, sekalipun bentuk itu bukan
botol sama sekali. Perubahan materi di sini disebabkan karena kita cenderung
mencari bentuk yang ideal dan lebih sempurna.
3.
kalau kita mempelajari hal yang baru,
mungkin hal-hal yang sudah pernah kita ingat, tidak dapat diingat lagi. Dengan
kata lain, materi kedua menghambat ingatan tentang materi pertama. Hambatan
seperti ini disebut hambatan retroaktif. Sebaliknya
materi yang baru kita pelajari mungkin pula tidak dapat masuk kedalam ingatan
karena terhambat oleh adanya materi lain yang sudah terlebih dahulu dipelajari.
Hambatan seperti ini disebut hambatan
proaktif.
4.
Represi, yaitu melupakan peristiwa yang
mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikkan dan sebagainya, intinya semua
hal yang tidak dapat mengancam ego kita
agar kita tidak merasa bersalah atau berdosa.
5.
Jenis lupa yang lain adalah yang terkait
dengan fisiologi pada otak, termasuk di antaranya karena proses penuaan. Proses
fisiologi lain yang dapat menyebabkan lupa adalah trauma atau karena
penyalahgunaan narkoba. Amnesia, penyakit yang mengganggu ingatan terkini dari
individu. Gangguan terjadi pada hubungan ingatan jangka endek dan ingatan
jangka panjang.
Ingatan dan Kebudayaan
Dalam kehidupan
sehari-hari kita sering melihat atau mendengar individu yang bisa menghafal
sesuatu dengan sangat cepat. Orang-orang seperti ini tidak tumbuh dari
sembarang kelompok. Asumsinya, kelompok tempat individu tumbuh haaruslah yang
menekankan ingatan sebagai bagian dari usaha untuk bertahan hidup, sejarah dan
tradisi.
Emosi
Selain di pengaruhi
oleh pengindraan (persepsi) dan pikiran, perilaku manusia juga disertai oleh
perasaan atau emosi. Perasaan itu bisa positif atau negatif.
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan
dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak
jelas batasnya. Orang yang baru selesai makan enak dan kenyang, merasa puas dan
senang. Hal itu adalah warna afeksi yang positif. Sebaliknya, orang yang
kelaparan karena terlambat makan, cenderung cepat marah walaupun tidak ada
masalah yang serius. Penyebabnya adalah karena warna afeksinya sedang negatif.
Di lain kesempatan, warna afeksi juga dapat dikatakan sebagai emosi.
Definisi Emosi
Emosi banyak sekali
jenisnya. Seringkali tidak ada keseragaman dalam memberi nama pada jenis emosi
tertentu karena sangat tergantung pada banyak faktor, seperti perilaku yang
tampak (misalnya: menangis, tertawa), rangsangan yang memicu emosi tersebut
(benda yang menakutkan, ucapan yang memuji), reaksi fisiologik yang timbul,
watak individu itu sendiri, dan situasi sosial-budaya setempat.
Oleh karena itu, dapat di pahami bahwa emosi adalah suatu
konsep yang sangat majemuk sehinga tidak ada satupun definisi yang diterima
secara universal. Emosi sebagai reaksi penilaian (positif atau negatif) yang
kompleks dari sistem syaraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari
dalam dirinya sendiri.
Teori-teori Emosi
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya
emosi, yaitu pendapat nativistik (emosi adalah bawaan) dan pendapat empirik
(emosi adalah hasil belajar/pengalaman).
@ Teori
James-Lange
Emosi
yang dirasakan adalah persepsi tentang perubahan tubuh. Salah satu dari teori
paling awal dalam emosi dengan ringkas dinyatakan oleh Psikolog Amerika William
James: “Kita merasa sedih karena kita menangis, marah karena kita menyerang,
takut karena kita gemetar”.
Teori
ini dinyatakan di akhir abad ke-19 oleh James dan psikolog Eropa yaitu Carl
Lange, yang membelokkan gagasan umum tentang emosi dari dalam ke luar.
Diusulkan serangkaian kejadian dalam keadaan emosi:
(1) kita menerima
situasi yang akan menghasilkan emosi,
(2) kita bereaksi ke
situasi tersebut,
(3) kita memperhatikan
reaksi kita.
Persepsi
kita terhadap reaksi itu adalah dasar untuk emosi yang kita alami. Sehingga
pengalaman emosi – emosi yang dirasakan – terjadi setelah perubahan tubuh;
perubahan tubuh (perubahan internal dalam sistem syaraf otomatis atau gerakan
dari tubuh) memunculkan pengalaman emosional.
Agar teori ini berfungsi, harus ada suatu perbedaan antara perubahan internal dan eksternal tubuh untuk setiap emosi, dan individu harus dapat menerima mereka. Di samping ada bukti perbedaan pola respon tubuh dalam emosi tertentu, khususnya dalam emosi yang lebih halus dan kurang intens, persepsi kita terhadap perubahan internal tidak terlalu teliti.
Agar teori ini berfungsi, harus ada suatu perbedaan antara perubahan internal dan eksternal tubuh untuk setiap emosi, dan individu harus dapat menerima mereka. Di samping ada bukti perbedaan pola respon tubuh dalam emosi tertentu, khususnya dalam emosi yang lebih halus dan kurang intens, persepsi kita terhadap perubahan internal tidak terlalu teliti.
@ Teori
Cannon-Bard
Emosi
yang dirasakan dan respon tubuh adalah kejadian yang berdiri sendiri-sendiri.
Di tahun I920-an, teori lain tentang hubungan antara keadaan tubuh dan emosi
yang dirasakan diajukan oleh Walter Cannon, berdasarkan pendekatan pada riset
emosi yang dilakukan oleh Philip Bard. Teori Cannon-Bard menyatakan bahwa emosi
yang dirasakan dan reaksi tubuh dalam emosi tidak tergantung satu sarna lain,
keduanya dicetuskan secara bergantian. Menurut teori ini, kita pertama kali
menerima emosi potensial yang dihasilkan dari dunia luar; kemudian daerah otak
yang lebih rendah, seperti hipothalamus diaktifkan. Otak yang lebih rendah ini
kemudian mengirim output dalam dua arah:
1)
ke organ-organ tubuh dalam dan otot-otot
eksternal untuk menghasilkan ekspresi emosi tubuh,
2)
ke korteks cerebral, dimana pola buangan
dari daerah otak lebih rendah diterima sebagai emosi yang dirasakan.
Kebalikan
dengan teori James-Lange, teori ini menyatakan bahwa reaksi tubuh dan emosi
yang dirasakan berdiri sendiri-sendiri dalam arti reaksi tubuh tidak
berdasarkan pada emosi yang dirasakan karena meskipun kita tahu bahwa
hipothalamus dan daerah otak di bagian lebih bawah terlibat dalam ekspresi
emosi, tetapi kita tetap masih tidak yakin apakah persepsi tentang kegiatan
otak lebih bawah ini adalah dasar dari emosi yang dirasakan.
@ Teori
Kognitif tentang Emosi
Teori
ini memandang bahwa emosi merupakan interpretasi kognitif dari rangsangan
emosional (baik dari luar atau dalam tubuh). Teori ini dikembangkan oleh Magda
Arnold (1960), Albert Ellis (1962), dan Stanley Schachter dan Jerome Singer
(1962). Berdasarkan teori ini, proses interpretasi kognitif dalam emosi terbagi
dalam dua langkah:
1. Interpretasi
stimulus dari lingkungan
Interpretasi
pada stimulus, bukan stimulus itu sendiri, menyebabkan reaksi emosional.
Contohnya, jika suatu hari kamu menerima kado dari Wini dimana Wini adalah
musuh besarmu, maka kamu akan merasa takut atau bisa mengganggap bahwa kado
tersebut berbahaya. Tetapi akan berbeda ceritanya bila Wini adalah seorang
teman karibmu, maka kamu akan dengan senang hati menerima dan membuka kado
tersebut tanpa curiga. Jadi dalam teori kognitifpada emosi, informasi dari
stimulus berangkat pertama kali ke cerebral cortex, dimana akan diinterpretasi
pada pengalaman masa kini dan lamapau. Lalu pesan tersebut dikirim ke limbyc
system dan sistem saraf otonom yang kemudian akan menghasilkan arousl secara
fisiologis.
2.
Interpretasi stimuli dari tubuh yang dihasilkan dari arousal saraf otonom
Langkah kedua dalam teori kognitif pada emosi yaitu interpretasi stimulus dari dalam tubuh yang merupakan hasil dari arousal otonom. Teori kognitif menyerupai teori James-Lange teori menekankan pentingnya stimuli internal tubuh dalam mengalami emosi, tetapi sebenarnya itu berlanjut ke interpretasi kognitif dari stimuli, dimana hal tersebut lebih penting dari pada stimuli internal itu sendiri.
Langkah kedua dalam teori kognitif pada emosi yaitu interpretasi stimulus dari dalam tubuh yang merupakan hasil dari arousal otonom. Teori kognitif menyerupai teori James-Lange teori menekankan pentingnya stimuli internal tubuh dalam mengalami emosi, tetapi sebenarnya itu berlanjut ke interpretasi kognitif dari stimuli, dimana hal tersebut lebih penting dari pada stimuli internal itu sendiri.
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi, yaitu
pendapat nativistik (emosi adalah bawaan) dan pendapat empirik (emosi adalah
hasil belajar/pengalaman).
Beberapa kajian tentang emosi oleh para ahli :
Nama
Pakar
|
Emosi Dasar
|
Dasar pengambilan
Kesimpilan
|
Ekman,
Friesen, dan Ellsworth
|
Marah,enggan,berani,kecewa,hasrat,putus
asa,takut,benci,berharap,cinta, dan sedih
|
Hubungan
dengan kecenderungan-kecenderungan
|
Frijda
|
Hasrat,bahagia,minat,kejutan,kaget,dan duka
|
Bentuk
kesiapan bertindak
|
Gray
|
Gusar,terror,cemas, dan gembira
|
Bakat
|
Mowrer
|
Sakit, dan senang
|
Keadaan emosi yang tidak dipelajari
|
Watson
|
Takut,cinta,
dam gusar
|
Bakat
|
Weiner
dan Graham
|
Bahagia,
dan sedih
|
Atributsi
mandiri
|
Emosi
yang kuat pada umumnya diikuti oleh perubahan-perubahan pada tubuh :
1
|
Reaksi
elektris pada kulit
|
Meningkat bila
terpesona
|
|
2
|
Peredaran darah
|
Bertambah cepat bila
marah
|
|
3
|
Pupil mata
|
Membesar bila sakit atau marah
|
|
4
|
Buluroma
|
Berdiri kalau takut
|
|
5
|
Pernafasan
|
Bernafas panjang
kalau kecewa
|
|
Salah satu argumentasi yang melandasi teori-teori nativistik
adalah bahwa ekspresi emosi pada dasarnya sama saja di antara hewan dan
manusia, anak kecil maupun dewasa.
Di sisi lain, golongan empiris sangat mengutamakan hubungan
antara jiwa yang berpusat di otak dengan rangsangan-rangsangan dari lingkungan
melalui jaringan syaraf pada tubuh manusia.
Selanjutnya, ada tiga teori empirik klasik tentang emosi yang
didasarkan pada hubungan otak/syaraf dengan rangsangan darimlingkungan. Yang
pertama adalah Teori Somatik dari William James dan Carl Lange (akhir abad
ke-19), yang kemudian dikritik oleh Canon Bard, dan yang termodern adalah Teori
Kognitif tentang emosi yang disebut juga sebagai Teori Singer-Schachter.
Menurut teori James-Lange, sebuah emosi adalah reaksiterhadap
perubahan-perubahan dalam sistem fisiologi tubuh. Tetapi, Walter Canon dan
Philip Bard (1992) membuktikan bahwa reaksi motorik di timbulkan setelah takut.
Jadi, orang menjerit dan lari karena takut, bukan menjerit dulu baru takut.
Teori Canon-Bard ini pun masih belum dianggap baik, karena
penelitian-penelitian berikutnya oleh para penganut aliran psikologi kognitif
menemukan bahwa reaksi orang terhadap suatu rangsangan tertentu bisa
berbeda-beda.jadi, disini ada faktor interpretasi terhadap rangsangan yang
menyebabkan akan timbul emosi atau tidak, dan emosi apa yang akan timbul.
Jelaslah bahwa menurut Psikologi Kognitif, emosi sangat
tergantung pada pengalaman, dipelajari, dan empirik.
Emosi yang kuat pada umumnya diikuti perubahan-perubahan pada
tubuh, seperti:
1.
Reaksi elektris pada kulit: meningkat
bila terpesona
2.
Peredaran darah: bertambah cepat bila
marah.
3.
Denyut jantung: bertambah cepat bila
terkejut.
4.
Pernafasan: bernafas panjang kalau
kecewa.
5.
Pupil mata: membesar bila sakit atau
marah
6.
Liur: mengering kalau takut atau tegang
7.
Buluroma: berdiri kalau takut
8.
Pencernaan:mencret-mencret kalau tegang
9.
Otot: ketegangan dan katakutan
menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor).
10. Komposisi
darah: komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan emosional karena
kelenjar-kelenjar lebih aktif.
Takut
Takut adalah salah satu
bentuk emosi yang mendorong individu untuk menjauhisesuatu dan sedapat mungkin
menghindari kontakdengan suatu hal. Bentuk ekstrem dari rasa takut adalah takut
yang patologis, yang disebut phobia. Fobia adalah perasaan takut terhadap
hal-hal tertentu yang demikian kuatnya, meskipun tidak ada alasan yang nyata.
Rasa takut lain yang bisa merupakan indikasi kelainan kejiwaan
adalah kecemasan, yaitu rasa takut yang tak jelas sasarannya dan juga tidak
jelas alasannya. Kecemasan juga dapat terjadi pada orang normal. Biasanya
kecemasan yang normal ini disebut khawatir atau was-was.
Takut
adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons
terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit
atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut
adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.
Ketakutan
harus dibedakan dari kondisi emosi lain, yaitu kegelisahan, yang umumnya terjadi
tanpa adanya ancaman eksternal. Ketakutan juga terkait dengan suatu perilaku
spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah
hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan.
Perlu
dicatat bahwa ketakutan selalu terkait dengan peristiwa pada masa datang,
seperti memburuknya suatu kondisi, atau terus terjadinya suatu keadaan yang
tidak dapat diterima. Dalam sebuah artikel numerologi, sifat takut adalah
dasar. Orang yang bernomor dengan inisial B, K, T memiliki sifat dasar takut
dan cenderung khawatir atau cemas terhadap segala hal . Di lain pihak orang
dengan sifat dasar 2 ( takut , khawatir, cemas ) tidak menyukai perubahan dan
rasa takutnya bisa merusak keadaan yang telah ada .
Bahaya
kekhawatiran adalah pandangan terhadap keadaan dan persepsi yang tidak ia sukai
harus ia ikuti. Di lain pihak, sudah tidak ada kemampuan karena usia dan
kelemahan kecuali dengan dukungan dan bantuan orang lain dan pihak lain. Rasa
takut harus diatasi dengan menjalin dukungan dan hubungan, diplomasi dengan
pihak pihak yang dipercaya dan dibutuhkan. Membangun sebuah struktur kemampuan
dan manajemen antisipasi juga membangun sebuah struktur perisai.
Ketakutan
dapat diatasi dengan teknologi dan ilmu pasti. Kecepatan mobil sudah bisa
diprediksi kekuatannya dengan perhitungan disain mobil yang akurat dan tepat.
Halilintar dan Jet Coaster di tempat wisata telah terhitung dengan matang
sehingga menjamin tidak ada korban. Yang menarik adalah rasa takut yang
ditimbulkan oleh ketakutan menaiki gondola atau kereta gantung dan ketakutan
atas adanya ancaman harimau itu sama. Ketakutan akan krisis ekonomi dan
ketakutan atas jatuh dari ketinggian adalah hal yang sama.
Cemburu
Kecemburuan adalah
bentuk khusus dari kekhawatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakinan
terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari
seseorang. Seseorang yang cemburu selalu mempunyai sikap benci terhadap
saingannnya.
Kata
cemburu berasal dari Yunani yaitu zelos yang berarti persaingan dan menunjukkan
intensitas perasaan. Cemburu merupakan
reaksi terhadap ancaman yang dianggap terjadi dalam suatu hubungan (Pines,
1998). Salovey (1991) berpendapat cemburu adalah emosi yang dialami
ketika seseorang merasa hubungan dengan pasangan terancam dan mengakibatkan
hilangnya kepemilikan, biasanya ini akan timbul apabila ada pihak ketiga dalam
hubungan tersebut.
Mameros
(Duma, 2009) menyatakan cemburu merupakan reaksi yang terjadi pada hubungan
romantis yang sedang terancam oleh pihak ketiga, ancaman ini bersifat subyektif
dan nyata. Hal ini biasanya diikuti dengan rasa takut kehilangan pasangannya.
Menurut Surbakti (2009), cemburu timbul karena ingin memiliki sendiri
pasangannya dan perasaan terancam karena kehadiran orang lain dalam
hubungannya. Saat mengalami rasa cemburu biasanya sistem rasionalnya tidak
bekerja sebagaimana mestinya. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa cemburu adalah perasaan terancam oleh kehadiran pihak ketiga
dan takut kehilangan dalam suatu hubungan romantis.
Ciri-ciri cemburu
Hauck (1994)
menjelaskan bahwa ciri-ciri cemburu terhadap pasangan yaitu :
§ Rasa
rendah diri adalah menganggap diri terlalu kecil. Salah satu ukuran tidak
menguntungkan yang dipakai orang pencemburu untuk menilai kepantasan itu adalah
apakah seorang pencemburu dicintai atau tidak.
§ Mentalitas
Tuan-Hamba adalah sama seperti rasa rendah diri yang menjadi dasar rasa
cemburu, maka pribadi pencemburu pastilah mentalitas Tuan- Hamba. Jarang orang
pencemburu posesif mengalami letupan emosi secara diam- diam, kebanyakan orang
pencemburu menyatakan keluhannya dengan suara yang keras dan jelas.
§ Perilaku
merusak diri merupakan ciri khas seorang pencemburu dan posesif. Sebenarnya
pencemburu mampu dan menonjol dalam banyak bidang kehidupan. Tetapi apabila
menyangkut orang-orang yang dicintai, seorang pencemburu dapat melakukan
tindakan seperti orang terbelakang (retarded).
§ Kesulitan
Menerima tanggung jawab, hampir dapat dipastikan seorang pencemburu akan
menuduh pasangan menyebabkannya malang dengan menyiksa, seorang pencemburu
jarang memandang kenyataan pada persoalan yang sebenarnya.
§ Mementingkan
diri sendiri dan tidak matang adalah selalu mementingkan diri sendiri apabila
ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan cintanya, tidak peduli akan
perasaan siapapun kecuali perasaan sendiri, merasa bahwa orang lain tidak
berhak mengubah pikirannya.
§ Rasa
takut adalah merasa terancam oleh kejadian yang sama sekali tidak mengancam.
Seorang pencemburu persaingan dan kemungkinan orang yang dicintai terus menerus
menjadi obsesi.
Gembira
Gembira adalah ekspresi
dari kelegaan, yaitu perasaan terbebas dari ketegangan. Biasanya kegembiran
disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba dan kegembiraan biasanya
bersifat sosial, yaitu melibatkan orang-orang lain di sekitar orang yang sedang
gembira tersebut.
Marah
sumber utama kemarahan
adalah hal-hal yang mengganggu aktivitas untuk sampai ada tujuannya. Dengan
demikian, ketegangan yang terjadi dalam aktivitas itu tidak mereda, bahkan
bertambah. Untuk menyalurkan ketegangan-ketegangan itu individu yang
bersangkutan menjadi marah.
Kecerdasan Emosi
tiga teori tentang
emosi. Pertama, emosi itu bukan
bakat, melainkan bisa dibuat, dilatih, dikembangkan, dipertahankan dan yang
kurang baik dikurangi atau dibuang sama sekali. Kedua, emosi itu bisa diukur
seperti intelegensi. Hasil pengukurannya disebut EQ(Emotional Quotient). Dngan
demikian kita tetap dappat memonitor kondisi kecerdasan kita. Ketiga, dan ini yang terpenting, EQ
memegang peran lebih penting ketimbang IQ. Menurut Goleman, sumbangan IQ dalam
menentukan keberhasilan seseorang hanya sekitar 20-30% saja, selebihnya
ditentukan oleh EQ yang tinggi.
