BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
kebudayaan
adalah sesuatu yang memengaruhi tingkat
pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran
manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Setiap masyarakat memilki
kebudayaan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dan cara bersosialisasi
yang berbeda-beda pula. Yang membedakannya hanya bagaimana melakukan integrasi
atau proses penyesuaian terhadap setiap perbedaan yang ada. Banyaknya
pengertian tentang budaya, jenis dan tujuan budaya serta integrasi masih belum
dipahami secara menyeluruh oleh banyak masyarakat, hal ini menjadi kajian yang
menarik dan penting untuk ditelaah.oleh dasar itulah saya mengambil tema “
Budaya dan Integrasi Sosial” sebagai bahasan dalam makalah ini .
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang di maksud dengan budaya dan integrasi sosial?
2. Hal-hal
apa saja yang menjadi bagian dari budaya dan integrasi sosial?
3. Faktor-fakor
apa saja yang mempengaruhi?
C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk
menambah wawasan tentang budaya dan integrasi sosial .di harapkan pembaca akan
lebih memahami arti penting budaya dan integrasi sosial.
II
PEMBAHASAN
1. Budaya
1.1.
Definisi budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris,
kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere,
yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah
atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang
dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi.[1]
Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[2]
Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri
manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu dipelajari.[3]
Budaya adalah suatu
pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak
aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya
ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[4]
Dengan demikian, budayalah yang
menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas
seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
1.2. Pengertian
Kebudayaan
kebudayaan adalah sesuatu yang
akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak.Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah
benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa
perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku,
bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.[5]
1.3. Unsur-unsur
Kebudayaan
Ketika kita melakukan
kunjungan ke luar daerah, ke luar kota, bahkan sampai ke luar negeri, kita akan
selalu menemukan tujuh aspek budaya dalam masyarakat yang kita kunjungi
tersebut, yaitu :
1)
Sistem bahasa
2)
Sistem peralatan hidup dan
teknologi
3)
Sistem ekonomi dan pencaharian
hidup
4)
Sistem kemasyarakatan dan
organisasi sosial
5)
Ilmu pengetahuan
6)
Kesenian
7)
Dan sistem kepercayaan atau agama
Ketujuh unsur tersebut merupakan tujuh unsur kebudayaan
yang bersifat universal (cultural
universals).[6] Artinya, ketujuh
unsur ini akan selalu ditemukan dalam setiap kebudayaan atau masyarakat di
dunia. Unsur-unsur ini merupakan perwujudan usaha manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidup dan memelihara eksistensi diri dan kelompoknya.
1.4.Wujud dan Komponen budaya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan
dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
- Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan
adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat
diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di
alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan
mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada
dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat
tersebut.
- Aktivitas(tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
- Artefak(karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Berdasarkan wujudnya tersebut,
Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi
Cateora, yaitu :
·
Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu
pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan
material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian
arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material
juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion
olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
·
Kebudayaan
nonmaterial
Kebudayaan
nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi,
misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
·
Lembaga social
Lembaga
social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan
berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu
Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social
masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita
tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau
perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang
wanita memilik karier.
·
Sistem kepercayaan
Bagaimana
masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan
terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam
masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana
memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana
berkomunikasi.
·
Estetika
Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
·
Bahasa
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.
1.5. Perubahan
Sosial Budaya
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya
struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya
merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat.
Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu
ingin mengadakan perubahan. Hirschman
mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari
perubahan.
Ada tiga faktor yang dapat
memengaruhi perubahan sosial:
1. tekanan
kerja dalam masyarakat
2. keefektifan
komunikasi
3. perubahan
lingkungan alam.[7]
Perubahan budaya juga dapat timbul akibat
timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan
kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya zaman es berujung pada
ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru
lainnya dalam kebudayaan.
1.6. Penetresi
Kebudayaan
Yang dimaksud dengan penetrasi
kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi
kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
·
Penetrasi damai (penetration pasifique)
tersebut tidak mengakibatkan konflik,
tetapi memperkaya khasanah budaya Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan
damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia.