Lima kriteria orang yang mempunyai EQ tinggi, yaitu
(1) mampu mengenali
emosinya sendiri;
(2) mampu mengendalikan
emosinya sesuai dengan situasi dan kondisi;
(3) mampu menggunakan
emosinya untuk meningkatkan motivasinya sendiri; (4) mampu mengenali emosi
orang lain; dan
(5) mampu berinteraksi
positif dengan orang lain.
Motif
Motif
yaitu berarti gerakan atau suatu yang
bergerak. Dalam psikologi, istilah motifpun erat hubungannya dengan “gerak”
yaitu gerakan yang dilakukan oleh manusia atau disebut juga perbuatan atau
perilaku. Motif dalam psikologi berarti juga rangsangan, dorongan, atau
pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu perbuatan (action) atau perilaku (behavior).
Di samping istilah “motif”, dikenal pula dalam psikologi
istilah “motivasi”. Motivasi merupakan istilah yang lebih umum, yang merujuk
kepada seluruh proses gerakan itu, termasuk situasi yang mendorong, dorongan
yang timbul dalam diri individu, perilaku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut
dan tujuan atau akhir daripada tindakan atau perbuatan.
Ada beberapa pendapat mengenai apa sebenarnya motif itu. Salah
satu pendapat mengatakan bahwa motif itu merupakan energi yang terdapat dalam diri seseorang. Setiap perilaku menurut
Freud, didorong oleh suatu energi dasar yang disebut insting atau naluri.
Insting di bagi menjadi dua, yaitu (1) insting kehidupan atau insting seksual
atau libido, yaitu dorongan untuk
mempertahankan hidupdan keturunan, dan (2) insting kematian, yang mendorong perbuatan-perbuatan
agresif atau yang menjurus kepada kematian.
Pendapat lain mengatakan bahwa motivasi mempunyai fungsi
perantara pada orgnisme atau manusia untuk manusia itu dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Suatu perbuatan dimulai dengan adanya suatu kondisi dalam
diri individu yang dinamakan ketidakseimbangan, misalnya kepanasan. Terjadinya
ketidakseimbangan dalam diri individu karena terlalu banyak rangsang panas.
Keadaan tidak seimbang itu tidak menyenangkan bagi individu sehingga timbul kebutuhan
untuk meniadakan ketidakseimbangan itu, yaitu menurunkan suhu badan dengan
mencari tempat yang lebih sejuk.
Pada manusia, lingkaran motivasi bersifat dinamis, ini
disebabkan karena keseimbangan pada manusia seringkali merangsang
ketidakseimbangan baru yang lebih tinggi tingkatannya. Berbeda dengan lingkaran
motivasi pada hewan yang bersifat statis.
Motif adalah instansi terakhir bagi terjadinya perilaku.
Meskipun ada kebutuhan misalnya, tetapi kebutuhan ini tidak menciptakan motif,
maka tidak akan terjadi perilaku. Hal ini disebabkan karena motif tidak saja
ditentukan oleh faktor-faktor diri individu, seperti faktor-faktor biologis, tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor sosial dan kebudayaan.
Motif dibedakan menjadi
2 motif
1. Motif primer
PERTAMA Motif primer
ini disebut juga motif dasar ( basic motive ) atau biological drives ( karena
bersal dari kebutuhan biologis ).
Motif primer meliputi :
a. Dorongan fisiologis
( physiological needs ) yang eliputi :
·
Dorongan untuk makan, minum dan bernapas.
·
Dorongan untuk mengembangkan keturunan
·
Dorongan untuk beristirahat dan bergerak
dan sebagainya.
b. Dorongan umum dan
motif darurat
Walaupun
dasrnya motif ini telah ada pada sejak lahir namun bentukya swsuai dengan
perangsang tertentu berkembang karena dipelajari, yang termasuk motif ini
adalah :
·
Perasaan takut
·
Dorongan kasih saying
·
Dorongan igin tahu
·
Dorongan untuk melahirkan diri
·
Dorongan untuk menyerang
·
Dorongan untuk berusaha
·
Dorongan untuk mengejar
2. Motif sekunder
Motif ini sering
disebut juga motif yang disyaratkan secara social , karena manusia hidup dalam
lingkungan social bersama manusia, sehingga motif ii disebut juga motif social.
Dalam perkembangan
motif ini dipengaruhi oleh tinggkat peradaban, adat istiadat dan nilai – nilai
yang berlaku dalam masyarakat tempat individu itu berada. Dalam pengelolaan ini
termasuk pada antara lain :
a. Dorongan untuk
belajar
b. Dorongan untuk
mengejar suatu kedudukan
c. Dorongan berprestasi
d. Moti objective
e. Dorongan ingin
diterima , dihargai persetujuan, merasa aman.
f. Dorongan untuk
dikenal.
KEDUA, pengelompokan
motif menurut woodword dan marquis. Motif itu dapat dibedakan 3 macam, yaitu
sebagai berikut :
a.
Motif kebutuhan organis
b.
Motif darurat
c.
Motif objective
KETIGA pengelompokan
motif berdasakan atas jalarannya. Pengelompokan ini dapat dibedakan kedalam 2
bagian yaitu :
1.
Motif instrinsik, yaitu motif yang tidak
usah dirangsang dari luar, karena dalam dirinya individu telah ada dorongan
itu.
2.
Motif ekstrinsik, yaitu motif yang
disebabkan oleh pengaruh dari rangsangan dari luar
KEEMPAT, pengelompokan
motif berdasarkan isi atau persangkutpautnya, yaitu sebagai berikut :
1.
Motif jasmiah, seperti : reflex,
instink, dan sebagainya.
2.
Motif rohaniah, yaitu kemaunan.
KELIMA, motif ini dari
jenjang yang paling rendah ke janjang paling tinggi adalah berikut :
1.
Kebutuhan biologis
2.
Kebutuhan rasa aman
3.
Kebutuhan social
4.
Kebutuhan akan pemuas harga diri
5.
Kebutuhan aktualisasi diri.
pengukuran motif
motif
ini merupakan benda yang secara langsung dapat diamati, tetapi merupakan suatu
kekuatan dalam diri individu yang bersifat abstrak.
beberapa usaha untuk
membangkitkan atau memperkuat motif.
1.
menciptakan situasi kompetensi yang
sehat
2.
adakan pacemaking, usaha untuk merinci
dalam jangka panjang dan jangka pendek.
3.
mengimformasikan tujuan yang jelas.
4.
memberikan ganjaran, berupa hadiah,
seperti pujian, piagam dan fasilitas.
5.
memberikan kesempatan untuk sukses.
Frustasi
Frustasi adalah suatu
keadaan emosi yang disebabkan oleh tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan
akibat adanya hambatan atau rintangan dalam usaha mencapai kepuasan atau tujuan
tersebut.
Di samping istilah frustasi yang banyak dipakai orang dalam
psikologi ada istilah lain, yaitu “deprivasi relatif”. Istilah ini dikemkakan
oleh T.R. Gurr yang mengemukakan bahwa frustasi saja tidak selalu memicu reaksi
yang serius.
Dengan dmikian, deprivasi relatif adalah salah satu jenis
frustasi yang disertai dengan kesenjangan antara kenyataan dan harapan yang
makin lama makin besar, dan pada suatu titik akan menimbulkan perasaan kecewa
bercampur putus asa yang begitu mendalam sehingga menimbulkan kemarahan yang
sangat kuat. Salah satu ciri khas deprivasi relatif dibandingkan dengan
frustasi lainnya adalah bahwa faktor subjektif pada deprivasi relatif sangat
dominan.
Ada beberapa hal yang dapat merupakan sumber frustasi. Berbagai
sumber frustasi menimbulkan pula berbagai jenis frustasi yang dapat kita
golongkan sebagai berikut.
1.
Frustasi
Lingkungan, yaitu frustasi yang disebabkan oleh
halangan atau rintangan yang terdapat dalam lingkungan. Misalnya seorang ingin
segera pulang tetapi tidak bisa karena semua bus penuh atau sedang hujan lebat.
2.
Frustasi
Pribadi, yaitu frustasi yang tumbuh dari ketidakmampuan
orang itu sendiri dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain, frustasi pribadi ini
terjadi karena adanya tingkatan aspirasi dengan tingkatan kemampuannya.
3.
Frustasi
Konflik, yaitu frustasi yang disebabkan konflik dari berbagai
motif dalam diri seseorang. Dengan adanya motif-motif yang saling bertentangan,
maka pemuasan dari salah satunya akan menyebabkan frustasi bagi yang lain.
Frustasi konflik ini dapat timbul dari tiga macam konflik yang berbeda:
a.
Konflik
Mendekat-mendekat, yaitu individu dihadapkan kepada dua
atau lebih tujuan yang sama-sama mempunyai nilai positif, di mana individu
harus memilih satu dari beberapa pilihan tersebut.
b.
Konflik
Mendekat-Menjauh, di mana objek yang menjadi tujuan
mempunyai nilai yang positif dan negatif sekaligus.
c.
Konflik
Menjauh-Menjauh, yaitu individu dihadapkan pada dua
pilihan yang sama-sama harus dihindari.
Reaksi
seseorang terhadap frustasi dapat berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh adanya
perbedaan-perbedaan pada struktur psikis maupun pisik, serta perbedaan sosial
kultural di mana orang itu hidup. Individu dalam ikhtiarnya mengatasi keadaan
frustasi ini dapat menempuh beberapa cara, yaitu:
1.
Bertindak
Eksplosif
Semua energi yang
terdapat dalam diri individu diledakkan atau dihabiskan dengan jalan melakukan
perbuatan-perbuatan atau ucapan-ucapan yang biasanya bersifat eksplosif.
Setelah “meletus”, maka biasanya individu merasa ketegangan dalam dirinya
berkurang atau menghilang.
2.
Melakukan
Kompensasi
Dalam melakukan
kompensasi, orang berusaha untuk menutupi kekukarangan atau kegagalannya dengan
cara-cara lain yang dianggapnya memadai atau lebih baik. Energi dan motif 1
dapat diarahkan untuk memperkuat motif 2 sehingga tujuan 2 dapat dicapai atau
berakhir dengan suatu penyelesaian yang lebih baik. Dngan demikian individu
dapat merasakan kepuasan yang lebih besar, yang dapat merupakan imbangan atau
kompensasi daripada frustasi yang dialami sebelumnya.
3.
Dengan
Cara Introversi
Individu yang tidak
dapat mencapai tujuannya dalam dunia realitas, ia menempuh jalan dengan menarik
diri dan masuk dalam dunia khayalan. Dalam dunia khayal ia membayangkan dirinya
seolah-olah sudah berhasil mencapai tujuanya. Proses ini disebut introversi dan
salah satu yang sering dijumpai adalah melamun. Ada kalanya hasil lamunan ini
berlanjut pada proses kreatif yang produktif, yang akhirnya menghasilkan puisi
atau prosa yang indah. Di sisi lain introversi bisa menimbulkan waham atau delusi yang sering kali diikuti halusinasi.
4.
Sublimasi
Individu dalam hal ini
mengalihkan tujuannya pada tujuan alternatif, yang memiliki sifat-sifat yang
kurang lebih sama dengan tujuan awal. Akan tetapi, di samping itu tujuan
alternatif tersebut mempunyai nilai sosial dan nilai etis yang lebih tinggi.
5.
Reaksi
Psikopatis
Rintangan yang
menghalangi tercapainya suatu tujuan dapat terdiri atas beberapa hal yang
bersifat fisik-material, namun bisa juga berupa rintangan yang terdiri dari
larangan-larangan yang berdasarkan sopan santun, adat-istiadat, dan sebagainya.
Ada segolongan individu yang kurang mau memerhatikan atau sama sekali tidak
menghiraukan norma-norma sosial itu. Golongan individu yang cenderung bertindak
melanggar aturan dalam mengatasi frustasinya disebut individu yang bereaksi
secara psiopatis. Reaksi psikopatis
banyak terjadi di jalan raya.
6.
Simbolisasi
Dalam keadaan di mana
individu tidak berhasil menembus memecahkan rintangan, maka ia dapat berbuat
seolah-olah telah berhasil mencapai tujuannya. Proses ini disebut simbolisasi, sedangkan benda yang
digunakan sebagai pengganti disebut substitusi.
Dalam menghadapi keadaan yang menimbulkan frustasi, tidak semua
individu menghayatinya secara sama. Ketegangan yang ditimbulkan berbeda
tergantung kepada derajat toleransinya.
Jenis Motif
Untuk lebih mudah
mempelajari berbagai motif, maka para sarjana membagi-bagi macam-macam motif ke
dalam beberapa golongan. Salah satu penggolongan didasarkan pada kebutuhan
primer dan kebutuhan sekunder. Termasuk ke dalam kebutuhan primer adalah
kebutuhan-kebutuhan badaniah, misalnya kebutuhan makanan dan minuman, seks,
tidur dan sebagainya. Jadi, kebutuhan primer adalah kebutuhan bawaan yang tidak
di pelajari atau disebut juga kebutuhan fisiologis. Kebutuhan sekunder adalah
kebutuhan sosial, misalnya kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dari
orang lain, harga diri dan sebagainya. Kebutuhan sekunder ini tumbuh melalui
pengalaman dan proses belajar.
Motivasi dapat digolong-golongkan ke dalam beberapa jenis
mengikuti suatu hierarki (jenjang) tertentu. Artinya, motivasi dari kebutuhan
yang lebih rendah merupakan motivasi yang mendesak sifatnya sehingga perlu
diprioritaskan. Tetapi, kalau kebutuhan-kebutuhan pada tingkat yang rendah
telah terpenuhi, maka akan timbul kebutuhan pada tingkat-tingkat yang lebih
tinggi yang akan memotivasi perilaku dan kebutuhan yang lebih rendah ini tidak
lagi mendorong tingkah laku. Golongan-golongan tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Kebutuhan biologis dan fisiologis:
kebutuhan akan udara, makanan, seks dan lainnya (biological)
2.
Kebutuhan akan perasaan aman (safety need).
3.
Kebutuhan akan cinta kasih dan kebutuhan
untuk memiliki dan dimiliki (need for
socialization).
4.
Kebutuhan akan penghargaan (self-esteem).
5.
Kebutuhan akan kebebasan tingkah laku
tanpa hambatan dari luar untuk menjadikan diri sendiri sesuai dengan citra dirinya
sendiri (self-actualization).
Pembagian motif yang
lain adalah menurut David McClelland yang terdiri atas (1) kebutuhan untuk
berkuasa (need for power), (2)
kebutuhan untuk berprestasi (need for
achievement), dan (3) kebutuhan untuk mencari tteman, mencari pegangan pada
orang lain (need for affiliation).
Insentif
Hal yang erat
hubungannya dengan motif adalah insentif. Insentif adalah kondisi atau situasi
di luar diri individu yang dapat meningkatkan atau menghambat suatu motif.
Insentif ini penting sekali artinya terutama dalam dunia pendidikan dan dunia
usaha. Karena sifatnya yang merupakan kondisi di luar diri individu, maka
insentif mudah di kontrol oleh pihak-pihak penguasa dengan tujuan untuk
merangsang atau menghambat motif-motif tertentu pada orang yang dibina,
dididik, atau dilatihnya.
Sesuai dengan fungsinya, maka insentif dapat dibagi kedalam dua
jenis, yaitu:
1.
Insentif yang meningkatkan motif, disebut
insentif positif. Misalnya, piala
kejuaraan merupakan insentif positif bagi olahragawa yang berlomba sehingga
masing-masing berusaha sekuat-kuatnya.
2.
Insentif yang menghambat motif, disebut
insentif negatif. Misalnya hukuman
yang diberikan kepada seorang pencuri dapat menghambat motif orang tersebut
untuk mencuri lagi.
Agar
insentif ini dapat diberikan secara efektif, maka terlebih dahulu perlu di
ketahui struktur kepribadian dan motif orang yang akan diberi insentif
tersebut.
BAB 4
KEKHUSUSAN INDIVIDUAL:
(Intelegensi dan Kepribadian)
Tiap individu
(manusia maupun hewan) mempunyai kekhususannya sendiri yang membedakannya
dengan individu-individu lainnya, sudah lama disadari orang. Kalau kita pandangi orang-orang yang berada
disekitar kita, maka secara sepintas lalu saja sudah akan nampak bahwa mereka
itu berlain-lainan satu sama lain. Ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang
tampan, ada yang cantik, ada yang lemah dan sebagainya.
Dari contoh di atas dapat kita lihat bahwa
perbuatan yang berintelegensi adalah perbuatan yang menuntut kemampuan yang
lebih dari pada sekedar kemampuan untuk persepsi biasa. Kemampuan itu adalah
kemampuan untuk mengelolah lebih jauh lagi tentang intelegensi.
Intelegensi
Banyak
sekali definisi yang mengemukakan tentang intelegensi, namun satu sama lain
berbeda sehingga tidak memperjelas persoalan. Edourd Claparade (1873-1940)dan
William Stern (1871-1938) seorang pakar psikologi penemu konsep IQ misalnya
mendefinisikan intelegensi secara sangat fungsionala dan terbatas, yaitu :
intelegensi adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi
baru. Dilain pihak seorang psikologi gestalt mengatakan bahwa intelegensi
adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian.
Perdebatan
tentang definisi ini tidak kunjung selesai. Pada tahun 1990-pun para
pakar mencoba sepakat dengan definisi intelengensi yang masih terdapat versi
dua kelompok yaitu : Mainstream Science on Intelligensi (MSI) dan versi
American Psychological Association (APA).
Versi
MSI memberikan definisi tentang intelegensi adalah suatu kemampuan yang sangat
umum yang antara lain melibatkan kemampuan akal, merencana, memecahkan masalah,
berfikir abstrak, memahami ide-ide yang kompleks, cepat belajar dan belajar
dari pengalaman. Dalam versi APA definisi MSI itu dianggap sebagai hanya
sekedar sebuah daftar dari berbagai kemampuan yang diidentifikasikan. Oleh
karena itu, versi APA tidak memberikan suatu definisi, melainkan hanya
menyebutkan tentang perbedaan antar individu dalam memahami suatu ide,
lingkungan, masalah, dan sebagainya.
Dengan
demikian, intelegensi itu adalah kemampuan untuk mengolah lebih jauh lagi
hal-hal yang kita amati. Kemampuan ini terdiri dari dua jenis yaitu kemampuan
khusus dan kemampuan umum. Kemampuan khusus adalah kemampuan dalam
bidang-bidang tertentu. Disamping kemampuan khusus, terdapat kemampuan umum.
Kemampuan umum ini mendasari kemampuan-kemampuan khusus, tetapi ia bukan
merupakan kumpulan, gabungan, atau penjumlahan-penjumlahan kemampuan khusus
belaka, melainkan merupakan kualitas tersendiri.
Teori
lama mengatakan bahwa tingkat perbedaan kecerdasan itu sudah bawaan setiap
lahir. Di samping orang-orang yang ditakdirkan pandai, terdapat pula
orang-orang yang bodoh sejak lahirnya, sedangkan yang terbanyak adalah orang
yang bertaraf rata-rata. Menyadari hal ini, sejak lama sudah diusahakan dalam
psikologi untuk mengukur taraf intelegensi pada manusia. Setelah melalui
beberapa eksperimen terbukti bahwa mengukur taraf intelegensi itu dapat
diperkirakan melalui pengukuran terhadap beberapa aspek kemampuan khusus
tertentu.
Yang
sekarang menjadi perdebatan, para pakar psikologi adalah apakah IQ
masing-masing individu benar-benar diperoleh sejak lahir dan tidak bisa diubah
lagi (factor nature) atau justru lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan,
social, pendidikan dan kebudayaan.
Ada
dua jenis intelegensi yakni fluid intelegenci yaitu : kemampuan proses
informasi secara cepat, hubungan berfikir dan ingatan dalam bentuk analogi,
mengingat rangkaian angka dan kategorisasasi. Sementara crystallized
intellegenci yaitu : akumulasi informasi, ketrampilan-ketrampilan dan strategi
yang telah dipelajari selama hidup dan dapat diterapkan untuk memecahkan
masalah.
Faktor pembawaan
Perdebatan
antara kaum nativis dan kaum empiris dalam ilmu psikologi, tidak terbatas pada
intelengensi saja. Cesare Lombrosso terkenal dengan teorinya “ deliquento nato”
yaitu bahwa penjahat sudah mempunyai watak jahat sejak lahirnya, yang tercermin
pada bentuk tengkoraknya (fisiognami). Tentu teori ini sudah tidak relevan
lagi, karena sekarang kejahatan adalah hasil pengaruh berbagai factor
pada diri individu maupun lingkungannya (keadaan social, ekonomi, pendidikan,
factor kesempatan ).
Ilmu-ilmu
yang mempercayai sifat/watak/nasib sudah ditentukan sejak lahir antara lain
astrologi, frenologi (dengan mengukur tengkorak kepala) palmistry (melalui
garis-garis tangan). Ilmu semacam ini seakan-akan ilmiah padahal tidak ilmiah.
Itulah sebabnya disebut sebagai ilmu semu.
Intelegensi
sebagai isu tak hanya dilihat sebagai ilmu pengetahuan saja, bahkan dipakai
juga dalam isu-isu social. Intelegensi dipakai oleh kelompok-kelompok politik
tertentu untuk mendiskreditkan kelompok lain, yang biasanya minoritas.
Faktor lingkungan dan kebudayaan
Ada
pendapat atau aliran yang percaya bahwa sifat manusia (termasuk kecerdasan dan
kepribadian lainnya sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Pandangan ini
disebut empirisme.
Seorang
tokoh empirisme John b. Wanston mengatakan karena jiwa manusia waktu lahir
masih bersih, maka untuk menjadikannya manusia itu sesuai dengan yang
dikehendaki, kepada orang itu tinggal diberikan lingkungan dan
pengalaman-pengalaman yang diperlukan. Jadi manusia dapat dibentuk sesuai
dengan lingkungan yang ditempati.
Interaksi bawaan dan
lingkungan : konvergensi
Intelegensi adalah hasil dari kontribusi
lingkugan dan bawaan. Dari sudut pandang bawaan para peneliti beranjak pada
penelitian terhadap otak. Temuan ini dikuatkan oleh penelitian dengan
menggunakan metode pemindaian otak dikenali beberapa area otak yang terkait
dengan intelegensi. Contohnya anak dosen akan menjadi dosen juga, membuktikan
bahwa lingkungan pun ada pengaruhya.
Jadi,
lingkungan bisa berpengaruh terhadap perkembangan intelegensi seseorang, tetapi
dalam batas-batas bawaan yang ada.
Pembentukan kepribadian
Istilah
bahasa inggris untuk kepribadian adalah personality yang berasal dari kata
“persona” yang artinya adalah topeng. Kepribadian (personality) adalah sebuah
konsep yang sukar dimengerti dalam psikologi, meskipunistilah itu digunakan
sehari-hari. Karena banyak definisi tantang kepribadian maka definisi yang
paling mudah dipahami adalah definisi dari Gordon W. Allport yaitu kepribadian
adalah organisasi dinamis dalam diri individu yang terdiri dari system-sistem
psiko-fisik yang menetukan cara penyesuain diri yang unik dari individu
tersebut terhadap lingkungannya.
Dari
definisi diatas terdapat kata-kata kunci yaitu system psikis (pikiran,
perasaan, minat, motivasi, dan sebagainya) dan system fisik (tinggi badan,
warna kulit, system syaraf, pencernaan, gemuk, kurus dan lain-lain). Organisasi
dinamais yang menggabungkan semua system psiko-fisik tadi dalam suatu proses
kerja yang kait mengait dan terus berubah dari waktu ke waktu sebagi upaya penyesuaian
diri individu tersebut terhadap lingkungannya dan secara khusus.
Kepribadian
selalu berubah-rubah sesuai dengan kondisi lingkuangannya. Salah satu teori
sifat (trait) yang sekarang popular dikalangan psikologi adalah teori lima
dimensi model kepribadian atau sering disebut teori 5 besar. Teori ini
menyatakan ada lima sifat dasar atau inti manusia yaitu:
1.
Keterbukaan pada
pengalaman dan gagasan-gagasan baru Vs tradisional dan berorientasi semata-mata
pada ritinitas.
2.
Memenuhi tugas,
berencana, teratur Vssantai, spontan, tidak dapat diandalkan.
3.
Ceria dan berorintasi
pada rangsangan yang ada diluar Vs pendiam dan menghindari stimulus dari
luar.
4.
Bersifat social,
bersahabat, cinta damai, Vs agresif, dominan, tidak setuju pada orang lain.
5.
Reaktif secara
emosional, mudah terpicu emosi negatifnya Vs tenang, terkendali, optimis.
Pengalamn-pengalaman
yang umum maupun yang khusu member pengarih yang berbeda-beda pada
masing-masing individu. Individu itu pun merencanakan pengalaman-pengalaman
tersebut secara berbeda-beda pula, sampai akhirnya ia membentuk dalam dirinya
suatu kepribadian permanen. Proses intergasi pengalaman-pengalaman ke dalam
kepribadian yang makin lama makin menjadi dewasa disebut proses pembentukan
identitas diri.
Sebelum
sampai kepada pembentukan kepribadian yang matang, dewasa, permanen, proses
pembentukan diri harus melalui beberapa tingkatan. Salah satu tingkat yang
harus dimulai adalah imitasi (keinginan untuk meniru orang lain) yang
dilanjutkan dengan identifikasi (dorongan untuk menjadi identik dengan orang
lain).
Kepribadian
seseorang itu diekspresikan kedalam beberapa kateristik sehingga dengan
memahami karekteristik-krekteristik tersebut, kita dapat mengerti pula
kepribadian orang yang bersangkutan. Karekteristik yang dapat dikenali yaitu :
1. Penampilan
fisik, misalnya tubuh yang besar, wajah yang tampan, dan lain-lainnya semua
bisa menggambarkan diri seseorang atau yang bersangkutan.
2. Temperamen:
yaitu suasana hati yang menetap dank has pada orang yang bersangkutan, misalnya:
pemurung, pemarah, periang dan sebagainya.
3. Kecerdasan
dan kemampuan: termasuk kreativitas-kreativitasnya mengikuti teori multiple
intelligence, kita bisa mengidentifikasi kemampuan yang menonjol pada orang
yang bersangkutan.
4. Arah
minat dan pandangan mengenai nilai-nilai:hobi, pekerjaan-pekerjaan yang selalu
dilakukan, serta kebiasaan sehari-hari merupakan indicator terbia untuk
menggambarkan arah minat dan pandangan moral seseorang.
5. Sikap
social: hal ini bisa diukur dengan beberapa psikotes, namun bisa juga digali
dengan wawancara mendalam atau observasi dalam proses simulasi, games, atau
diskusi.
6. Kecendurungan-kecenderungan
dalam motivasinya: hal inipun dapat diketahui melalui beberapa tes dan
wawancara serta observasi selama proses pemeriksaan..
7. Cara-cara
pembawaan diri: bentuknya misalnya sopan santun, banyak bicara, kritis dan
sebagainya.
8. Kecenderungan
patologis: merupakan tanda-tanda adanya gangguan jiwa yang serius.
Sekalipun
kepribadian itu unik, yaitu berbeda-beda pada tiap-tiap orang, tetapi ada pakar
psikologi yang tetap berusaha menggolongkan kepribadian dalam beberapa jenis.
Penggolongan menirut Ernst Kretscmer didasari pada cirri-ciri fisik dan
berorientasi pada penyakit-penyakit kejiwaan ada tiga macam tipe : tipe
Asthenis, tipe Atlenis, tipe piknis.
Bapak
ilumu kedoteran, Hiprokates berpendapat bahwa kepribadiaan seseorang
dipengaruhui oleh proses-proses faali dalam tubuh, terutama oleh bekerjamay
cairan-cairan dalam tubuh yaitu : tipe sanguinis, tipe phlegmatic, melankolik,
kholerik.
Tipologi
yang lebih modern dilakukan antara lain oleh Carl Gustav Jung yang mendasarkan
penggolongannya pada perilaku atau karektiristik psikologis saja yaitu : tipe
introvert, tipe ekstrovet, tipe ambivert.
Pembentukan identitas diri
Mengenai
pengalaman-pengalaman yang ikut membentuk kepribadian, kita dapat membedakannya
dalam dua golongan :
1.
Pengalaman yang umum
Yaitu
yang dialami oleh tiap-tiap individu
dalam kebudayaan tertentu. Pengalaman ini erat hubungannya dengan fungsi dan
peranan seseorang dalam masyarakat. Misalnya, sebagai laki-laki atau wanita
seseorang mempunyai hak dan kewajiban tertentu. Beberapa dari peran itu dipilih
sendiri oleh orang yang bersangkutan tetapi masih tetap terikat pada norma-norma masyarakat, misalnya
jabatan atau pekerjaan. Meskipun demikian, kepribadian seseorang tidak dapat
sepenuhnya diramalkan atau dikenali hanya berdasarkan pengetahuan tentang
struktur kebudayaan dimana orang itu hidup. Hal ini disebabkan karena :
a. Pengaruh
kebudayaan terhadap seseorang tidaklah sama karena medianya (orang tua,
saudara, media massa dan lain-lain) tidaklah sama pula pada setiap orang.
Setiap orang tua atau media massa mempunyai pandangan dan pendapatnya sendiri
sehingga orang-orang yang menerima pandangan dan pendapat yang berbeda-beda itu
akan berbeda-beda pula pendiriannya.
b. Tiap
individu mempunyai pengalaman-pengalaman yang khusus, yang terjadi pada dirinya
sendiri.
2.
Pengalaman yang khusus
Yaitu
yang khusus dialami individu sendiri. Pengalaman ini tidak tergantung pada
status dan peran orang yang bersangkutan dalam masyarakat.
Pengalaman-pengalaman yang umum maupun yang khusus di atas memberi pengaruh
yang berbeda-beda pada tiap
individu-individu itu pun merencanakan pengalaman-pengalaman tersebut
secara berbeda-beda pula sampai akhirnya ia membentuk dalam dirinya suatu
stuktur kepribadian yang tetap (permanen). Proses integrasi
pengalaman-pengalaman ke dalam kepribadian yang makin lama makin dewasa,
disebut proses pembentukan identitas diri.
Proses
pembentukan identitas diri harus melalui berbagai tingkatan. Salah satu tingkat
yang harus dilalui adalah identifikasi, yaitu dorongan untuk menjadi identik
(sama) dengan orang lain, misalnya dengan ayah, ibu, kakak, saudara, guru, dan
sebagainya. Pada masa remaja, tahap identifikasi ini dapat menyebabkan
kebingungan dan kekaburan akan peran sosial, karena remaja-remaja cenderung
mengidentifikasikan dirinya dengan beberapa tokoh sekaligus, misalnya dengan
ayahnya, bintang film kesayangannya, tokoh politik favoritnya dan sebagainya.
Kalau kekaburan akan peranan sosial ini tidak dapat dihapuskan sampai remaja
itu menjadi dewasa, maka besar kemungkinannya ia akan menderita
gangguan-gangguan kejiwaan pada masa dewasanya. Karena itu penting sekali
diusahakan agar remaja dapat menentukan sendiri identitas dirinya dan
berangsur-angsur melepaskan identifikasinya terhadap orang-orang lain untuk
akhirnya menjadi dirinya sendiri.
Ekspresi
Kepribadian
Telah
dijelaskan sebelumnya bahwa arti kepribadian sangat luas. Oleh karena itu, jika
kita hendak menggambarkan atau menguraikan kepribadian seseorang, kita harus
membagi-bagi kepribadian tersebut dalam beberapa karakteristik yang dapat
dilihat atau diukur. Dengan kata lain, kepribadian seseorang itu diekspresikan
kedalam beberapa karakteristik sehingga dengan memahami
karakteristik-karakteristik tersebut, kita dapat mengerti pula kepribadian
orang yang bersangkutan.
Sekalipun tidak semua pakar sependapat tetapi
karakteristik-karakteristik yang dianggap terpenting untuk mengenali
kepribadian adalah:
1.
Penampilan
fisik : tubuhyang besar, wajah yang tampan, pakaian yang rapi, atau tubuh yanhg
kurus sehat, wajah yang kuyu , pakaian kusut, semuanya menggambarkan
kepribadian dari orang yang bersangkutan. Juga bisa dilihat apakah ia berwibawa
dan percaya pada diri sendiri atau kurang semangat dan mempunyai perasaan
rendah diri dan sebagainya.
2.
Tempramen
: yaitu suasana hati yang menetap dan khas pada orang yang bersangkutan,
misalnya: pemurung, pemarah, periang, dan sebagainya.
3.
Kecerdasan
dan kemampuan: termasuk kreativitasny: mengikuti teoti Multiple Intelligence.
Kita bisa mengidentifikasiakan kemampuan yang menonjol pada orang yang
bersangkutan.
4.
Arah
Minat dan Pandangan Mengenai Nilai-nilai: hobi, pekerjaan yang selalu
dilakukan, serta kebiasaan sehari-hari merupakan indicator terbaik untuk
menggambarkan arah minat dan pandangan moral seseorang.
5.
Sikap
Sosial: hal ini bisa diukur dengan beberapa psikotes atau skala seperti MPPT,
EPPS, The big Five Test, atau tes-tes proyeksi. Namun, bisa digali juga dari
wawancara mendalam atau observasi dalam proses simulasi, games, atau diskusi.
6.
Kecenderungan-kecenderungan
dalam motivasinya: hal ini pun dapat diketahui melalui beberapa tes dan
wawancara serta observasi selama proses pemeriksaan.
7.
Cara-cara
Pembawaan Diri: dalam bentuk misalnya sopan santun, banyak bicara, kritis,
mudah bergaul, dan sebagainya. Cara pembawaan diri ini terlepas dari isi atau
materi yang dibawakan. Seseorang dapat berbicara tentang berita kematian atau
soal-soal perdaganagan atau mengundang seseoarng ke suatu perjamuan , atau
menegur kesalahan seseorang, tetapi semuanya dilakukan dengan cara yang sopan
atau justru sebaliknya.
8.
Kecenderungan
Patologis: merupakan tanda-tanda adanya gangguan jiwa yang serius (bukan
sekedar stress atau depresi karena frustasi). Memang, yang paling tepat untuk
mendiagnosis gangguan jiwa adalah dokter spesialis kejiwaaan (SpKJ) atau
psikolog klinis. Tetapi, mata seorang psikolog non-klinis, atau asesor, bahkan
awam yang waspada pun akan mampu mengidentifikasikan adanya gangguan jiwa berat
seperti skhiozophrenia (berbicara dan berperilaku aneh, ngawur tanpa arah (bizarre),
ada halusinasi, dan sebagainya). Bisa juga autism (hiperaktif, tetapi
tidak ada kontak dengan orang lain, tidak bisa diajak bercakap-cakap lebih suka
dengan kegiatan sendiri yang bersifat mengulang-ngulang dan lain-lain.
Jenis Kepribadian
Menurut
Galen, seorang ahli fisiolog Romawi yang hidup di
abad ke-2 Masehi , yang pertama kali memperkenalkan teori empat kepribadian. Ia
menyatakan bahwa kepribadian manusia bisa dibagi menjadi empat jenis : sanguin
(populer), koleris (kuat), melankolis (sempurna), dan phlegmatis (damai). Meski teori ini tergolong
sangat kuno, para psikolog masa sekarang mengakui, teori kepribadian ini banyak
benarnya.
Dari 4 tipe kepribadin
ini, tiap orang mempunyai kombinasi dari dua kepribadian. Umumnya salah satunya
lebih dominan, kadang juga keduanya seimbang. Bila hanya 1 dari tipe
kepribadian, maka dapat dikatakan tipe kepribadian sejati. Misalnya Sanguinis
sejati. Sanguin dan koleris bisa berkombinasi secara alami karena keduanya
ekstrovert, optimis dan terus terang. Kombinasi ini menghasilkan individu yang
sangat energik. Phlegmatis dan melankolis bisa berkombinasi karena keduanya
introvert, pesimis dan lembut.
Empat jenis tersebut
diantaranya :
1)
Sanguin, tipe yang mempunyai energi yang besar, suka
bersenang-senang, dan supel. Mereka suka mencari perhatian, sorotan, kasih
sayang, dukungan, dan penerimaan orang-orang di sekelilingnya. Orang bertipe
sanguin suka memulai percakapan dan menjadi sahabat bagi semua orang. Orang
tipe ini biasanya optimis dan selalu menyenangkan. Namun, ia tidak teratur,
emosional, dan sangat sensitif terhadap apa yang dikatakan orang terhadap
dirinya. Dalam pergaulan, orang sanguin sering dikenal sebagai “si tukang
bicara”.
Kekuatan
Kepribadian yang menyenangkan,
ceria, supel, suka bicara dan bercerita. Punya selera humor yang baik.
Emosional dan demonstratif. Antusias dan ekspresif. Optimis, Penuh rasa ingin
tahu. Berhati tulus, tidak menyimpan dendam dan cepat meminta maaf. Menyukai
kegiatan spontan. Dalam bekerja, mengajukan diri secara sukarela untuk bekerja,
mengilhami orang lain untuk bergabung dan dapat mempesona orang lain untuk
bekerja.
Kelemahan
Kelemahan
Mendominasi percakapan dan suka
membesar-besarkan, egoistis, suka mengeluh, kekanak-kanakan, tidak pernah
dewasa. Mudah marah/emosional. Sensitif terhadap yang dikatakan orang tentang
dirinya. Melupakan kewajiban. Keyakinan cepat luntur, tidak disiplin, mudah
teralihkan perhatiannya. Benci sendirian. Tidak tetap/mudah berubah dan pelupa.
Pandai berdalih. Suka mencari perhatian, sorotan dan kasih sayang, dukungan dan
penerimaan orang di sekelilingnya. Memutuskan dengan perasaan.
2)
Koleris, yang suka berorientasi pada sasaran.
Aktivitasnya dicurahkan untuk berprestasi, memimpin, dan mengorganisasikan.
Orang bertipe koleris menuntut loyalitas dan penghargaan dari sesama, berusaha
mengendalikan dan mengharapkan pengakuan atas prestasinya, serta suka ditantang
dan mau menerima tugas-tugas sulit. Tapi mereka juga suka merasa benar sendiri,
suka kecanduan jika melakukan sesuatu, keras kepala, dan tidak peka terhadap
perasaan orang lain. Orang koleris seperti ini sering diidentifikasi sebagai
“si pelaksana”.
Kekuatan
Tipe ini berbakat menjadi pemimpin.
Suka berprestasi dan mengorganisasikan. Hidupnya berorientasi pada tujuan,
aktif dan dinamis.. Berkemauan keras dan tidak mudah putus asa. Tidak menyukai
air mata dan emosi. Bebas dan mandiri. Dalam bekerja, suka yang serba teratur
dan mencari pemecahan praktis. Mau melakukan tugas yang sulit dan suka
ditantang. Bisa mendelagasikan pekerjaan dan mau bekerja untuk kegiatan
kelompok . Bergerak cepat untuk bertindak sehingga unggul dalam keadaan
darurat.
Kelemahan
Orang bertipe koleris terlalu
bersemangat, suka memerintah dan tidak sabaran, keras kepala dan kaku. Menyukai
kontroversi dan pertengkaran, tidak mau menyerah kalau kalah. Tidak
simpatik/kurang peka terhadap perasaan orang lain. Suka merasa benar sendiri.
Mendominasi orang lain Dalam bekerja, termasuk pecandu kerja, menuntut
loyalitas dan penghargaan bawahan. Bisa kasar atau taktis. Mngharapkan
pengakuan atas prestasinya.
3)
Melankolis yang cenderung diam dan pemikir. Ia berusaha
mengejar kesempurnaan dari apa yang menurutnya penting. Orang dalam tipe ini
butuh ruang dan ketenangan supaya mereka bisa berpikir dan melakukan sesuatu.
Orang bertipe melankolis berorientasi pada tugas, sangat berhati-hati,
perfeksionis, dan suka keteraturan. Karenanya, orang melanklolis sering kecewa
dan depresi jika apa yang diharapkannya tidak sempurna. Orang melankolis sering
diidentifikasi sebagai “si perfeksionis” atau “si pemikir”.
Kekuatan
Perfeksionis, standar tinggi.
Cenderung diam dan pemikir sehingga membutuhkan ruang dan ketenangan supaya
bisa berpikir dan melakukan sesuatu. Serius dan bertujuan. Analitis. Berbakat
dan kreatif. Berfilsafat dan puitis. Bijaksana, Idealis. Menghargai keindahan.
Sensitif kepada orang lain. Berteman dengan hati-hati. Puas ada di belakang
layar. Menghindari perhatian. Setia dan mengabdi. Mau mendengarkan keluhan dan
mudah terharu. Dalam bekerja: suka keteraturan. Serba tertib dan hati-hati.
Rapi dalam perencanaan, hemat.
Kelemahan
Mengingat yang negatif dan
menikmati sakit hati. Citra diri rendah dan merendahkan diri sendiri. Standar
suka terlalu tinggi. Sangat memerlukan persetujuan. Mementingkan diri sendiri.