Penerimaan kedua macam kebudayaan masyarakat
setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya
unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan
secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis.
Ø Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru
tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi
Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan
kebudayaan India.
Ø Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru.
Sedangkan
Ø Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya
sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
·
Penetrasi kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah
kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan
Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga
menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.
Wujud budaya dunia barat
antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya.
Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem
pemerintahan Indonesia.
2.
Integrasi Sosial
2.1. Definisi
integrasi sosial
Integrasi berasal dari bahasa
inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau
keseluruhan. Integrasi yang dimaksud disini merujuk pada upaya penyatuan
berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda secara sosial, budaya maupun
politik suatu bangsa, yang membangun kesetiaan lebih besar yang bersifat
nasional.[8]
Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang
saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan
masyarakat yang memilki keserasian fungsi. Unsur-unsur sosial yang saling
berbeda dalam masyarakat itu dapat berupa individu,
keluarga,kekerabatan,kelompok sosial,lembaga sosial, status sosial, sistem nilai
dan norma sosial. Proses penyesuaian yang dimaksud adalah apabila masing-masing
unsur yang berbeda tersebut mau mentaati aturan-aturan yang ada dan telah
disepakati bersama dan mau mefungsikan dirinya sesuai dengan status dan
peranannya dalam masyarakat.Sedangkan Integrasi sosial ditandai dengan adanya
suatu keadaan yang menggambarkan suatu keserasian hubungan dan fungsi diantara
komponen masyarakat. Keserasian fungsi ini meliputi sebagian atau keseluruhan
segi kehidupan, dimana masing-masing pihak memberikan keuntungan kepada pihak
lain. Hal ini pada akhirnya saling menguntungkan semua komponen dalam
masyarakat.
Definisi lain mengenai
integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan
bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih
tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
- Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
- Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu
Sedangkan yang disebut
integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama
lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi sosial di
perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan,
baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.
Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem sosial
senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut :
- Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar).
- Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.
Penganut konflik berpendapat
bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling
ketergantungan di antara berbagai kelompok.Integrasi sosial akan terbentuk
apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas
teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial.
2.2.
Bentuk-bentuk Integrasi
·
Asimilasi, yaitu
pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli.
·
Akulturasi, yaitu
penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli.
2.3.
Faktor Pendorong
Terbentuknya integrasi
sosial dalam masyarakat didorong oleh beberapa faktor, antara lain:
1) Sentimen Ideologis
Yaitu suatu perasaan
dan kesadaran sejumlah orang dengan ideologi yang sama. Kelompok ini memiliki
kesadaran tinggi untuk menyatukan diri dalam gerak dan langkah serta tujuan
karena didorong oleh sentimen ideologis yang sama. Mereka merasa senasib dan
seperjuangan dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan ideologi yang
diyakininya.
2) Sentimen Geneologis
Di samping sentimen
ideologis, sentimen geneologis juga merupakan sarana yang mendorong orang-orang
untuk menyatukan diri dalam satu ikatan sosial yang didasarkan persamaan darah
dan keturunan. Dalam dalam kesatuan geneologis, orang menyadari bahwa mereka
berasal dari satu darah keturuna walaupun telah mengalami proses evolusi yang
relatif panjang. Sentimen ini dapat mendorong orang-orang yang merasa memiliki
persamaan keturunan untuk terikat dalam suatu wadah kekerabatan, marga, ataupun
trah. Contoh, muncuknya Marga Simanungkalit, Simanjuntak, Trah Mangkunegaran,
Trah Kasunan Demak, dan Trah Kraton Yogyakarta .
3) Sentimen Teretorial
Yaitu suatu perasaan
yang muncul secara spontanitas sebagai akibat adanya kesamaan daerah asal atau
daerah kelahiran. Mereka menyadari berasal dari satu daerah yang sama. Hal ini,
dapat memunculkan kesadaran untuk bersau dan membentuk suatu ikatan kerja sama
yang lebih intim dengan didorong oleh sentimen asal daerah yang sama. Contoh,
penonton sepak bola antar negara, yang memunculkan kesetiaan untuk mendukung
negaranya.