Terlalu instropektif. Tertekan karena ketidaksempurnaan. Tidak aman secara
sosial. Menarik diri dan menjauh. Suka mengkritik orang lain. Tidak menyukai
yang menentang. Mencurigai orang lain, pendendam. Tidak mudah memaafkan dan
penuh kontradiksi. Dalam kerjaan : suka memilih pekerjaan sulit. suka ragu-ragu
dan melewatkan banyak waktu.
4)
Phlegmatis, yang seimbang, stabil, merasa diri sudah
cukup, dan tidak merasa perlu merubah dunia. Ia juga tak suka mempersoalkan
hal-hal sepele, tidak suka risiko atau tantangan, dan butuh waktu untuk
menghadapi perubahan. Orang bertipe ini kurang disiplin dan motivasi sehingga
suka menunda-nunda sesuatu. Kadang, ia dipandang orang lain sebagai lamban. Bukannya
karena ia kurang cerdas, tapi justru karena ia lebih cerdas dari yang lain.
Orang phlegmatis tak suka keramaian ataupun banyak bicara. Namun, ia banyak
akal dan bisa mengucapkan kata yang tepat di saat yang tepat, sehingga cocok
menjadi negosiator. Orang phlegmatis kadang diidentifikasi sebagai “si
pengamat” atau “si manis”.
Kekuatan
Kadang tipe ini dipandang sebagai
orang yang lamban. Sebenarnya bukan karena ia kurang cerdas, tapi justru karena
ia lebih cerdas dari yang lain. Mudah bergaul dan santai. Mudah diajak rukun
dan menyenangkan. Tenang, teguh, sabar dan seimbang. Hidup konsisten. Tidak
banyak cakap tetapi bijaksana. Simpatik dan baik hati. Menyembunyikan emosi.
Hidupnya penuh tujuan. Tidak suka mempersoalkan hal sepele. Punya banyak akal dan
bisa mengucapkan kata-kata yang tepat di saat yang tepat. Pendengar yang baik,
memiliki rasa humor yang tajam. Suka mengawasi orang lain. Berbelas kasihan dan
peduli. Dalam bekerja: cakap dan mantap, dapat menengahi masalah. Menghindari
pertikaian. Menemukan cara yang mudah. Baik dibawah tekanan.
Kelemahan
Terlalu pemalu dan tidak banyak
bicara. Tidak suka keramaian. Suka takut dan kawatir. Mementingkan diri sendiri
dan suka merasa benar sendiri. Tidak antusias. Suka menilai orang lain. Suka
menunda-nunda sesuatu. Kurang disiplin dan motivasi diri. Malas dan tidak
peduli. Membuat orang lain merosot semangatnya. Lebih suka menonton. Tidak suka
tantangan/resiko. Terlalu suka kompromi. Perlu waktu untuk menerima perubahan.
Tidak suka didesak-desak.
Tipe Tipe Kepribadian Menurut
Eduard Spranger Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, bahwa masing masing ahli ini mempunyai dasar dalam memberikan
pendapatnya tentang tipe kepribadian. Nah apakah yang menjadi dasar Eduard??
Ternyata ia melihat tipe tipe kpribadian seseorang berdasarkan sikap manusia
terhadap yang hidup di dalam masyarakat. Dan inilah tipe tipe kepribadian yang
dimaksud oleh Eduard Spranger:
- Manusia Politik. Seseorang yang memiliki kepribadian seperti ini cendrung mempunyai sifat ingin menguasai orang lain, dan setiap langkanya selalu berbau hal politik.
- Manusia Ekonomi. Kalau kita ingin mengetahui orang orang bertipe kepribaidan ekonomi kita bisa melihat pada ras china yang hidup di negara kita ini. Kebanyakan para etnik china ini selalu mencari hal hal baik dan berpotensi bisnis. Pada intinya orang orang yang memiliki tipe kepribadian seperti ini segala sesuatunya dipertimbangkan dengan hitung hitungan bisnis.
- Manusia Sosial. Anda tau orang yang supel atau mudah bergaul? inilah orang yang mempunyai kepribadian sosial. Karena orang berkepribadian sosial biasanya mudah dan suka bergaul, suka menolong, dan rela berkorban untuk orang lain.
- Manusia Seni. Untuk melihat orang yang memiliki kepribadian seni bagi kita tidak sulit. Kita bisa melihat para musisi, penyanyi, pelukis dan lain sebagainya, atau kita bisa melihat orang orang yang dalam kesehariannya menghabiskan waktunya untuk keindahan. Karena pada intinya orang yang memiliki kepribadian seni ialah orang yang jiwanya dipengaruhi oleh nilai nilai keindahan.
- Manusia Agama. Inilah kepribadian yang dimiliki oleh para ulama, pastur, pendeta dan pemuka atau tokoh tokoh agama lainnya. Bagi orang yang memiliki kepribadian agama yang terpenting bagi mereka adalah menghambakan diri dan menghabiskan hidupnya demi tuhan yang maha kuasa.
- Manusia Teori. Ciri ciri dari orang yang memili kepribadian teori antara lain ia adalah seorang pemikir, suka membaca, dan mengabdi pada ilmu.
Tipe Tipe Kepribadian Menurut C.G
Jung.C.G Jung adalah seorang ahli penyakit jiwa yang berasal dari
negara swis. Jung membagi kepribadian kedalam dua tipe, Yaitu ekstovert
dan Introvert.
Orang
yang memiliki Kepribadian Ekstrovert adalah orang yang perhatiannya
diarahkan ke luar dari dirinya. Ciri ciri atau sifat yang dimiliki oleh orang
ekstrovert adalah ia lancar dalam berbicara, mudah bergaul, tidak malau mudah
menyesuaikan diri, ramah dan suka berteman.
Adapun
orang yang memiliki kepribadiannya Introvert merupakan kebalikan dari
kepribadian ekstrovert. Perhatiannya lebih mengarah pada dirinya. Sifat yang
dimiliki oleh orang yang berkpribasian seperti ini adalah cendrung diliputi
kekhawatiran, mudah malu dan canggung, lebih senang bekerja sendiri, sulit
menyesuiakan diri dan jiwanya agak tertutup.
Tipe Tipe Kepribadian Menurut
Gerart Heymans. Gerart Heymans mengolongkan tipe
kepribadian berdasarkan kuat dan lemahnya seseorang. Tipe tipe
kepribadian yang ia maksud adalah:
·
Gapasioneerden (orang
hebat). Ciri dari orang yang memiliki kepribadian seperti ini aka terlihat
sifat antara lain selalu bersikap keras, ambisius, egois, dan emosional. Selain
itu sifat yang terlihat dari orang yang mempunyai kepribadian ini antara lain
memiliki rasa kekeluargaan yang baik, dan suka menolong yang lemah.
·
Cholerici ( orang
garang). Sifat yang terlihat dari orang yang memiliki kepribadian seperti ini
antara lain orangnya agresif, giat bekerja, pemberani, optimistis, dan
suka pada hal hal yang bersifat nyata. Selain itu ciri lainnya adalah bahwa
orang ini mempunyai sifat boros dan suka bertindak ceroboh.
·
Sentimentil (orang
perayu) Ciri cirinya adalah emosional, pintar berbicara, senang dengan
kehidupan alam, dan tidak suka keramaian.
·
Nerveuzen ( Gugup),
Sifat yang terlihat dari kepribadian semacam ini adalah mudah naik darah,
suka memprotes, tidak mau berfikir panjang, dan tidak pendendam.
·
Flegmaciti (orang
tenang) Sifat yang terlihat pada orang yang memiliki kepribadian ini adalah
antara lain selalu bersikap tenang dan sabar, tekun bekerja, memiliki pemikiran
yang luas, rajin dan cekatan.
·
Sanguinici ( Kekanak
kanakan) Jika kita melihat seseorang memiliki sifat seperti anak anak, itulah
orang yang berkepribadian sanguinici. Sifat yang terlihat antara lain sukar
atau plinlan dalam mengambil keputusan, ragu ragu dalam bertindak dan suka
menyendiri.
·
Amorfem (orang tak
berbentuk) sifat yang terlihat dari tipe kepribadian ini adalah intelektualnya
kurang, picik, tidak praktis, tidak punya jati diri dan terombang ambing.
Itulah
pendapat beberapa ahli yang meskipun tidak semua pendapat ahli termuat di sini,
tetapi paling tidak tulisan ini dapat memberikan gambaran seperti apakah tipe
tipe kepribadian.
Setiap orang mempunyai
kombinasi dari dua kepribadian. Umumnya salah satunya lebih dominan, kadang
juga keduanya seimbang. Sanguin dan koleris bisa berkombinasi secara alami
karena keduanya ekstrovert, optimis dan terus terang. Kombinasi ini
menghasilkan individu yang sangat energik. Mereka punya daya tarik serta banyak
bicara sambil menyelesaikan pekerjaan mereka, entah melakukannya sendiri atau
menyuruh orang lain untuk mengerjakannya.
Phlegmatis dan melankolis bisa berkombinasi
karena keduanya introvert, pesimis, dan lembut. Mereka melakukan segala sesuatu
dengan sempurna dan tepat waktu, tidak mau mengambil sikap konfrontatif. Namun
anak tipe ini akan mudah terkuras energinya jika berurusan dengan orang lain.
Kombinasi koleris-melankolis dan
sanguin-phlegmatis menggabungkan optimis dan pesimis, yang suka hura-hura
dengan yang tidak suka hura-hura, dan yang supel dengan yang suka menarik diri.
Akibatnya anak cenderung tidak seimbang dan berubah-ubah kepribadiannya
tergantung keadaan. Kombinasi koleris-melankolis menghasilkan individu yang
sangat berorientasi pada tugas. Kombinasi ini akan menjadi peraih prestasi
tertinggi, melakukan segala sesuatu dengan cepat dan sesempurna mungkin. Namun
mereka bisa menjadi nge-boss dan manipulatif sekaligus mudah stres jika orang
lain tak bisa melakukan segalanya dengan benar dan tepat waktu.
Kepribadian sanguin dan phlegmatis juga bisa
berkombinasi, menghasilkan orang yang berorientasi pada hubungan. Kombinasi ini
menjadikannya teman bagi semua orang. Ia dikagumi karena sifat humornya, selalu
rileks, dan menerima orang lain apa adanya. Namun ia cenderung tidak disiplin,
tidak suka melakukan apapun, mudah lupa tanggung jawabnya, dan selalu dapat merayu
orang lain untuk mengerjakannya bagi mereka.
Kepribadian memang bisa dirubah sedikit
demi sedikit setelah tumbuh dewasa. Misalnya, jika ia merasa terlalu emosional,
ia bisa merubahnya sedikit demi sedikit sehingga bisa lebih sabar. Namun
kepribadian seseorang telah ada sejak ia lahir, dan akan mempengaruhi cara
berpikir dan bertindak dalam kehidupannya. Maka ada baiknya jika kita bisa
memahami kepribadian diri kita sendiri, juga kepribadian orang-orang di sekitar
kita. Karena tiap tipe kepribadian ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan
masing-masing tipe ini akan berinteraksi dengan baik jika dapat saling
melengkapi.
Kritik terhadap penggolongan kepribadian
Penggolongan
atau tipologi kepribadian memang memudahkan kita untuk memahami kepribadian,
tetapi pendekatan itu mengundang beberapa kritik, yaitu :
a.
Setiap
penggolongan mereduksi kepribadian manusia yang sangat kompleks. Hanya menjadi
satu atau dua variable saja yang digunakan untuk membuat tipologi. Akibatnya,
tipologi ini sangat kurang memperhatikan faktor-faktor khusus yang sifatnya
individual.
b.
Tipologi
ini tidak memperhatikan kenyataan bahwa manusia berubah-ubah sesuai dengan
kondisi lingkungan, dan karenanya kepribadian pun bersifat dinamis. Tipologi
ini membuat kepribadian seolah-olah statis.
c.
Penggolongan
kepribadian sangat kurang mempertimbangkan pengaruh kebudayaan terhadap
kepribadian.
Oleh karena itu, tipologio dalam psikologi zaman
sekarang lebih terfokus pada setting atau konteks tertentu saja. Misalnya,
dalam lingkungan industry dan organisasi dikenal dengan tipe kepemimpinan
transaksional (memimpin berpedoman pada hak dan kewajiban masing-masing) dan
transformational (memimpin berdaarkan nilai-nilai yang dikembangkan bersama
anak buah) (James V. Downton, 1973) ; dalam bidang pendidikan ada tipe orang
tua yang otoriter, serba boleh (laissez faire) dan otokratik (demokratik
tetapi tetap tegas) (Baumrind, 1991); dalam penyesuaian diri terhadap stress
ada tipe yang berorientasi pada tugas (task oriented), ada yang berorientasi
pada emosi (emotional oriented) (Lazarus and Folkman, 1984).
BAB 5
INTERAKSI SOSIAL
Sebagaimana
di ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu
membutuhkan sesamanya dalam kehidupannya sehari hari. Oleh karena itu, tidak
dapat di hindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya.
Hubungan manusia dengan manusia lainnya atau hubungan manusia dengan kelompok,
atau hubungan kelompok dengan kelompok lainnya inilah yang disebut dengan
interaksi sosial, yang juga menjadi objek studi dari cabang psikologi yang di
namakan psikologi sosial.
Dalam
bab ini akan dibicarakan beberapa aspek yang mendasari interaksi sosial
tersebut yaitu komunikasi, sikap,tingkah laku, kelompok dan norma norma sosial.
Komunikasi
Komunikasi
adalah proses pengiriman berita dari seseorang kepada orang lainnya .Dalam
kehidupan sehari hari kita melihat komunikasi ini dalam berbagai bentuk
,misalnya percakapan antara dua orang . Pidato dari ketua kepada anggota rapat
,berita yang di bacakan oleh pembawa acara televisi,buku cerita, Koran, teleks,
telepon, telegram, faksmile, internet, e-mail, sms, dan sebagainya.
Dalam
tiap bentuk komunikasi, terdapat lima unsur dalam proses komunikasi, yaitu:
µ
Adanya pengirim berita;
µ
Penerima berita;
µ
Adanya berita yang dikirimkan;
µ
Ada media atau alat pengirim berita; dan
µ
Ada system symbol yang digunakan untuk
menyatakan berita.
Dalam tiap bentuk komunikasi di
atas kita lihat bahwa terdapat lima unsur dalam proses komunikasi :
Pengirim dan Penerima berita
Syarat
pertama untuk terjadinya komunikasi adalah adanya dua orang atau lebih. Orang
pertama berfungsi sebagai pengiri berita, sedangkan orang yang kedua dan
seterusnya berfungsi sebagai penerima berita. Sebaliknya orang yang kedua
,ketiga mdan lainnya stelah menerima berita dapat pula mengirimkan berita
kembalisehingga dia berfungsi sebagai penerima berita. Hala terakhir terjadi dalam
dialog atau percakapan .
Hal hal
yang perlu diperhatikan untuk mencapai komunikasi yang sempurna bagi pengirim
dan penerima berita :
@ Pengirim
dan penerima berita harus bersiaga terhadap pokok persoalan yang yang sama.
@ Kalaupun
pokok persoalan sudah sama antara pengirim dan penerima berita harus sepaham
tentang arah dan tujuan pembicaraan.
Berita yang di kirim
Isi berita yang
dikirimkan dalam proses komunikasi bermacam macam tetapi pada umumnya dapat
digolong golongkan sebagai berikut :
a.
Fakta dan Informasi : Menyampaikan tentang
informasi dan hal hal yang terkait dengan rasio saja.
b.
Emosi : Intinya dari proses komunikasi emosi
adalah hanya ingin mengungkapkan perasaan-perasaan .
c.
Fakta yang bercampur dengan emosi : berita
seperti ini yang sering di jumpai di masyarakat ,karena pada hakekatya perasaan
atau setidak tidaknya warna afeksi seseorang terus menerus memengaruhi semua
perbuatannya.Oleh karena itu perkataan serta ungkapan ungkapan seseorang selalu
mengandung persaan perasaan ,disamping isi berita yang sesungguhnya.
Dalam
komunikasi yang baik perlu dijaga benar sifat sifat isi berita.Kalu hendak
disampaikan fakta dan informasi saja (misalnya dalam berita) ,maka hendaknya
dihindari kata kata atau ungkapan ungkapan yang dapat menimbulkan emosi karena
hal ini akan menyebabkan masuknya unsur unsur subjektif kedalam berita yang
seharusnya menjadi unsur objektif.
Media pengiriman berita
Dalam bentuk
yang sederhana manusia berkomunikasi dengan manusia lainnya hanya melalui bunyi
bunyi aytau suara dihasilkan oleh mulut dan dingarkan oleh telinga .Berbeda
dari hewan ,suara suara ini disusun sedemikian rupa dan dinamakan bahasa.Dengan
bahasa manusia bisa berkomunikasi tentang apa saja tidak terbatas pada hal hal
yang terjangkau oleh panca indra.
Bahasa lisan
kemudian berkembang menjadi bahasa tulisan sehingga manusia dapat berkomunikas
lintas tempat dan lintas waktu.Tulisan tulisan Aristoteles ,atau Ibnu Sina atau
Ki Hajar Dewantara masih dibaca sampai saat ini . Sementara itu dengan
Tekhnologi Informasi (TI) yang makin canggih ,melalui telpon selluler ,internet
dan sebagainya ,manusia bisa berkomunikasi dalam hitungan detik dengan orang
lain di seluruh penjuru dunia.Sangat jauh berbeda dengn Columbus sampai benua
Amerika .Saat itu masih mengirimkan kurir jika hendak melapor kpada Raja
Spanyol dengan menggunakan kapal dan berita tersebut akan sampai ke Raja
Spanyol selama 6 bulan.
Selain itu ,teknologi juga memungkinkan
berkembangnya media masa dimana satu orang dapat berhubungan dengan banyak
orang skaligus.Sudah lama kita mengenal radio ,koran , majalah dan televisi
Media itu dikelola secara profesional dengan orang orang tertentu melalui
perusahaan dan organisasi organisasi tertentu juga.
Sekarang
teknologi informasi saat ini (yang makin canggih justru ,makin murah), setiap
orang sudah bisa mengirimkan berita secara massal ,kepada setiap orang hanya
melalui website,blog,bahkan sering kali hanya melalui mailist saja.Namun
hasilnya tidak kalah dahsyat dengan CNN dan BBC,apalagi jika dilakukan dengan
maksud jahat seperti hacker ,pembobolan bank dll.
Kebanyakan
komunikasi yang diterima oleh manusia melalui telinga dan mata.Sedangakan bagi
manusia yang tunanetra dan tunarungu ,masih bisa berkomunikasi dengan
menggunakan kode-kode jari tangan yang sudah di ajarkan oleh pendidik mereka.
Jadi, letak
kekuatan manusia dalam berkomunikasi adalah dalam kemampuannya menggunakan simbol-simbol
bahasa yang bisa dinyatakan secara lisan tulisan dan isyarat.
Sistem Simbol
Hewan
berkomunikasi dengan mengggunakan tanda tanda anjing menggonggong kalau gembira atau marah ,melengking kalau
kesakitan ,atau melolong kalau memanggil kawannya.Lebah membuatgerakan gerakan
tertentu untuk menunjukkan letak dan arah makanan kepada kawan-kawannya.Tanda
tanda ini bersifat konkret dan terbatas artinya satu tanda hanya mempunyai satu
arti itu tidak berubah ubah untuk jangka waktu yang sangat lama di turunkan
melalui sistem genetik melalui generasi ke generasi.
Beberapa hewan
seperti Anjing,Lumba lumba dan kera dapat di latih untuk emenuhi perintah
tertentu yang di berikan oleh majikan atau pelatinya.Bunyi siulan yang membuat
anjing lari kepada tuannya,bunyi peluit berarti lumba lumba harus melompat
melalui lingkaran . dan genderang bertabuh memicu kera “sarimin” untuk langsung
menyambar sepedahnya untuk pergi ke kantor.
Bukan hanya
hewan yang membuat aba-aba untuk membuat tanda-tanda tetapi terkadang manusia
juga membuat tanda tanda untuk berkomunikasi ,misalnya saja membuat tanda asap
jika tersesat.
Karena sifat
yang tak terbatas dan abstrak inilah maka manusia dapan menyusun
pikiran-pikiranya secra lebih sempurna ,dapat saling berkomunikasi secra lebih
baik ,dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan sebagainya dengan menggunakan
simbol-simbol.Salah satu bentuk sistem simbol adalah bahasa.
Jenis Komunikasi
Dilihat dari
jalannya komunikasi dapat dibedakan
menjadi dua jenis ,yaitu:
1.
Komunikasi Searah, adalah komunikasi yang datang
dari satu pihak saja , sedangkan pihak yang lain hanya menjadi penerima .
2.
Komunikasi Dua Arah, adalah penerima dapat
berubah fungsi menjadi pengirim berita sedangkan ,sedangkan pengirim dapat
menjadi penerima berita. Kalau komunikasi dua arah atau timbal balik ini
terjadi terus menerus berganti ganti ,maka terjadilah dialog.
Struktur Komunikasi
Dilihat dari
sudut hubungan antara individu dalam kelompoknya ,komunikasi dapat di bagi
kedalam dua macam struktur yaitu :
1.
Jenis Bintang : Di sini, ada satu orang yang
menjadi pusat komunikasi dan setiap individu lainnya harus melalui pusat itu
terlebih dahulu.Jenis ini terdapat pada rapat rapat organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok
formal lainnya. Individu-individu disini jadinya lebih terikat dan tidak bebas
menyatakan penadapatnya masing masing pada saat ysng mereka mau, tetapi
sebaliknya komunikasi menjadi lebih tertib dan semua orang pada gilirannya akan
mendapat kesempatan berbicara. Pada jenis ini kemungkinan dominasiasi oleh satu atau beberapa orang
tertentu saja dapat dihindari.
2.
Jenis hubungan langsung : Disini setiap individu
dapat berbicara langsung dengan individu lainnya pada detiap saat yang
dikehendakinya. Jeniss ini biasanya dapat di dapatai dalam kelompok kelompok
yang tidak formal, seoperti arisan, reuni, dan acara keluarga. Kelemahan jenis
komunikasi ini adalah karena semua orang bisa mengikuti kehendaknya
sendiri-sendiri ,sehingga tidak terarah. Sedangkan keuntungannya adalah bawa
setiap orang bebas dan tidak terikat dalam menyatakan pendapatnya.
Sebab-sebab Kesalahan Dalam Komunikasi
Seperti
dikatakan di atas ,sering kali terjadi komunikasi yang tidak sempurna .
Penerima tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksut oleh pengirim berita
,atau mengerti hanya sebagian atau salah mengerti .Kesalahan-kesalahan dalam
komunikasi pada umumnya disebabkan tiga hal ,yaitu:
1. Terbatasanya
perbendaharaan kata atau sistem simbol .
2. Terbatasnya
daya ingat
3. Gangguan
pada media komunikasi
Kabar Angin
Sehubungan
dengan lemahnya daya ingatan ini , dapat terjadi kabar angin atau desas-desus
.Kabar angin ini biasanya bermula dari keinginan orang untuk mendapat informasi
mengenai suatu hal ,tetapi saluran komunikasi dengan sumber berita tertutup
karena satu dan lain hal .Akibatnya oraang mencari hubungan yang tidak langsung
yaittu mencari informasi dari sumber kedua atau ketiga atau bahkan dari sumber
yang kesekian puluh.Akibatnya orang tersebut banyak mendapatkan berita yang
sudah berbeda dengan aslinya ,sudah banyak berkurang dan bertambah sesuai
dengan orang-orang yang meneruskan kabar angin tersebut.
SIKAP
Sikap
(attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang atau tidak senang atau
persaan biasa biasa saja (netral) dari seseornag terhadap sesuatu. ”sesuatu “
itu bisa berupa benda ,kejadian, situasi orang-orang atau kelompok .Kalau yang
timbul dari seseatu itu adalah perasaan senang maka itu disebut sikap positif,
sedangkan kalua yang timbul itu perasaan tidak sennang itu disebut sikap
negatif, Kalau yang timbul sifat apa-apa yang biasa ssja disebut netral.
Sikap
dinyatakan sebagai tiga dominan ABC, yaitu Affect, Behavior dan Cognition. Affect
adalah perasaan yang timbul (denang,tak senang), behaviour adalah perilaku yang
mengikuti perasaan itu (mendekat,menghindar) dan cognition adalah penilaian
terhadap objek sikap (bagus, tidak bagus) (sarwono, 1997)
Manusia
mempunyai bermacam-macam sikap terhadap bermacam-macam hal (objek,sikap).
Sikap
negatif dari generasi tua terhadap tingkah laku generasi muda akan memperlebar
jurang pemisah antara kedua generasi tersebut. Sikap yang di anut banyak orang
yang disebut sikap sosial, sedangkan yang dianut hanya oleh satu orang tertentu
saja yang disebut sikap individual. Sikap sosial adalah sikap yang ada pada
kelompok orang yang ditunjukan pada suatu objek yang menjadi perhatian selyuruh
anggota tersebut. Sementara itu sikap individuala adalah sikap yang khusus
terdapat pada satu – satu orang terhadap objek – objek yang menjadi perhatian
orang – orang yang perhatian saja.
Dalam sikap
selalu terdapat hubungan subjek objek. Tidak ada sikap yang tanpa objek.
Objek sikap
bisa berupa benda, orang, kelompok orang, nilai – nilai sosial, pandanga hidup,
hukum, lembaga masyarakat dan sebagaiunya. Sikap bukan bakat atau bawaan sejak
lahir, melainkan dipelajari dan dibentuk melalaui pengalaman-pengalaman.
Karena
sikap dipelajari ,maka sikap dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan
lingkungan disekitar individu yang bersangkutan pada saat dan tempat yang
berbeda. Sikap tidak hanya terdiri atas satu macam saja, melainkan
bermacam-macam, sesuai dengan banyaknya objek yang dapat menjadi perhatian
orang yang bersangkutan.
Proses Pembentukan dan Perubahan Sikap
Sikap
dapat berbentuk atau berubah melalui empat macam cara :
1.
Adopsi : kejadian-kejadian dan
peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama
kelamaan secara bertahap di serap kedalam diri individu dan mememngaruhi
terbentuknya suatu sikap.
2.
Diferensiasi: Dengan berkembangnya intelegensi, bertambahnya
pengalaman sejalan dan bertambahnya usia maka ada hal yang tadinya dia anggap
sejenis sekarang dipandang tersendiri lepas dari sejenisnya. Terhadap objek
tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula.
3.
Intergrasi: Pembentukan sikap disini terjadi
secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan
satu hal tertentu sehingga akhirnya terbentuk sikap mengenai hal tersebut.
4.
Truama: trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba
mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa seseorang yang
bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan
terbentuknya sikap.
Terbentuknya
sikap terjadi demikian saja, melainkan melalui suatu proses tertentu, melalui
kontak sosial terus menerus antara individu dengan individu-individu lain
disekitarnya.dengan hubungan ini, faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya
sikap adalah:
1.
Faktor Internal: yaitu faktor-faktor yang
terdapat dalam diri orang yang bersangkutan, seperti faktor pilihan.
2.
Faktor Eksternal: Selain faktor-faktor yang
terdapat dalam diri sendiri, maka pembentukan sikap di temukan pula oleh faktor
–faktor yang berada di luar, yaitu:
a.
Sifat objek ,itu sendiri ,bagus ,atau jelek dan
sebagainya.
b.
Kewibawaan: orang yang mengemukakan suatu sikap.
c.
Sifat orang-orang atau elompok yang mendukung
sikap tersebut.
d.
Media komunikasi yang digunakan dalam
menyampaikan sikap.
e.
Situasi pada saat sifat itu dibentuk.
Tentunya tidak
semua faktor harus dipenuhi untuk membentuk suatu sikap. Kadang-kadang satu
atau dua faktor sudah cukup. Yang menarik adalah makin banyak faktor yang ikut
memengaruhi, semakin cepat terbentuk sikap.
Prasangka
Prsangka
adalah penilaian terhadap sesuatu hal berdasarkan fakta dan informasi yang
tidak lengkap. Jadi sebelum orang tau benar mengenai sesuatu hal, ia sudah menetapkan
pendapatnya.mengenai hal tersebut dan atas dasar itu apriory (Sarwono2006).
Pengukuran Sikap
Menurut
beberapa ahli ,sikap dapat diukur dengan menggunakan suatu alat yang dinamakan
skala sikap. Diantara banyak skala sikap yang di kenal ,ada dua skala sikap
yang banyak di gunakan ,yaitu skala sikap dari R.Likert (1932) dan L.L
Thurstone (1934). Bentuk kedua skala itu hampir serrupa, hanya proses
pembuatannya yang berbeda.
Secara ilmiah sikap
dapat diukur, dimana sikap terhadap objek diterjemahkan dalam sistem angka. Dua metode pengukuran sikap:
1. Self Report
Misalnya ketika menyatakan kesukaan
terhadap objek saat ditanya dalam interview atau menuliskan evalusi-evalusi dari suatu
kuesioner. dalam metode ini, jawaban yang diberikan dapat dijadikan idikator
sikap seseorang. Kelemahannya jika individu tidak menjawab pertanyaan yang
diajukan maka tidak dapat diketahui pendapat atau sikapnya. Self Report terdiri dari:
a.
Public Opinion Polling
Digunakan untuk mengumpulkan data dari
masyarakat yang berkaitan dengan opini. Bisa juga digunakan untuk meramalkan
sesuatu atau menyediakan informasi. Empat langkah polling:
1.
Seleksi terhadap sampel dari responden
2.
Menyusun item-item sikap
3.
Mengambil data terhadap sampel
4.
Tabulasi data
Dalam pengukuran Public Opini Polling,
item skala terdiri dari: Pertanyaan-pertanyaan tentang objek dan Format jawaban: tertutup (setuju – tidak
setuju), terbuka.
b.
Skala Sikap
skala sikap yaitu: kumpulan pertanyaan
mengenai objek sikap. Di gunakan untuk mencoba memperoleh pengukuran yang tepat
tentang sikap seseorang. Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan
beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama. Skala sikap melibatkan:
belief dan opini terhadap suatu objek. Pertanyaan-pertanyaan atau item yang
membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut
objek psikologis).
2. Pengukuran Involuntary Behavior
(Pengukuran terselubung)
Pengukuran dapat dilakukan jika memang
diinginkan atau dapat dilakukan oleh responden. Dalam banyak situasi, akurasi
pengukuran sikap dipengaruhi oleh kerelaan responden. Pendekatan ini merupakan
pendekatan observasi terhadap reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi tanpa
disadari dilakukan oleh individu yang bersangkutan. Observer dapat
menginterpretasikan sikap individu mulai dari fasial reaction, voice tones,
body gesture, keringat, dilatasi pupil mata, detak jantung, dan beberapa aspek fisiologis
lainnya.
Tingkah Laku Kelompok
Mekanisme
yang mendorong tingkah laku kelompok ini disebut dinamika kelompok.Ada dua
teori yang menerangkan tingkah laku kelompok yang dikemukaakan oleh tokoh-tkoh
psikologi dan Lee Bon. Teori yang pertama adalah unit terkecil yang dipelajari
oleh psikologi adalah individu. Oleh karena itu, kelompok tidak lain adalah
sekumpulan individu dan tingkah laku individu secara bersama-sama. Teori kedua
adalah seperti sifat kimia yaitu molekul mempunyai sifat yang sangat berbeda
dari sifat-sifat atom-atom yang membentuk molekul itu.
Teori
dinamika kelompok diajukan pertama kali oleh Kurth Lewin yang menyatakan bahwa
tingkah laku kelompok adalah fungsi dari kepribadian individu dan situasi
sosial.
Rumusnya adalah:
B = f (P.e)
Keterangan : B : behavior
f
: fungsi
P
: personality (kepribadian)
e
: environment (lingkungan)
Teori
lain tentang mekanisme kelompok diajukan oleh Neil Smeler. Pendekatan
sosiaologis karena pada hakikatnya smelser adalah sosiolog. Ia mengatakan bahwa
perilaku kelompok (massa) ditimbulkan oleh enam faktor yang berurutan secara
logis, walaupun tidak usah berurutan secara kronologis, yaitu :
1.
Keadaan Masyarakat yang tertekan (structural
strain) dimana masyarakat dalam hal-hal tertentu tidak lagi merasa nyaman.
2.
Keadaan masyarakat yang kondunsif untuk
terjadinya perilaku massa (structural condusivenes).
3.
Adanya kepercayaan masyarakat bahwa sesuatu hal
sedang atau akan terjadi (generalized belief).
4.
Ada sarana dan prsarana untuk mengarahkan
kelompok (mobilization for action)
5.
Kurangnya kontrol sosial (lack of social
control)
6.
Ada peristiwa pencetus (triggering factor)
Yang dimaksud
dengan kelompok adalah sekumpulan orang. Kelompok dapat dibagi-bagi dalam
beberapa jenis yaitu :
§ Kerumunan
(crowd) : kumpulan orang ini terjadi jika sejumlah orang berada disuatu tempat
tertentu pada suatu waktu tertentu.
§ Massa
: Massa adalah sejumlah besar orang yang berada dalam suatu lingkungan besar
yaitu lingkungan yang lebih besar daripada lingkungan kerumunan.
§ Publik
: Lingkungan publik lebih luas dibandingkan dengan massa dan hubungan
interpersonal lebih lebih tidak erat lagi.
Macam macam
kerumunan,di lihat dari jenisnya kerumunan berbeda-beda dalam beberapa macam :
o Kerumunan
biasa yaitu orang-orang berkumpul hanya untuk mengisi waktu luang saja, atau
secara kebetulan yang sama.
o Kerumunan
konvensional yaitu kerumunan yang aktifitasnya di atur oleh kebiasaan .
o Kerumunan
aksi yaitu kerumunan yang perilakunya jelas menuju ke suatu tujuan tertentu dan
besifat agresif.
o Kerumunan
ekspresif yaitu kerumunan yang bertujuan untuk mengekspresikan perasaannya
dengan jalan menangis, tertawa, berteriak dan sebagainya.
Gerakan sosial
adalah perilaku masa yang ditunjukan untuk menciptakan atau menyusun kembali
aturan sosial. Ada tiga macam gerakan sosial :
1.
Gerakan sosial yang berlaku umum yaitu gerakan
sosial yang di ikuti secara luas oleh banyak orang .
2.
Gerakan sosial khusus yaitu tingkah laku masa
yang jelas tujuannya.
3.
Gerakan sosial ekspresif yaitu yang semata-mata
di tunjukan untuk menampilkan perasaan-perasaan tertentu.
Tingakah laku
publik adalah yang paling terbatas dari ketiga jenis kelompok di atas. Karena
tidak berada dalam suatu tempat tertentu sehingga anggota kelompok tidak saling
berhubungan secara fisisk, maka sulit untuk menjadi sesuatu yang kesat mata.
Perilaku publik hanya terbatas pada pendapat publik saja. Pendapat publik
adalah konsensus antara berbagai pendapat yang ada di dalam publik.
Kepemimpinan
Dalam
tingkah laku kelompok penting sekali seorang pemimpin. Kadang-kadang suatu
kelompok berbuat dan tidak berbuat sesuatu disebabkan oleh ada atau tidak
adanya kepemimpinan yang kuat dalam kelompok itu.
Teori tentang apa dan bagaimana
kepemimpinan itu :
Ø Teori
keseimbangan :teori ini mengatakan bahwa dalam diri seseorang pemimpin haruslah
terdapat beberapa sifat yang saling mengimbangi dan berbagai kemampuan.
Ø Pemusatan
energi pssikis : menurut teori ini seseorang pemimpin adalah orang biasa,
dengan kelemahan-kelemahan dan tidak mempunyai bakat yang istimewa, tetapi
orang ini mau bekerja keras dan memusatkan energinya terhadap suatu bidang
tertentu, sehingga dalam bidang itu orang tersebut mengunggulli orang-orang
yang lain.
Ø Teori
bakat khusus : teori ini menekankan bahwa seseorang dapat mnjadi pemimpin
berkat kemampuan-kemampuannya yang khusus yang sudah merupakan bakatnya.
Kemampuan khusus ini harus sesuai dengan keadaan kelompok disekitarnya, sehingga
kelompok mau menganggap dia sebagai pemimpin .
Ø Pemahaman
yang tiba-tiba : menurut teori ini, seseorang mnjadi pemimpin karena tiba-tiaba
ia meliahat hubungan antara dua atau beberapa hal yang terjadinya tidak dilihat
oleh orang lain, sedangkan hubungan itu penting sekali artin ya untuk
memecahkan suatu masalah yang sedang dihadapi oleh kelompok yang bersangkutan.
Ø Teori
kemampuan diantara Ketidak mampuan : teori ini menyatakan sesuatu yang lemah
atau yang kurang akan di kompensasi (ditutup atau diatasi) oleh sesuatu yang
kuat. Alampun mengatur dirinya seperti itu.
Ø Teori
konjungtur :Konjungtur berarti gabungan beberapa macam faktor yang muncul pada
waktu yang bersamaan. Teori ini menyatakan bahwa teori ini muncul karena
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
a. Kemampuan
khusus yang dimiliki oleh pemimpin.
b. Adanya
problem atau krisis yang dialami oleh kelompok.
c. Adanya
kesempatan untuk pemimpin untuk membuktikan kemampuannya.
Ø Teori
proses kelompok : teori ini berpendapat bahwa kepemimpinan, semata-mata
ditentukan oleh proses yang terjadi dalam kelompok yang hasil interaksi antara
anggota kelompok.
Sifat-sifat yang
harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat mempertahankan kedudukannya
cukup lama dan dapat menjalankan misinya dengan cukup efektif adalah:
1.
Stamina yaitu kemampuan untuk bertahan dan tidak
mudah menyerah kalau menghadapi kesuliatan.
2.
Pengikut : tidak ada pemimpin tanpa penguikut,.
3.
Energi :seserorang pemimpin harus mempunyai
semangat dan dorongan untuk mencapai cita-citanya
4.
Kecakapan : tidak hanya kecakapan tetapi juga
kecerdasan.
5.
Karakter : harus berkarakter dan berkepribadian
kuat,
6.
Berpikiran bersih dan jujur : pemimpin tidak
punya iktikad lain selain mempejuangakan kepentingan kelmpoknya .
7.
Simpati .
Sementara itu
di tinjau dari keadaan kelompok ,tujuan dan sifat kelompok maka ada beberapa
macam kepemimpinan yaitu :
·
Kepemimpinan langsung dan tidak langsung.
Kepemimpinan langsung adalah kepemimpianan yang datang dari pribadi dari
pemimpin itu sendiri. Sedangkan kepemimpinan tidak langsung adalah kepemimpinan
yang terjadi melalui hasil karya pemimpin yang bersangkutan.
·
Kepemimpinan konservatif atau liberal :pemimpin
yang konserfatif adalah pemimpin yang memperjuangkan hal-hal dari masa laulu.
·
Kepemimpinan bisa bersifat sosial, mental atau
eksekutif: kepemimpinan sosial terjadi dikarenakan adanya kegiatan pemimpin di
tengah pengikutnya , kepemimpinan mental terjadi karena adanya gagasan-gagasan
yang datang dari pemimpin sedangkan kepemimpinan eksekutif terjadi melalui
aktifitas maupun melalui gagasan.
·
Kepemimpinan dapat bersifat otokratis, liz faire
atau otoratif : pemimpin otokratis adalah pemimpin bergaya diktator bergaya
otoriter mengikuti kehendaknya sendiri saja,suka menyuruh, tak ingin dibantah, dan
tidak meminta pendapat pengikutnya. Sebaliknya pemimpin laize feire adalah
pemimpin pemimpin yang serba boleh yang membiarkan pengikutnya pengikutnya
megikuti kemauannya masing-masing.
·
Kepemimpinan partisan dan kepemimpinan yang
tidak memihak: kemempinan partisan atau pro yang anti pada sesuatu (memihak).
Bertolak belakang dengan pemimpin yang tidak memihak.
NORMA SOSIAL
Norma
sosial adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu kelompok yang membatasi
tingkah laku individu dalam kelompok itu. Yang membedakan norma sosial dengan
produk-produk sosial dan budaya, serta konsep-konsep psikologi lainnya adalah
bahwa dalam norma sosial terkandung sanksi sosial. Artinya ,barang siapa
melakukan sesuatu yang melanggar norma akan dikenai tindakan tertentu oleh
masyarakatnya. Sansi ini bisa berupa di
jadikan bahan gunjingan sampai dicela di dpan publik atau disingkirkan oleh
pergaulan.
Pengaruh
norma sosial terhadap kepribadian individu anggota kelompok adalah sebagai
berikut :
1.
Norma sosial merupakan faktor yang mendorong
motivasi. Norma itu selalu mempengeruhi tiap tingkah laku dalam hubungan
interpersonel seperti presepsi, sikap, ingatan dan sebagainya.