4) Sentimen Kepentingan
Dalam suatu asosiasi,
individu terikat menjadi satu kesatuan karena memiliki orientasi dan
kepentingan yang sama. Misalnya, Ikatan Pengusaha Batik Pekalongan, Ikatan
Pengusaha Batik Solo, Ikatan Pengusaha Anggrek Jawa Barat. Melalui
ikatan-ikatan ini, mreka menyadari bahwa antara individu yang satu dengan
individu yang lain merupakan himpunan orang yang mempunyai kepentingan sama.
Hal ini, mendorong orang untuk mau melaksanakan
kerja sama secara lebih intim.
5) Sentimen Historis
Adalah suatu perasaan
yang menyadari bahwa mereka memiliki sejarah perjuangan yang sama. Misalnya,
pada saat Indonesia ingin mengusir para penjajah, masyarakat Sumatra,
Kalimantan, Jawa, Bali, dan pulau-pulau yang lain memiliki sentimen histori
yang sama sebagai masyarakat terjajah. Atas dasar persamaan, nasib mereka
terdorong untuk bersatu dan membentuk suatu ikatan dengan solidaritas yang
tinggi melawan para penjajah.
2.4.Syarat
Integrasi
Menurut W F Ogburn dan M Nimkoff syarat
terjadinya suatu integrasi sosial adalah sebagai berikut:
1) Anggota masyaraklat
merasa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan mereka.Terpenuhinya
kebutuhan itu menyebabkan setiap anggota masyarakat saling menjaga keterkaitan
antara satu dengan yang lainnya.
2) Masyarakat berhasil
menciptakan kesepakatan atau konsensus bersama mengenai norma dan nilai sosial
yang dilestarikan dan dijadikan pedoman dalam berinteraksi antara satu dengan
yang lainnya.
3) Norma dan nilai yang
berlaku sukup lama,tidak mudah berubah-ubah,dan dijalankan secara konsisten
oleh seluruh anggota masyarakat.
2.5. Proses Integrasi Sosial
Dalam setiap
masyarakat, terdapat komponen-komponen yang saling bersaing sampai terbentuk
suatu konflik. Di sisi lain, juga terdapat komponen masyarakat dalam skala
kecil maupun besar membangun suatu kerja sama yang saling mendukung dan
menguntungkan. Ini merupakan proses awal dari terjadinya integrasi sosial dalam
masyarakat.
Dalam suatu proses
integrasi sosial berlangsung tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Proses Interaksi
Proses interaksi
merupakan proses paling awal untuk membangun suatu kerja sama dengan ditandai
adanya kecenderungan-kecenderungan positif yang dapat melahirkan aktivitas
bersama. Proses interaksi dilandasi adanya saling pengertian dengan saling
menjaga hak dan kewajiban antar pihak.
b. Proses Identifikasi
Proses interaksi dapat
berlanjut menjadi proses identifikasi manakala masing-masing pihak dapat
menerima dan memahami keberadaan pihak lain seutuhnya. Pada dasarnya, proses
identifikasi adalah proses untuk memahami sifat dan keberadaan orang lain. Jika
proses ini dapat berlangsung dengan lancar maka akan menghasilkan hubungan
kerja berlangsung dengan lancar maka akan menghasilkan hubungan kerja sama yang
lebih erat. Sebab, masing-masing pihak mengetahui karakternya dan saling menjaga
keutuhan hubungan tersebut.
c. Kerjasama (Kooperation)
Menurut Charles H
Cooley mengatakan bahwa kerja sama timbul apa bila orang menyadari bahwa mereka
mepunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan
mempunyai cukup pengerahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk
memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut melalui kerja sama,kesadaran akan
adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta
yang penting dalam kerja sama yang berguna.
d. Proses Akomodasi
Akomodasi sebenarnya
merupakan suatu cara untuk menyelesakan pertentangan tanpa menghancurkan pihak
lawan,sehingga lawan tersebut kehilangan kepribadiannya.Tujuan dari akomodasi
dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya,yaitu:
1) Untuk mengurangi
pertentangan antara orang –perorangan atrau kelompok-kelompok manusia sebagai
akibat perbedaan faham.Akomodasi disini bertujuan untuk menghasilkan suatu
sintesa antara kedua pendapat tersebut,agar menghasilkan suatu pola yang baru.
2) Untuk mencegah
meledaknya suatu pertentangan,untuk sementara waktu atau secara temporer.
3) Akomodasi
kadang-kadang diusahakan untuk memungkinkan terjadinya kerja sama antara
kelompok-kelompok sosial yang sebegai akibat faktor-faktor sosial,psikologis
dan kebudayaan,hidup terpisah seperti,misalnya yang dijumpai pada
masyarakat-masyarakat yang mengenal sistem berkasta.
4) Mengusahakan
pelebutan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah,misalnya perkawinan
campuran atau asimilasi dalam arti yang luas.
e. Proses Asmilasi
Asimilasi merupakan
suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya
usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara
orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha
untuk mempertinggi kesatuan tindak,sikap dan proses-proses mental dengan
memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.Secara
singkat,maka proses asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang
sama.
f. Proses Integrasi
Proses integrasi
merupakan proses penyesuaian antar unsur masyarakat yang berbeda hingga
membentuk suatu keserasian fungsi dalam kehidupan. Apabila dua pihak atau lebih
yang terintegrasi telah mampu menjalankan peranannya masing-masing maka akan
dapat membentuk hubungan dalam masyarakat dan dinamakan integrasi sosial.
Dalam integrasi sosial,
terdapat kesamaan pola pikir, gerak langkah, tujuan dan orientasi serta
keserasian fungsi dalam kehidupan. Adanya hal ini dapat mewujudkan keteraturan
sosial dalam masyarakat.
BAB III
KESIMPULAN
·
kebudayaan yaitu sistem
pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran
manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat
nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social,
religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
·
Integrasi sosial dimaknai sebagai
proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan
masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki
keserasian fungsi. Unsur-unsur sosial yang saling berbeda dalam masyarakat itu
dapat berupa individu, keluarga,kekerabatan,kelompok sosial,lembaga sosial,
status sosial, sistem nilai dan norma sosial. Proses penyesuaian yang dimaksud
adalah apabila masing-masing unsur yang berbeda tersebut mau mentaati
aturan-aturan yang ada dan telah disepakati bersama dan mau mefungsikan dirinya
sesuai dengan status dan peranannya dalam masyarakat.Sedangkan Integrasi sosial
ditandai dengan adanya suatu keadaan yang menggambarkan suatu keserasian
hubungan dan fungsi diantara komponen masyarakat. Keserasian fungsi ini
meliputi sebagian atau keseluruhan segi kehidupan, dimana masing-masing pihak
memberikan keuntungan kepada pihak lain. Hal ini pada akhirnya saling
menguntungkan semua komponen dalam masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.anneahira.com/7-unsur-kebudayaan.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Integrasi_sosial
http://niienhinu.student.umm.ac.id/
http://brewock-brewock.blogspot.com/2011/05/konflik-sosial-dan-integrasi.html
http://www.scribd.com/doc/9227624/Perkembangan-Sosial-Dan-Kebudayaan-Indonesia
http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli
Mulyana,deddy. Jalaluddin
Rakhmat.2006.Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya.
Bandung:Remaja Rosdakarya
Sjamsuddin, nazaruddin.1989. Integrasi Politik di Indonesia.
Jakarta: Gramedia
[1] Human communication: konteks-konteks
komunikasi
[2] ibid
[3] ibid
[4] Deddy Mulyana dan
Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi antar
budaya:Panduan Berkomunikasi dengan
orang-orang berbeda budaya.2006. Bandung: Remaja Rosdakarya.hal.25
[5] Masyhuri
Arifin, “Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli”, Exalute, di akses di
http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli/,
pada tanggal 06 januari 2012.







3 comments:
kunjungan balik, salam kenal.
hhehehe mkasihh :)
Bagus sekali
Posting Komentar