2.
Norma sosial selalu menimbulkan tekanan psikis.
Dalam masyarakat yang modern, terdapat banyak mcam norma, dan norma yang
berlaku berubah dengan cepat sekali seakan individu teromabang ambing merasa
tidak yakin akan diri sendiri merasa ragu akan masa depan merasa harus berjuang
dan sebagainya.
3.
Norma- norma yang saling bertentangan memaksa
individu untuj slah satu norma saja untuk diikutinya.akan tetapi hal ini tidak
selalu mudah. Untuk mengatasi hal ini maka dapat ditempuh beberapa cara, yaitu:
a.
Masyarakat atau kelompok sendiri memberikan
kelonggaran dalaam melaksanakan norma-normanya.
b.
Rasionalisasi kebudayaan, yaitupenjelasan atau
penalaran atau memberikan dasar logika kepada perilaku yang sesungguhna tidak
dapat dibenarkan.
Peran dan Status
Individu
mempunyai fungsi tertentu dalaam kelompoknya. Dalam masyarakat yang belum
berkembang ,perempuan bertugas menguras rumah , memasak, menjaga anak-anak,
sementara pria bertugas mencari nafkah. Dalam perkembangan masyarakat
selanjutnya timbul fungsi-fungsi lain seperti kepala suku, raja, tentara, dan
didalam masyarakat modernterdapat dokter ,guru petani mentri,dan sebagainya.
Semunya mempunyai tugas dan fungsi dan peran tertentu yang harus di jalankan
dalam kelompoknya.
Peran sosial
adalah peran yang dimainkan seseorang dalam lingkungan sosialnya. Peran ini
adalah merupakan tuntutan dari masyarakat terhadap individu untuk memberikan
sumbangan sosial dari anggotanya dalam rangka menjaga keutuhan sosial dan
meningkatkan kebaikan dalam masyarakat tersebut.
Peran sosial bisa
berupa aktivitas individu dalam masyarakat dengan cara mengambil bagian dalam
kegiatan yang ada di masyarakat dalam berbagai sektor, baik sosial, politik,
ekonomi, keagamaan dan lain-lain. Pengambilan peran ini tergantung pada
tuntutan masyarakat dan atau pada kemampuan individu bersangkutan serta
kepekaannya dalam melihat keadaan masyarakatnya.
Ada
tiga golongan kelas sosial yan biasanya di gunakan dalam mempelajari masyarakat
yang sudah maju, yaitu:
1.
Kelas atas, yang terdiri atas sebagian sangat
kecil dari masyarakat yang menduduki jabatan-jabatan tertinggi dalam negara
atau memiliki pendapat yang sangat besarsehingga taraf hidupnya jauh melebihi
orang kebanyakan, atau yang mempunyai kekuasaan yang sangat besar.
2.
Kelas menengah, terdiri atas pegawai menengah
,pengusaha menengah dan kecil, kaum intelektual, guru, mahasiswa pedagang
tukang dan sebagainya. Kelas ini berfariasi pesertanya dari yang mulai sangat
terdidik hingga tidak.
3.
Kelas rendah, yaitu orang kebanyakan tidak ada
jabatan tertentu, pendidikan terbatas, penghasilan pun tidak memadai. Seperti
petani, buruh, tukang becak, pesuruh dan sebagainya.
Jenis-Jenis Status Sosial
1. Ascribed StatusAscribed
status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras,
kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.
2. Achieved StatusAchieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.
2. Achieved StatusAchieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.
3. Assigned StatusAssigned
status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan
masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan
kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku,
ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.
BAB 6
GANGGUAN MENTAL
Didalam
psikologi dikenal perilaku-perilaku yang menyimpang dari perilaku yang normal
sebagai gejala dari gangguan mental. Penyimpangan perilaku ini dapat disebabkan
oleh adanya kelainan psikis pada orang-orang bersangkutan tetapi bisa juga
disebabkan karenan adanya stresor (sumber stres) yang datang dari luar atau
perubahan sosial yang mengubah kriteria normal menjadi tidak ormal. Cabang
psikologis yang khusus mempelajari gangguan mental ini disebut Psikopatologi
atau Psikologi Abnormal,sedangkan usaha memperbaiki atau menyembuhkan
kelainan-kelainan dilakukan oleh Psikologi klinis.
Gangguan mental
bisa murni psikologis. Misalnya, depresi berat karena putus hubungan dngan pacar
atau gagal memenuhi cita-citanya untuk masuk ke perguruan tinggi favorit.
Disisi lain sering kali pula disebabkan oleh ganguan fisik (sakit). Mislanya
pecandun narkoba bisa menjadi agresif, depresif atau paranoid (curiga),
tergantung narkoba yang digunakannya.
Oleh karena itu,
gangguan mental, selain menjadi slah satu bidang psikologi, dipelajari juga
oleh ilmu kedokteran, khusunya kedoteran jiwa atau psikiatri. Perbedaan antara
psikologi klinis dan psikiatriadalah perbedaan metode pendekatan. Psikologi klinis,
menanggani kasus-kasus gangguan mental dari sudut psikologi. Teori-teori yang
digunakan pun adalah teori-teori ilmu psikologi yang merupakan bagian dari ilmu
social. Kasus depresi mislanya dianalisis oleh psikologis klinis dengan mencoba
menemukan stressor (sumber setres) dan mendiskusikan dengan klien(panggilan
psikolog untuk pasien) bagaimana cara mengatasi stresor.
Psikiatri
dilain pihak, memandang gangguan mental dari sudut ilmu kedokteran, yaitu dari
sudut penyakit dan cara pengobatan. Dokter berusaha mencari factor penyebab
dari soma (tubuh)pasien mulai dari factor keturunan, sampai kelainan atau
gangguan syaraf. Untuk menjadi seorang psikiater, harus menjadi dokter dulu,
sedangkan untuk menjadi psikologi klinis, sejak lulus SMA harus masuk fakultas
psikologi. Dengan demikian tidak benar anggapan bahwa seorang psikolog adalah
seorang dokter.
Cara lain
membedakan dokter jiwa (psikiater) darri psikolog (klinis) adalah bahwa dokter
mengurusi orang sakit, sedangkan psikolog pada dasrnya mengurusi orang sehat.
Hanya psikolog klinis yang menanggani orang dengan keluhan gangguan jiwa.
Masalahnya antara yang sakit dan yang sehat pun sering kali tak jelas batasnya,
apalagi dengan perubahan-perubahan normamasyarakat yang sekarang terjadi.
Sebagai contoh, sekarang banyak orang (pria) yang memelihara jenggot, berbaju
koko, bercelana ngantung dan bersandal. Saat ini, (tahun 2000-an), orang akan
menafsirkannya sebagai salah satu model busana muslim dari aliran tertentu.
Kalau busana macam ini dipakai tahun 1960-an pemakainya bisa dinggap sakit
jiwa.
DSM IV (Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorder)
Psikiater dan
Psikolog klinis tidak bekerja sembarangan. Mereka tetap menggunakan metode
ilmiah. Kalaupun ada perubahan-perubahan , bukan psikiater atau psikolognya
yang bekerja tidak ilmiah melainkan ilmunya yang belum sampai kesitu, hususnya
dalam pengobatan gangguan mental.
Sebagai bagian
dari ilmu pengetahuan psikiatri dan psikologi klinis mendasarkan diri pada
penelitian empiris. Berdasarkan penelitian berpuluh tahun dan melibatkan banyak
pasien/klient disusunlah buku pedoman yang dijadikan rujukan oleh semua dokter
spesialis jiwa dan psikolog klinis di seluruh dunia. Buku rujukan itu dikenal
dengan nama DSM IV (Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders) ,yang
saat ini sudah masuk ke versi ke empat.
Buku ini memang
sering mengandung kontroversi, terutama karena buku ini dibuat karena
mengandung kasus-kasus di Amerika Serikat. Oleh karena itu, dikembangkan juga
versi internasionalnya saja kemudian dimasukan ke BAB tentang mental disorders.
Dalam perkembangan DSM dari versi keversi, bisa terjadi perubahan, penambahan,
pengurangan ataupun penggolongan ulang kategori yang ada. Berikut adalah
kategori ringkasan kategori gangguan mental dalam DSM IV versi 1994.
Poros 1
Deprssion (depresi)
Depresi disebut juga dengan unipolar disorder, untuk
membedakannya dengan bipolar disorder bergantian antara low dan hight mood,
yaitu perasaan murung. Kehilangan gairah untuk melakukan hal-hal yang biasa
dilakukannya dan tidak bisa mengeksoresikan kegembiraan. Biasanya terjadi pada
awal sampai pertengahan usia dewasa. Bisa terjadi sekali,bisa terjadi sering
kali. Bisa sebentar, bisa selama hidup. Bisa bertahap, bisa mendadak berat.
Penyebab depresi sangat bermacam-macam . faktor psikolog yang
bisa menyebabkan depresi antara lain adalah adanya harapan yang tidak
terpenuhi, seperti putus cinta tidak diterima di perguruan tinggi favorit, atau
masalah perkawinan yang kronis. Hal lain yang menyebabkan depresi adalah keadaan
fidik (misalnya harus dirawat dirumah sakit atau rasa sakit yang tidak
sembuh-sembuh) atau pengaruh narkoba. Depresi karena sebab fisik atau medis
tetapi harus di uji secara laboratorium agar dapat diapstikan apakah benar ini
gejala depresi atau gejala faktor fisik medis saja.
Jika depresi itu murni pun tidak selalu memerlukan perawatan.
Depresi yang hanya sekali atau sekali-kali terjadi, apalagi yang sebentar
ringan sama skali tidak perlu di rawat. Deprsi yang emerlukan penanganan
psikiater atau psikologis klinis adalah yang berlangsung rslatif lama dan berat
sehingga menggagu kehidupan sosial orang yang bersangkuatan termasuk mengganggu
pekerjaan ,pelajaran atau pergaulan. Dalam hal ini biasanya dilakukan oleh
psikiater biasa memberikat obat-obat antideoresant.
Adapun inventory (BDI) yang dikemukakan oleh Beck mengandung
21 gejala dan tingkah laku yaitu : (1) sedih, (2) pesimistis, (3) rasa
kegagalan , (4) ketidak puasan, (5)rasa bersalah, (6)rasa terhukum, (7)tidak
suaka terhadap dirisendiri, (8) menyalahkan diri sendiri, (9) keinginan untuk
bunuh diri, (10) berteriak tiba-tiba, (11) lekas marah, (12) mundur dari
kehidupan social, (13) keragu-raguan, (14) citra tubuh yang keliru, (15)
hambatan kerja, (16)gangguan tidur, (17) kecenderunganlelah, (18)hilang selera
makan, (19) turun berat badan, (20) postur tubuh tertentu, (21)kehilangan
hasrat seksual.
Anxiety Disorders
(gangguan kecemasan)
Orang dewasa biasanya mencampuradukan saja pengertian dari
fear, phobia dan axiety. Semuanya disebut takut saja, tetapi dalam psikiatri
dan psikologi. Ketiga istilah itu mempunyai arti masing-masing. Fear adalah
rasa takut (keadaan emosi yang tidak menyenangkan), yang di timbulkan oleh
suatu objek yang jelas dan alasannya pun jelas, atau disebut juga dengan takut
rasional. Fobia adalah takut yang irasional pada satu objek atau situasi
tertentu artinya objeknya memang jelas, tetapi alasannya tidak masuk akal atau
tidak jelas. Fobia termasuk gangguan mental.
Anxiety atau cemas, adalah takut yang tidak jelas objeknya
dan tidak jelas pula alasannya. Pada orang normal sering terjadi cemas yang
normal. Jenis-jenis kecemasan antara lain adalah generalizated anxiety disorder
(kecemasan umum) ,panic disorder atau panik yaitu perasaan teror yang
intens,gemetar, bingung ,mau muntah sesak napas, dan merasa dunia akan kiamat.
Berikutnya adalah sosial anxiety disorder atau disebut juga fobia sosial, orang
yang bersangkutan merasa dirinya selalu dinilai jelek oleh orang lain.
Separation anxiety atau cemas menghadapi perpisahan banyak terjadi pada
anak-anak .
Kecemasan bisa berawalsejak masih usia kanak-kanak dan
berkembang tahat demi tahap. Misalnya kecemasan yang timbul karena di masa
kecil sering di kunci dikamar sendirian sementara ibunya berbelanja. Disisi lain kecemasan juga bisa terjadi
setelah suatu peristiwa yang menimbulkan trauma mental.penderita kecemasan
pascaperistiwa traumatis ini diberi sebutan khusus, yaitu PTSD (Posttraumatic stress disorder) dan untuk
mereka para pakar psikologi telah mengembangkan berbagai teknik psikoterapi
yang dasarnya adalah terapi perilaku kognitif untuk orang dewasa dan terapi
bermain untuk anak-anak. Untuk penderita kecemasan selain PTSD kadang-kadang
psikiater memberikan juga obat-obatan, karena ada kemungkinan dari factor
neurolgis terhadap timbulnya kecemasan itu. Tetapi, dalam kenyataan sangat
sedikit atau hamper tidak ada enderita kecemasan yang disebabkan murni oleh
factor neurologis. Hamper semua disebabkan oleh factor psiko-sosial dan
lingkungan.
Jenis-jenis kecemasan antara lain adalah generalized anxiety disorder atau keemasan umum, yang terdapat pada
perempuan dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Jenis ini tidak focus pada
objek atau situasi tertentu, tidak spesifik atau mengambang. Orang yang
bersangkutan bisa bilang bahwa dia cemas, takut, tetapi tidak bisa menebutkan
mengapa dia cemas. Yang jelas, dia tidakbisa mengontrol emosi takutnya dan
reaksi takut pada tubuhnya.
Jenis yang lain adalah panic disorder atau panic, yaitu
perasaan terror yang intens, gemetar, bingung, mau muntah, sesak napas dan
merasa dunia akan kamat. Walaupun bisa muncul begitu saja, rasa panic ini
biasanya timbul karena suatu peristiwa yang menakutkan, stress yang
berkelanjutan, atau setelah latian olahraga. Reaksi fisik yang intens bisa
terjadi selama sepuluhmenit atau kurang, tetapi dampaknya bisa berjam-jam
sesudahnya. Mereka yang mendapat serangan panic sehabis olahraga mengira
dirinya mendapat serangan jantung, dan dilarikan ke Unit Gawat Darurat, namun
setelah diperiksa ternyata dia sehat-sehat saja.
Berikutnya adalah social
anxiety disorder atau disebut juga fobia social. Orang yang bersangkutan
merasa bahwa dirinya selalu dinilai jelek oleh orang lain. Termasuk dalam
golongan ini adalah demam panggung. Yaitu orang yang takut untuk tampil di depan
umum.
Separation anxiety atau
cemas menghadapi perpisahan banyak terjadi pada anak-anak, yaitu ketika anak
itu harus berpisah dari orang yang selama ini memberinya perasaan aman dan
terlindung.
Bipolar Disorder (emosi yang berubah-ubah dari
positif ke negatif dan sebaliknya)
Dulu
gangguan mental ini disebut dengan manis-depressif, karena gejalanya adalah
pergantian terus menerus antara emosi sangat positif (manis) seperti riang
gembira, euphoria, senang dan sebagainyadan emosi sangat negatif (depresif)
seperti murung, sedih ,ingin menangis dan sebagainya. Sekarang gangguan ini
disebut bipolar (dua-kutub), karena emosi itu bergerak bolak-balik dari satu
kutub yang ekstrem (manis) ke kutub yang lainnya (deprsif). Masa perubahan
antara kedua kutub ini diisi dengan emosi yang netral bisa juga perubahan
begitu cepat sehingga tidak sempat diselingi emosi netral.
ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity
Disorder,Hiperaktif tetapi Kurang Konsentrasi)
Gangguan mental yang satu ini sepenuhnya disebabkan oleh gangguan
dalam perkembangan syaraf. Ciri ADHD adalah :
a. Terus
menerus tidak dapat memfokuskan perhatian dari satu hal.
b. Hiperaktif
c. Mudah
lupa dan tidak dapat mengendalikan implus-implusnya.
Kondisi ini jelas sangat
melelahkan bagi orang disekitarnya, orang tua dan guru khususnya .
Autism
Seperti halnya
ADHD, autism adalah juga merupakan gangguan mental kerena kelainan neurologis
,yaitu ada gangguan di otak, dan atau sistem syarafnya. Soekadar (2007)
menemukan bahwa penderita autis terdapat setidaknya tiga bagian otak yang terganggu,
yakni lobus frontalis, sistem limbik dan hemisfer kanan. Berbeda dengan ADHD
yang tidak berkosentrasi.
Autism
dipercaya sebagai akibat dari mutasi (perubahan) genetik sehingga bisa terjadi
pada anak-anak termasuk kepada yang kondisi orang tuanya sehat. Penderita
autism sudah dapat dilihat sejak berumur 2-3 tahun. Tanda-tanda lain selain
gerakan-gerakan yang berulang-ulang adalah tidak ada kontak mata dengan orang
lain ,kalau dipanggil tidak menyahut. Dampaknya adalahbahwa seseorang autis
bisa tidak peduli sama sekali dengan kejadian disekitarnya sehingga ia bisa
melakukan sesuatu tanpa memedulikan bahaya sama sekali. Disisi lain seorang
autis bisa mempunyai bakat yang luar biasa yaitu biasa disebut autis savant.
Phobias/fobia (Rasa takut yang tidak beralasan)
Fobia berasal
dari kata Yunani ,phobos yang berarti “takut”, takut dalam fobia adalah
rasional, menetap dan sangat intens yang ditunjukkan kepada situasi, benda, kegiatan
atau orang tertentu. Para pakar menduga bahwa fobia disebabkan oleh kombinasi
antara faktor bakat, keturunan, dan pengalaman tertentu. Penyebab pobia itu
adalah pengalaman traumatis ketika secara tidak sengaja meliahat sesuatu yang
disimpan dalam ketidaksadarannya. Jenis pobia banyak sekali bahkan sampai mencapai
ratusan.
Secara umum, phobia
adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau
kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk ngejauhin sesuatu yang ditakuti
itu.Bedanya sama rasa takut biasa adalah, hal yang ditakuti sebenarnya nggak
menyeramkan untuk sebagain besar orang. Phobia terjadi karena adanya faktor
biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di
otak. Bisa juga karena ada sesuatu yang nggak normal di struktur otak. Tapi
kebanyakan psikolog setuju, phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian
traumatis.
Fobia ( phobia )
adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia (
phobia )bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi
sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu
sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman
sekitarnya.
Ada perbedaan
"bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia.
Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia
biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang
berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara
dibayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang
sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.
Dalam keadaan normal
setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila
seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi
menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental
seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang
bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya
fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti
trauma bom, terjebak lift dan sebagainya. Seseorang yang pertumbuhan mentalnya
mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya.
Hal tersebut dikarenakan orang
tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap
kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan
merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat
adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi.
Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi
emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar
(represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek
fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat.
Walaupun terlihat sepele, “pola”
respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu
sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak
produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.
Phobia atau fobia bukan
merupakan penyakit jiwa. Tapi kalau tidak disembuhkan, bisa menular ke orang
lain. Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak mempunyai alasan. Bagi mereka
yang menderita fobia, sesuatu yang remeh tampak sangat menakutkan. Bahkan
berubah menjadi kengerian.
Penyebab
fobia bisa bermacam-macam. Yang jelas, berkaitan dengan pengalaman pribadi di
masa lalu. Pola asuh yang salah dari orangtua juga berpengaruh. Jadi, bisa
dikatakan, penyebab utama timbulnya fobia adalah rasa cemas yang berlebihan.
Penderita fobia biasanya memiliki beberapa gejala psikologis. Jika ketakutannya
muncul, dia langsung merasa sakit kepala, denyut nadi bertambah cepat atau
berkeringat, muka menjadi merah. Bahkan kalau sudah parah, bisa muntah atau
pingsan.
Macam-macam
fobia
Menurut
sebuah penelitian, di dunia ini, kira-kira cuma sepuluh persen orang yang
menderita fobia. Kita tidak perlu malu kalau ternyata kita menderita fobia.
Semua orang sebenarnya memiliki fobia, namun perbedaannya, fobia itu mengganggu
atau tidak, itu saja.
Sampai
sekarang, ada sekitar 264 jenis fobia yang telah dikenal, semuanya ada namanya.
Fobia sederhana adalah bentuk yang paling umum. Ketakutan pada sesuatu yang
khusus, misalnya pada pesawat terbang atau binatang.
Bentuk yang paling unik adalah fobia sosial, yang disebabkan oleh keadaan psikologis dan biasanya banyak diderita oleh remaja. Penyebab utamanya, ketakutan pada perhatian orang terhadap dirinya. Penderita takut melakukan suatu tindakan, malu atau takut dirinya akan dipermalukan.
Bentuk
fobia ini bisa bermacam-macam. Contohnya tiba-tiba kamu jadi tidak bisa bicara
dan tidak bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya “biasa”. Misalnya kencan,
makan atau minum di depan orang banyak, dan lain-lain. Orang yang menderita
fobia biasanya menjadi terlena oleh ketakutannya. Rasa takut tersebut cenderung
dipelihara. Rasa takut yang berlebihan, apalagi tanpa alasan yang jelas, akan
merugikan dan mengganggu. Si penderita jadi tidak bisa melakukan aktivitas lain
karena merasa ketakutan yang berlebihan. Kerugian lain, ketakutan itu berubah
menjadi rasa benci atau anti terhadap penyebab fobia. Benci terhadap orang, benda,
atau binatang tertentu.
Kalau
fobia tidak mengganggu kehidupan sosial, ini bukan gangguan jiwa. Kalau sudah
mengganggu, sehingga tidak bisa menjalankan kegiatan sehari-hari, disebut
sebagai gangguan jiwa.
Schizophrenia/Skizofrenia
Skizofrenia
berasal dari kata yunani yang artinya suatu diagnosis gangguan mental yang
ditandai oleh kelainan dalam presepsi atau expresi dari realitas. Yang paling
sering adalah halusinasi auditif (seakan-akan mendengar suara-suara atau
mengajak bercakap-cakap). Delusi paranoid (curiga).
Faktor penyebabnya
belum jelas. Bisa dikarenakan turunan atau genetik , bisa juga karena gangguan
syaraf,tetapi dalam biologi menyatakan bahwa ada beberapa kromosom yang
berkontribusi terhadap timbulnya skizofrenia tersebut.
Gangguan-gangguan
psikis yang sekarang dikenal sebagai schizophrenia, untuk pertama kalinya
diidentifikasi sebagai "demence precoce" atau gangguan mental dini
oleh benedict muler (1809-1873), seorang dokter berkebangsaan belgia pada tahun
1860 (dalam pratiknya, 1995). konsep
yang lebih jelas dan sistematis diberikan oleh emil kraepelin (1856-1926),
seorang psikiatri jerman pada tahun 1893. kraepalin menyebutnya dengan istilah
"dementia praecox". istilah dementia praecox berasal dari bahasa
latin "dementis" dan "precocous", mengacu pada situasi
dimana seseorang mengalmi kehilangan atau kerusakan kemampuan-kemampuan
mentalnya sejak dini.merupakan proses penyakit yang disebabkan oleh penyakit
tertentu dalam tubuh meliputi hilangnya kesatuan dalam pikiran, perasaan, dan
tingkah laku. penyakit ini muncul pada usia muda yang ditandai oleh
kemampuan-kemampuan yang menurun yang akhirnya menjadi disentegrasi kepribadian
yang kompleks. gambarannya meliputi pola tingkah laku seperti delusi,
halusinasi, dan tingkah laku yang aneh.
Uegen Bleuler
(1867-1939), seorang psikiatri swiss memperkenalkan istilah schizophrenia.
istilah ini berasl dari bahasa yunani schitos artinya terbelah/terpecah dan
phren artinya pikiran. secara harafiah schizophrenia berarti pikiran/jiwa yang
terbelah/terpecah.bleuler lebih menekankan pola perilaku yaitu tidak adanya
integrasi otak yang mempegaruhi pikiran, persaan dan afeksi. dengan demikian
tidak adanya kesesuaian antara pikiran dan emosi, persepsi kenyataan yang
sebenarnya.
Schizophrenia
termasuk dalam kelompok psikosis fungsional.psikosis fungsional merupakan
penyakit mental secara fungsional yang non organis sifatnya, hingga terjadi
kepecahan yang ditandai oleh desintegrasi kepribadian dan maladjusment sosial
yang berat, tidak mampu mengadakan hubungan sosial dengan dunia luar bahkan sering
terputus sama sekali dengan realitas hidup lalu menjadi ketidakmampuan secara
sosial. hilanglah rasa tanggung jawabnya dan terdapat gangguan pada fungsi
intelektualnya. jika perilakunya tersebut menjadi begitu abnormal dan
irasionalnya, sehingga dapat membahayakan dan mengancam keselamatan dan dirinya
sendiri secara hukum disebut gila. schizophrenia merupakan gangguan mental dan
klasifikasi berat dan kronik(psikotik) yang menjadi beban utama pelayanan
kesehatan jiwa di indonesia sejak jaman pemerintahan hindia belanda sampai
sekarang. mengapa menjadi beban? karena ciri produktif dan harus ditanggung
hisupnya selamanya oleh sanak keluarga, masyarakat, dan negara.
PENYEBAB GANGGUAN SCHIZOPHRENIA
PENYEBAB GANGGUAN SCHIZOPHRENIA
Terdapat
beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab schizophrenia yaitu
meliputi pendekatan biologis (meliputi faktor genetik dan faktor biokimia)
pendekatan psikodinamik, pendekatan teori belajar.
PENDEKATAN HOLISTIK
PENDEKATAN HOLISTIK
Faktor genetic
Beberapa penelitian menunjukkan
pengaruh faktor genetis dalam menularkan shizophrenia, namun tetep menjadi
pertayaan: bagaimana penularan genetis terjadi. beberapa peneliti mencoba
dengan beberapa model (Rathus,et al., 1991), antara lain:
a.
Distinct Heterogenity Model
model ini menyatakan bahwa
shizophrenia terdiri dari sejumlah psikosis, beberapa diantaranya disebabkan
oleh kerusakan gen yang dapat diikuti oleh gen-gen tertentu dan yang hanya
disebabkan oleh faktor lingkungan.
b.
Monogenic Gen
Model ini menyatakan bahwa
semua bentuk schizophrenia dapat disebabkan oleh suatu gen yang cacat. gen yang
cacat ini dapat menyebabkan schizophrenia pada orang yang menerima gen itu dari
kedua orang tuanya.
c.
Multifactorial-Polygenic Model
Model ini menekankan
pengaruh nilai ambang. disebabkan pengaruh oleh berbagai gen, trauma biologis
prenatal dan postnatal dan tekenan psikososial yang salaing berinteraksi.
Faktor biokimia.
Otak
Bagi
orang yang normal kelainan saraf, sistem switch pada otak bekerja dengan
normal.sinyal-sinyal persepsi yang datang dikirim kembali dengan sempurna tanpa
adanya gangguan sehingga menghasilkan perasaan, pemikiran dan akhirnya
melakukan tindakan sesuai kebutuhan saat itu. pada otak penderita schizophrenia
sinyal-sinyal yang dikirim mengalami gangguan sehingga tidak berhasil mencanpai
sambungan otak yang dituju.
GEJALA
Para
psikiatri membedakan membedakan gejala serangan schizophrenia menjadi 2 yaitu
gejala positif dan negative.
Gejala
positif
Halusinasi
selalu terjadi saat ransangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan
dan merespon pesan atau ransangan yang datang. Penderita schizophrenia mungkin
mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau
mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory
hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu penderita merasakan ada
suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu dirasakan menyejukkan hati, memberi
kedamaian, tapi kadang sura itu menyuruhnya melakukan Sesuatu yang sangat
berbahaya, seperti bunuh diri.
Penyesatan
pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu
yang kadang berlawanan dengan kenyataan. Misalnya pada penderita schizophrenia,
lampu trafik dijalan raya yang berwarna merah kuning hijau, dianggap sebagai
suatu isyarat dari luaar angkasa. Beberapa pendarita schizophrenia berubah
menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamati-mati, diintai,
atau hendak diserang.
Kegagalan
berpikir mengarah kepada masalah dimana penderita schizophrenia tidak mampu
memproses dan mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu memahami
hubungan antara kenyataan dan logika. Karena penderita schizophrenia tidak
mampu mengatur pikirannya mebuat mereka berbicara secara serampangan dan tidak
bisa di tangkap secara logika. Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan
ketidakmampuan mengandalikan emosi dan perasaan. Hasilnya, kadang panderita
schizophrenia tertawa sendiri dengan keras tanpa memperdulikan sekelilingnya.
Semua itu membuat penderita schizophrenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak
berpakaian, dan tidak bisa mengarti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa
mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebainya.
Gejala
negative
Penderita
schizophrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti kehilangan energi dan
minat dalam hidup yang membuat penderita menjadi orang yang malas. Karena
penderita schizophrenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa
melakukan hal-hal yang selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat
emosi penderita schizophrenia menjadi datar. Penderita schizophrenia memiliki
ekspresi baik dari raut muka maupan gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak
memiliki emosi apapun. Tapi ini tidak berarti bahwa penderita schizophrenia
tidak bisa merasakan perasaan apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian
dan perhatian orang lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.
Depresi
yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian
dari hidup mereka. Mereka tidak meras memiliki perilaku yang menyimpang, tidak
bisa membina hubungan yang relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta.
Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Disamping itu
perubahan otak secara biologis juga memberi adil dalam depresi. Depresi yang
berkelanjutan akan membuat penderita schizophrenia menarik diri dari
lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian.
Menurut
bleuler diagnosa schizophrenia sudah boleh dibuat bila terdapat gangguan
–gangguan primer dan disharmoni (keretakan, perpecahan atau ketidakseimbangan)
pada unsure-unsur kepribadian (proses berpikir, emosi, kemauan dan
psikomotorik) diperkuat dengan gejala-gejala sekunder.
Kurt
Schneider (1939) menyusun 11 gejala rangking pertama (“first rank symptoms”)
dan berpendapat bahwa diagnosa schizophrenia sudah boleh dibuat bila terdapat
satu gejala dari kelompok A dan satu gejala dari kelompok B, dengan syarat
bahwa kesadaran penderita tidak menurun.
Pengobatan
harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan
kemungkinan yang lebih besar bahwa penderita menuju kemunduran mental.
1. Farmakoterapi
Neroleptika
dengan dosis efektif rendah lebih bermanfaat pada penderita dengan
schizophrenia yang menahun, yang dengan dosis efektif tinggi lebih berfaedah
pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat. Sesudah gejala-gejala
menghilang, maka dosis dipertahankan lagi, jika serangan itu baru yang pertama
kali. Jika serangan schizophrenia sudah lebih dari 1 kali maka obat diberi
terus selama satu sampai dua tahun.
2. Terapi elektro konvulsi (TEK)
Terapi
konvulsi dapt memperpendek serangan schizophrenia dan mempermudah kontak dengan
penderita. Akan terapi ini tidak dapat mencengah serangan yang akan datang.
3. Terapi koma insuli
Meskipun
pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan penyakit hasilnya
memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan
sesudah penderita jatuh sakit.
4.
Psikoterapi dan rehabilitas
Psikoterapi
suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis dengan maksud
untuk mengambalikan penderita ke masyarakat. Terapi kerja baik sekali untuk
mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan
dokter.
5. Lobotomy
prefrontal
Dapat
dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak beerhasil dan bila penderita
sangat menganggu lingkungannya.
Poros II
Dissociative Identity
Disorder (DID)
DID, atau yang sering dikenal dengan Split personality atau
multiple personality (kepribadian ganda), dulu di anggap sebagai salah satu
jenis Skizofrenia karena mengandung suatu gejala dari gangguan mental itu, yaitu
pola pikir yang kacau. Dalam DSM IV, DID sudah digolongkan sebagai jenis
gangguan mental tersendiri.
Cirinya
adalah minimal dua identitas atau kepribadian yang berbeda mengendalikan
perilaku orang yang bersangkutan. Kepribadian-kepribadian itu mempersepsi
,menilai dan beraksi terhadap lingkungan dengan cara sangat berbea dan ketika
yang satu sedang memegang kendali ,kepribadian-kepribadian yang lain tidak tahu
menahu. Dengan demikian terjadi gejala yang khas dari pasien DID yaitu tidak
ingat dengan apa yang sudah dilakukannya. Gejala ini bukan karena pengaruh
obat-obatan ,trauma,benturan di kepala,usia tua atau penyebab medis yang lain,
melainkan karena pergantian kendali dalam jiwa penderita.
Poros III
Paranoia
Paranoia
adalah gangguan jiwa yang cukup dikenal oleh orang awam disamping kepribadian
ganda. Bahkan ada istilah awam untuk gangguan jiwa yang satu ini yaitu “parno”
(singkatan dari paranoia) yang maksudnya adalah orang yang sering curiga.
Dalam dunia psikiatri dan psikologi istilah paranoia
mempunyai arti yang baku yaitu gangguan dalam proses berpikir yang ditandai
dengan kecemasan atau ketakutan yang berlebihan seingga mencapai tingkat yang
masuk akal dan disertai delusi (waham). Ciri Khas orang “paranoia” adalah
merasa selalu ada ancaman.
Paranoia adalah salah satu gangguan kepribadian yang cukup
mempengaruhi efektivitas perilaku individu dalam berinteraksi dilingkungannya.
Menurut JP Chaplin, Phd, paranoia adalah suatu ciri gangguan psikotic yang
ditandai adanya delusi yang sistematis atau waham dengan sedikit deterioasi.
Hal ini cenderung menetap dan cukup kuat pengaruhnya serta membuat individu
pada kondisi incapacity.
Disamping
itu dikenal istilah lain, yaitu paranoic atau paranoiac, yang berarti individu
yang menderita paranoia atau paranoid schizophrenia. Beberapa istilah lain yang
terkait adalah sebagai berikut :
Paranoid :
1. Berhubungan atau sama dengan paranoia.
1. Berhubungan atau sama dengan paranoia.
2. Individu yang memiliki
ciri perilaku atau sikap seperti orang paranoia, atau orang yang merasa
terancam oleh orang lain.
Paranoid personality :
Suatu
kepribadian yang ditandai adanya sikap penuh curiga, sangat sensitif tanpa
adanya deteriorasi atau delusi.
Paranoid schizophrenia :
Salah
satu jenis dari schizophrenia yang ditandai oleh gejala delusi atau sikap
sangat curiga. Hal ini disebabkan adanya gangguan difungsi berpikir, halusinasi
dan deteriorasi.
Seorang ahli psikologi lain
James C. Coleman, menyebutkan beberapa pengertian berkaitan dengan ini sebagai
berikut :
Paranoia :
Suatu
ciri psikosis yang ditandai adanya delusi yang sistematis.
Paranoid Personality :
Individu yang menunjukan
gejala perilaku proyeksi seperti defence mencahnism, curiga, iri, sangat
cemburu dan keras kepala.
Paranoid Schizophrenia :
Salah satu jenis dari
schizophrenia yang ditandai adanya delusi dan halusinasi yang biasanya cukup
kuat.
Istilah
paranoia sendiri telah digunakan dalam waktu yang cukup lama. Pada jaman Yunani
kuno dan Romawi istilah ini digunakan untuk mengacu pada suatu gangguan yang tidak
dapat dibedakan dengan berbagai gangguan mental lainnya. Saat ini penggunaan
istilah ini lebih terbatas sejak Kraeplin menunjukan suatu kasus dimana adanya
delusi dan kontak yang minim dengan realitas namun tidak terjadi disorganisasi
personality yang kuat seperti yang terjadi pada kasus schizophrenia.
Saat ini ada 2 jenis
psikosis paranoid yang termasuk dalam kelompok gangguan paranoid, yaitu :
1. Paranoia, dimana
terjadinya delusi yang berkembang secara perlahan kemudian menjadi rumit, logis
dan sistematis serta hal tersebut berpusat pada delusi merasa dikejar-kerjar
atau waham kebesaran. Meski adanya delusi, kepribadian penderita masih utuh,
tidak ada disorganisasi yang serius dan tanpa halusinasi.
2. Paranoid state,
terjadinya perubahan delusi yang paranoid dan cara berpikir menjadi tidak logis
serta munculnya ciri-ciri paranoia, meskipun belum menunjukkan perilaku yang
aneh atau deteriorasi seperti yang ditemukan pada kasus schizophrenia paranoid.
Biasanya kondisi ini berhubungan dengan stress yang kuat dan mungkin pula
karena fenomena kefanaan. Paranoid states sering mewarnai gambaran klinis dari
jenis gangguan patologis lainnya.
Namun,
perhatian utama kita saat ini tertuju pada paranoia. Paranoia relatif sedikit
ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa, namun hal ini mungkin
terjadi karena kekeliruan dalam mengidentifikasi gangguan mental. Banyak para
penemu/inventor, guru, eksekutif bisnis, reformer fanatik, pasangan pencemburu,
orang-orang nyentrik yang mendalami suatu ajaran tertentu termasuk dalam
kategori ini. Namun, uniknya mereka ini mampu mempertahankan eksistensinya di
masyarakat. Dalam beberapa kasus diantara mereka ada yang berkembang menjadi seseorang
yang sangat berbahaya.
Individu
yang mengalami paranoia merasa sendirian, diabaikan, dimata-matai, dan persepsi
salah lainnya tentang adanya ancaman dari ‘musuh.’ Delusi ini biasanya berpusat
pada satu hal misalnya menyangkut masalah keuangan, pekerja, pasangan yang tdk
dapat dipercaya atau masalah-masalah kehidupan lainnya. Orang yang mengalami
kegagalan dalam bekerja akan mengembangkan sikap curiga seperti ada orang lain
yang cembutu terhadap prestasi kerjanya sehingga ingin menjatuhkannya.
Seorang
paranoia memiliki alasan tertentu mengapa mereka curiga dan tidak mau menerima alasan
lain yang sebenarnya lebih benar. Karena sikap curiga tersebut ia dapat
melakukan interogasi terhadap mereka yang dianggap musuh.
Banyak
dari penderita paronoia ini memiliki waham dimana ia seorang superior dan
memiliki kemampuan yang unik. Terkadang mereka merasa mendapat mandat atau
wahyu untuk menjalankan suatu misi suci, melakukan pembaharuan dan perubah
sosial. Para paranoiac religius mengembangkan keyakinan bahwa ia mendapat
amanat dari Tuhan untuk menyelamatkan manusia dan melakukan khotbah-khotbah
bahkan mengajak dilakukannya perang suci.
Berkaitan
dengan delusi yang dialami paranoiac dapat tampil dengan sangat sempurna,
berbicara fasih dan terkesan memiliki emosia yang matang. Halusinasi dan ciri
gangguan lain jarang ditemukan pada paranoiac ini. Mereka berupaya melakukan
pembenaran dengan cara-cara yang logis agar dapat dipercaya. Dalam kasus ini
sangat sukar dibedakan mana yang fakta atau hanya sekedar imaji. Mereka
berupaya agar orang-orang disekitarnya mempercayai apa yang dikatakannya. Mereka
gagal untuk melihat fakta lain diluar apa yang mereka yakini dan kurang dapat
membuktikan keyakinannya, kecurigaanya serta mereka menjadi tidak komunikatif
saat ditanyakan mengenai delusinya tersebut.
Meskipun
demikian paranoic ini tidak selalu berbahaya, tetapi mereka tetap memiliki
peluang untuk melakukan sesuatu hal yang merugikan terhadap orang-orang
dianggap musuhnya.
Tahapan
berpikir yang mendorong terjadinya paranoia :
1.
Suspiciousness/Curiga - individu menjadi tidak
percaya kepada orang lain, takut akan dirugikan dan menjadi sangat siaga.
2.
Protective Thinking – mengkaji secara selektif
tindakan orang lain dan melihatnya secara curiga dan mulai menyalahkan orang
lain atas kegagalannya.
3.
Hostility/permusuhan – sangat sensitif terhadap
ketidakadilan yang dirasakan meskipun tidak benar, hal ini direspon secara
marah dan sikap permusuhan dan ini semakin meningkatkan kecurigaan.
4.
Paranoid Illumination / Berkembangnya Paranoid –
Sikap penuh curiga sudah menjadi bagian dirinya dan ia merasakan adanya sesuatu
yang aneh namun ia ia telah tenggelam dalam situasi kecurigaan tersebut.
5.
Delusions – merasa dikejar-kejar atau adanya
waham kebesaran namun ia mengembangkan suatu alasan yang logis dan
mengembangkan tindakan-tindakan yang dapat dipahami oleh orang lain.
Faktor
Penyebab Paranoia :
1. Kegagalan proses
belajar.
2. Kegagalan &
inferiority
3. Elaborasi sistem pertahan
diri & Pseudocommunity.
Kegagalan
proses belajar – biasanya sejak masa kanak-kanak, paranoia suka menyendiri,
pencuriga, mengasingkan diri, keras kepala dan sangat sensitif. Saat diingatkan
mereka cemberut dan uring-uringan. Hanya sedikit dari mereka yang menunjukan
kemampuan bermain dengan anak lain yang normal atau bersosialisasi dengan baik.
Latarbelakang
keluarga memegang peranan yang penting. Situasi lemahnya penerimaan dalam
keluarga dan penggiringan sikap inferioritas akan mengembangkan sikap anak
untuk berusaha menjadi superior. Ketidakmantapan latarbelakang keluarga
mempengaruhi perasaan anak terhadap orang lain dan membentuk perilaku negaif
anak terhadap orang lain.
Proses
sosialisasi yang tidak tepat membentuk perilaku anak yang mudah curiga kepada
orang lain. Dengan demikian akan terbentuk sikap permusuhan dan ingin
mendominasi orang lain. Kondisi ini akan saling mempengaruhi, sikap
bermusuhannya direspon secara negatif oleh lingkungan dan iapun semakin curiga
dengan orang lain sehingga perlahan-perlahan terbentuk kepribadian yang
paranoia. Selanjutnya terjadilah isolasi sosial dan ia semakin tidak percaya
kepada orang lain.
Perkembangan
kepribadian selanjutnya dimasa kanak-kanak ini mengembangkan suatu sikap
gabungan dari merasa diri penting, kaku, arogan, ingin mendominasi dan
membentuk gambaran diri yang tidak realistis dan menimpakan kegagalan atau
kesialannya kepada orang lain. Mereka menjadi sangat curiga dan sangat peka
menghadapi situasi ketidakadilan. Selanjut individu tidak memiliki selera
humor.
Mereka
mulai mengkategorikan mana orang baik dan jahat. Harapan mereka dan tujuan
hidup mereka seringkali tidak realistik. Mereka menolak untuk menerima
permasalahan yang dengan cara-cara yang lebih realistik. Mereka cenderung
menjadi orang yang uring-uringan dan menolak kontak yang normal. Mereka tidak
mampu membina hubungan sosial yang hangat, bersikap agresif dan merasa superior.
Kegagalan
dan Inferiority: Biasanya riwayat para paranoiac sarat dengan
kegagalan dalam beradaptasi dengan situasi kehidupan yang penting seperti
lingkungan sosial, pekerjaan dan perkawinan. Menghadapi ini mereka bersikap
rigid, membuat goal yang tidak realistik dan tidak mampu membina hubungan
jangka panjang dengan orang lain. Kegagalan ini diinterpretasikan olehnya
sebagai penolakan, penghinaan dan peremehan oleh orang lain.
Kegagalan
ini menyebabkannya sukar untuk memahami sebab-sebab utama sebenarnya dari
permasalahan yang ia alami. Misalnya, mengapa mereka harus meningkatkan
kemampuannya dalam berhubungan sosial dalam rangka mencegah reaksi negatif dari
orang lain – mengapa mereka sampai tidak disukai dalam pekerjaan misalnya
karena mereka menyelidiki sesuatu secara sangat rinci. Ia tidak mampu untuk
memahami dirinya dan situasi secara objektif, tidak mampu memahami mengapai ia
sampai menarik diri dan mengapa orang lain menolaknya.
Meskipun
demikian perasaan inferiority dari penderita paranoia bersifat topeng saja,
karena sesungguhnya mereka ingin superior dan menganggap dirinya penting dan
hal ini dimanifestasikan dalam banyak aspek dari perilakunya. Mereka sangat
ingin dihargai, hipersensitif terhadap kritik, sangat teliti dan rajin.
Para
individu paranoid pada saat dihadapkan dengan kegagalan mereka biasanya
mengatakan “orang-orang tidak menyukai kamu,” barangkali ada sesuatu yang salah
pada diri kamu,” kamu inferior.” Mereka sering bersikap defensif, menjadi
sangat kaku dan cenderung menyalahkan orang lain. Pola-pola defensif ini akan
membantu melindungi dirinya dari perasaan inferiority dan perasaan tidak
berharga.
Selanjutnya
dikenal pula istilah elaborasi mekanisme pertahanan diri dan “Pseudocommunity.”
Dimana diri merasa kaku, merasa diri penting, tidak humoris dan pencuriga
membuat penderita tidak populer dilingkungan sosialnya. Mereka saring salah
menangkap maksud orang lain. Sensitif terhadap ketidakadilan.
Reaksi
paranoid biasanya berkembang secara bertahap. Kegagalan yang ia alami membuat
ia mengelaborasi defence mechanism. Untuk menghindari agar dinilai tidak mampu
mereka mengembangkan alasan logis dibalik kegagalannya.
Secara
bertahap gambaran dimulai dengan kristalisasi proses yang lazim disebut
paranoid illumination. Kemudian hal tersebut berkembang sedemikian rupa
sehingga penyebab-penyebabnya semakin kabur. Penderita mulai melindungi dirinya
dan memiliki asumsi bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya (ditahap awal).
Selanjutkan kegagalan tersebut ia timpakan kepada orang lain.
Kemudian
terjadi proses apa yang disebut dengan pseudo community dimana penderita mulai
mengkategorisasikan orang-orang disekitarnya (faktual atau bayangan) yang
menentang atau tudak menyukai dirinya.
Kejadian-kejadian
menjadi perhatian penderita. Ia selalui menyikapi hal-hal disekitarnya dengan
sikap curiga. Pseudo community ini bisa disebabkan karena stress yang kuat,
misalnya akibat kegagalan ditempat kerja. Ia akan menimpakan kesalahan tersebut
kepada orang lain dan mulai mengidentifikasikan orang-orang yang dianggap
menghambatnya atau menentang dirinya.
Upaya
penanganan: Pada tahap awal paranoia, penanganan secara
kelompok maupun individual masih efektif, terutama apabila penderita memiliki
kesadaran untuk mencari bantuan profesional.
Tehnik
terapi tingkah laku menunjukkan hal-hal menjanjikan seperti, ide paranoid
muncul karena berbagai kombinasi hal-hal yang tidak menyenangkan, berbagai
faktor perubah dalam situasi kehidupan seseorang semakin memperkuat perilaku
maladaptifnya dan berkembang menjadi cara yang ampuh untuk mengatasi
permasalahannya.
Sekali
sistem delusi menetap, penanganan akan menjadi sangat sukar. Biasanya sulit
berkomunikasi dengan paranoiac untuk mengatasi masalahnya dengan cara-cara yang
rasional. Dalam situasi seperti ini penderita enggan berkonsultasi, tetapi
mereka berusaha mencari pembenaran dan pengertian dari orang lain terhadap kesalahan
yang mereka lakukan.
Hal yang
tidak menguntungkan adalah kurang begitu bermanfaatnya merumahsakitkan
paranoiac. Kepada paranoiac biasanya lebih efektif memberikan hukuman daripada
penanganan. Mereka cenderung menunjukkan kesuperiorannya kepada pasien lain
apabila di rumah sakit dan mengeluh apabila keluarga dan petugas kesehatan
menempatkan mereka di rumah sakit tanpa alasan yang valid, sehingga mereka
menolak bekerjasama dan berpartisipasi dalam kegiatan treatment. Dengan
demikian kegagalannya untuk mengendalikan tindakan dan pikirannya dan sulitnya
bekerjasama membuat mereka tinggal dalam waktu lama di rumah sakit. Hal ini
membuat mereka susah untuk recovery. Meskipun demikian secara tradisional
prognosa tentang paranoia kurang begitu bermanfaat.
Pada saat
awal mengidentifikasikan psikosis dengan schizophrenia dan paranoia, telah
disepakati bahwa manifestasi klinis dari kasus ini harus dibedakan dengan
gangguan neurosis atau psikosomatik. Ciri schizophrenia jelas adanya kegagalan
pemahaman/kontak dengan realitas dan terjadi disorganisasi kepribadian seperti
gangguan dalam fungsi berpikir, afek/perasaan maupun masalah perilaku.
Identifikasi
sebagian besar jenis schizophrenia seperti acute, paranoid, katatonik,
hebephrenic dan simple memperlihatkan perbedaan klinis untuk setiap jenis.
Berbagai faktor penyebab masih sulit dipahami mengapa hal tersebut dapat
berkembang. Meskipun demikian para ahli melihat adanya peran faktor genetik
yang signifikan yang menyebabkan schizophrenia. Mungkin karena
neuropshysiological atau perubahan biochemical yang mengganggu otak berfungsi
normal, termasuk disini adalah kegagalan dalam menyeleksi mekanismenya.
Penyebab yang tepat dari perubahan tersebut harus dapat dipastikan untuk
menentukan apakah karena faktor genetik atau karena gangguan mental. Namun,
harus pula diperhatikan penyebab psikologis lainnya yang signifikan. Disamping
itu faktor psikososial memegang peranan penting pula.Penanganan inovatif perlu
dipertimbangkan seperti chemotherapy, terapi psikososial, program paska
perawatan akan membuat kondisi penderita lebih baik.
Gangguan
paranoid biasanya tidak mengalami disorganisasi kepribadian yang parah
dibandingkan dengan jenis psikosis lainnya, namun mereka sangat
resisten/menolak berbagai tindakan terapi yang diberikan.
Psikopat
Psikopat yaitu
istilah yang digunakan orang-orang yang secara kronik (terus menerus)
menunjukkan prilaku immoral dan anti social. Oleh karena itu, kadang-kadang
digunakan juga istilah “sosiopat”. Biasanya psikopat tahubahwa prilkunya
memalukan atau merusak atau merugikan orang lain, tetapi ia tidak peduli atau
tidak dapt menahan diri untuk tidak melakukannya. Menurut para psikolog dan
psikiater, ketidak peduliannya itu disebabkan karena pada dasrnya para psikopat
memang mengalami kelainan kpribadian.
Prilaku
psikopat biasanya menyangkut prilakuagresif, criminal, atau seksual (misalnya
berkali-kali membunuh atau memperkosa orang), tetapi ada juga yang hanya
terkait dengan prilaku social. Misalnya, bolak-balik meminjam uang tetangga
atau teman tetapi tidak pernah dikembalikan sehingga keluarganya berkali-kali
harus mengumpulkan dana untuk mengembalikan utang itu, sementara yang
bersangkutan terus saja berutang lagi tanpa merasa bersalah. Dalam terminology
psikoanalisi Freud, psikopat adalah orang yang egonya terlalu dikuasai id dan
super-ego tidak ada wibawa/pengaruhnya sama sekali terhadap ego.
Jadi Ego hanya mendengar kata id.
Masa depan psikopat pada umumnya tidak bagus.
Mungkin pada awalnya dia akan berhasil mempengaruhi beberapa orang yang mau
jadi pengikutnya, karena berlainan dengan pendapat awam (bahwa psikopat selalu
ganas dan menyakitkan), psikopat bisa tampil sangat menawan. Dia pandai berbicara
sehingga cepat dapat memperoleh kepercayaan dari orang lain (korban-korban
psikopat biasanya tertipu oleh penampilan yang menawan ini), tetapi karena
perbuatan immoral dan anto sosialnya terus menerus dilakukan, maka makin lama
psikopat akan makin terisolasi dengan lingkunagnnya, diberhentikan dari
pekerjaannya dan sebagainya sehingga akhirnya, ia jatuh dalam kesendirian dan
kemiskinan.
Psikopat secara harfiah berarti sakit
jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche
yang berarti jiwa dan pathos
yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang
antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat
sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan
psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian
sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit
dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang
mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa,
pengidapnya juga sukar disembuhkan Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi
guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25
tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar
balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan
keuntungan dirinya sendiri.
Narkoba
Istilah narkoba
bukanlah istilah kedokteran atau psikologi. Istilah itu, walaupun sering
digunakan institusi resmi (termasuk pemerintah) bahkan digunakan dalam
undang-undang, hanya merupakan singkatan dari kata-kata “narkotik” dan
“obat-obatan berbahaya”. Dalam ilmu kedokteran narkotika dan obat-obat
berbahaya justru sering digunakan untuk tujuan pengobatan. Karena itu, yang
berbahya bukan narkoba itu sendiri, melainkan penyalah gunaan narkoba untuk
tujuan-tujuan lain diluar tujuan kedokteran.
Istilah
narkotika berasal dari kata yunani “narcosis” yang dikemukakan oleh bapak ilmu
kedokteran Hiprokartes, untuk zat-zat yang menimbulkan mati rasa atau lumpuh.
Narkoba adalah singkatan dari
narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain
yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua istilah ini,
baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok
senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar
kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa
dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk
penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di
luar peruntukan dan dosis yang semestinya. Narkotika adalah zat atau obat yang
berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis
yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri
dan dapat menimbulkan ketergantungan . Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah
bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai
pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistem syaraf pusat,
seperti ,alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut)
berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang
dihasilkan oleh minuman yang beralkohol. Di Indonesia walaupun ada Undang-
Undang anti alkhohol,pengawaan praktik tidak terlalu ketat sebab dampak
sosialnya tidak segawat narkoba.
Gangguan Seksual
Gangguan
seksual ada dua macam. Pertama adalah gangguan fungsi seksual (sexual
disfunnction) dan kedua adalah kelainan seksual (sexual deviance).
Gangguan fungsi
seksual adalah gangguan yang terjadi dalam tahap tertentu dari siklus seksual
seseorang. Misalnya timbul rasa ragu, takut, sakit atau takut sakit atau merasa
mual atau merasa jijik sehingga orang tersebut tidak dapat melaksanakan fungsi
seksual tertentu dengan sempurna.
Kelainan
seksual (sexual disorder) atau disebut juga paraphilia adalah jika cara
atau objek dalam perilaku seksual seseorang tidak lazim secara alamiah dan
social. Termasuk dalam kelainan seksula adalah menyukai anak-anak dibawah umur,
perlu menyakiti pasangannya sebelum berhubungan seks, disakiti dulu sebelum
berhubungan seks, kepuasaan seks melalui mengintip, kepuasan seks melalui
pakaian dalam atau aksesoris perempuan, mempertontonkan alat kelamin didepan
umum, dan lain-lain.
PSIKOTERAPI
Psikoterapi
berawal dari upaya menyembuhkan pasien yang menderita penyakit jiwa -
berabad-abad yang lalu orientasi mistik, upaya mengusir roh jahat dengan cara
tidak manusiawi (mengisolasi, mengikat, memasung, memukul) - Philipe Pinel
Melakukan pendekatan bersifat manusiawi, yang berorientasi kasih sayang (love
oriented approach), mendirikan asylum - Anton Mesmer Mempergunakan teknik
hypnosis & sugesti, teknik hypnosis kemudian digunakan oleh Jean Martin
Charcot - Paul Dubois Merumuskan & menekankan peranan penting teknik
berbicara (speech technique, talking cure) yang digunakan kepada pasien. Paul
Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest” - Joseph Breuer (senior
dari Sigmund Freud) & Sigmund Freud - menggunakan teknik hypnosis &
teknik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien2 histeria - Pada Breuer,
talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan hypnosis - Pada Sigmund
Freud, talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan sadar (cikal bakal
lahirnya psikoanalisis)
Psikoterapi
adalah upaya intevensi oleh psikotepis terlatih agar kliennya bisa mengatasi
persoalaannya. Berdasarkan teori dan tekhnik yang diterapkan ada beberapa jenis
psikoterapi : psikonalisi yaitu
dengan cara menjelajahi ketidaksadarn pasiennya melalui wawancara yang
dinamakan assosiasi bebas.
Hypnoterapi yaitu untuk menurunkan
ambang kesadarn dan mensusgesti pasien untuk sembuh. Terapi kelompok yaitu dalam tehnik ini, psikoterapis mengajak
beberapa orang dalam terapi. Terapi
bermain yaitu tehnik ini
digunakan pada anak-anak. Tujuannya adalah agar sambil bermain, anak bisa
memproyeksikan perasaan-perasaannya terhadap linkungannya. Psikodrama yaitu sejumlah pasien atau
pesien bersama keluarganya, bermain peran seakan-akan mereka mempunyai masalah
yang harus diselesaikan bersama. Terapi
humanistic beranggapan bahwa semua orang mempunyai aspek positif dalam
dirinya.
Terapi prilaku bahwa prilaku bisa
ditimbulkan atau dihambat dengan memberinya ganjaran yang positif untuk
menghambat negative. Terapi prilaku
kognitif dalam tehnik ini semua emosi negative terhadap sesuatu benda
dibahas tuntas secara rasional. Terapi
seni yaitu klien dalam membuat benda seni, klien dapat melepaskan
emosinya dan memproyeksikan perasan-perasannya sehingga terasa ringan. Konseling tehnik ini berbentuk
wawancara, dimana terapis membantu klien untuk mencari penyelesaian yang
terbaik untuk masalahnya.
Umumnya psikoterapi dianjurkan bila seseorang bergulat dengan kehidupan,
masalah hubungan atau kerja atau masalah kesehatan mental tertentu, dan isu-isu
atau masalah yang menyebabkan banyak individu yang besar rasa sakit atau marah
selama lebih dari beberapa hari. Ada pengecualian untuk aturan umum, tetapi
sebagian besar, tidak ada salahnya untuk pergi ke terapi bahkan jika Anda tidak
sepenuhnya yakin Anda akan mendapat manfaat dari itu. Jutaan orang mengunjungi
psikoterapis setiap tahun, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa
orang yang melakukannya manfaat dari interaksi. Kebanyakan terapis juga akan
jujur dengan Anda jika mereka yakin Anda tidak akan mendapatkan keuntungan atau
pendapat mereka, tidak perlu psikoterapi.
Psikoterapi modern sangat berbeda dengan versi Hollywood.
Biasanya, kebanyakan orang melihat terapis mereka sekali seminggu selama 50
menit. Untuk obat-janji saja, sesi akan bersama seorang perawat kejiwaan atau
psikiater dan cenderung terakhir hanya 15 sampai 20 menit. Janji ini pengobatan
cenderung dijadwalkan sekali per bulan atau sekali setiap enam minggu.
Kebanyakan psikoterapi cenderung berfokus pada pemecahan masalah dan
berorientasi pada tujuan. Itu berarti pada awal perawatan, Anda dan terapis
Anda memutuskan perubahan spesifik yang Anda ingin lakukan dalam kehidupan
Anda. Tujuan ini akan sering dipecah ke dalam tujuan dicapai lebih kecil dan
dimasukkan ke dalam rencana pengobatan formal. Sebagian psikoterapis hari
bekerja dan fokus pada membantu Anda untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini
dilakukan hanya melalui berbicara dan membahas teknik yang dapat menyarankan
terapis yang dapat membantu Anda lebih menavigasi daerah-daerah yang sulit
dalam kehidupan Anda. Seringkali psikoterapi akan membantu mengajar orang
tentang gangguan mereka juga, dan menyarankan mekanisme bertahan tambahan bahwa
orang tersebut dapat menemukan lebih efektif.
Kebanyakan psikoterapi hari ini adalah jangka pendek dan berlangsung
kurang dari setahun. Kebanyakan gangguan mental yang umum sering dapat diatasi
dalam waktu tersebut, sering dengan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan .
Psikoterapi yang paling berhasil ketika individu memasuki terapi sendiri
dan memiliki keinginan kuat untuk berubah. Jika Anda tidak ingin mengubah,
perubahan akan lambat datang. Ubah berarti mengubah aspek-aspek kehidupan Anda
yang tidak bekerja untuk Anda lagi, atau berkontribusi masalah atau isu yang
sedang berlangsung. Hal ini juga yang terbaik untuk menjaga pikiran yang
terbuka sedangkan di psikoterapi, dan bersedia untuk mencoba hal baru yang
biasanya Anda tidak dapat melakukannya. Psikoterapi sering sekitar menantang
seseorang ada serangkaian keyakinan dan sering, seseorang sangat diri. Hal ini
paling berhasil apabila seseorang mampu dan mau untuk mencoba melakukan hal ini
dalam lingkungan yang aman dan mendukung.








3 comments:
kita juga punya nih artikel mengenai 'Ilusi', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/799/1/ZComputerSociety_Hendro_Prabowo%287%29375_381.pdf
trimakasih
semoga bermanfaat
mba,kira2 punya referensi tentang sikap fantij gk?referensi dr tokoh psikologi tentang sikap fanatik?
mba, referensinya dong tentang sikap fanatisme?
Posting Komentar