PENGERTIAN
MANUSIA DAN HAKIKATNYA
1.
PENGERTIAN
MANUSIA
Pengertian Manusia Menurut
Pandangan Agama
Manusia adalah makhluk monodualis ciptaan Tuhan yang
dikaruniai status sebagai Khalifah Allah di atas bumi. Manusia adalah makhluk religius yang dianugerahi
ajaran-ajaran yang dipercayai yang didapatkan melalui bimbingan nabi demi
kemaslahatan dan keselamatannya. Manusia sebagai makhluk beragama mempunyai kemampuan
menghayati pengalaman diri dan dunianya menurut agama masing-masing. Pemahaman
agama diperoleh melalui pelajaran agama, sembahyang, doa-doa maupun meditasi,
komitmen aktif dan praktek ritual. Manusia utuh hubungannya dengan Tuhan. Jauh
dekatnya hubungan ditandai dengan tinggi rendahnya keimanan dan ketaqwaan manusia
yang bersangkutan. Didalam Pancasila, meskipun agama dan kepercayaan yang
dianut masyarakat berbeda-beda, harus diupayakan terciptanya kehidupan beragama
yang mencerminkan adanya saling pengertian, menghargai, kedamaian, ketentraman,
dan persahabatan. Sementara suatu pihak ada yang lebih mengutamakan terciptanya
suasana penghayatan keagamaan lebih dari pengajaran keagamaan.
Beberapa
deskripsi manusia menurut pandangan agama islam :
a. manusia
berasal dari segumpal darah
b. manusia
sebagai khalifah
c. manusia
merupakan makhluk individu dan social
d. manusia
memiliki motivasi, kebutuhan dan nafsu
e. manusia
memiliki ruh,bathin dan ragawi
f. watak
manusia itu luwes dan fleksibel
2.
Pengertian Manusia Secara Etimoligi
ü Manusia
berarti makhluk yang berakal budi dan mampu menguasai makhluk lain.
ü Makhluk
yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.
ü Individu
mengandung
arti seorang, pribadi, organisme yang hidupnya berdiri sendiri. Secara
fisiologis ia bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan organik dengan sesama.
Kata manusia berasal dari kata manu (Sansekerta)
atau mens (Latin) yang berarti berpikir, berakal budi, atau homo (Latin)
yang berarti manusia. Istilah individu berasal dari bahasa Latin, yaitu individum,
yang artinya sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau suatu kesatuan yang
terkecil dan terbatas.
Secara kodrati, manusia merupakan makhluk monodualis.
Artinya selain sebagai makhluk individu, manusia berperan juga sebagai makhluk
sosial. Sebagai makhluk individu, manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang
terdiri atas unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang tidak dapat
dipisah-pisahkan.Jiwa dan raga inilah yang membentuk individu.
Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan
perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya.
Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan
kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi
berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan
mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan
dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan
Tuhan dengan derajat paling tinggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain.
A. PENGERTIAN HAKIKAT MANUSIA
Pengertian hakikat manusia dari berbagai sumber
aliran agama :
Pandangan dari segi agama, Islam,
Kristen, dan Katolik menolak pandangan hakekat manusia adalah jasmani dengan
teori evolusi. Tetapi, hakekat manusia adalah paduan menyeluruh antara akal,
emosi dan perbuatan. Dengan hati dan akalnya manusia terus menerus mencari
kebenaran dan dianugerahi status sebagai khalifah Allah.
Ciri-ciri
hakekat manusia adalah sebagai berikut :
a. Makhluk
yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu
yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku
intelektual dan social yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif
sehingga mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
c. Makhluk
yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai
selama hidupnya.
d. Individu
yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan
dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk
ditempati
e. Suatu
keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan
potensi yang tak terbatas
f. Makhluk
Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan
jahat.
g. Individu
yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia
tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam
lingkungan sosial.
C
. ASPEK-ASPEK HAKIKAT MANUSIA
1.
Manusia sebagai Makhluk Tuhan
Manusia adalah subjek yang memiliki kesadaran
(consciousness) dan penyadaran diri (self-awarness). Karena itu, manusia adalah
subjek yang menyadari keberadaannya, ia mampu membedakan dirinya dengan segala
sesuatu yang ada di luar dirinya (objek), selain itu manusia bukan saja mampu berpikir tentang diri
dan alam sekitarnya, tetapi sekaligus sadar tentang pemikirannya. Namun,
sekalipun manusia menyadari perbedaan dengan alam bahwa konteks keseluruhan
alam semesta manusia merupakan bagian daripadanya.
Terdapat dua pandangan filsafat yang berbeda tentang
asal-usul alam semesta, yaitu Evolusionisme
dan Kreasionisme. Menurut Evolusionisme, alam semesta menjadi ada
bukan karena diciptakan oleh Sang Pencipta atau Prima Causa, melainkan ada
dengan sendirinya, alam semesta berkembang dari alam itu sendiri sebagai hasil
evolusi. Sebaliknya, Kreasionisme menyatakan bahwa adanya alam semesta adalah
sebagai hasil ciptaan suatu Crative Cause
atau Personality, yang kita sebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Bertolak dari pandangan tersebut, secara umum ada dua
pandangan yang berbeda pula tentang asal-usul manusia. Menurut Evolusionisme
beradanya manusia di alam semesta adalah sebagai hasil evolusi. Sebaliknya
Kreasionisme menyatakan bahwa beradanya manusia di alam semesta sebagai makluk
(ciptaan) Tuhan.
Oleh karena itu manusia berkedudukan sebagai makluk Tuhan
Yang Maha Esa maka dalam pengalaman hidupnya terlihat bahkan dapat kita alami
sendiri adanya Fenomena Kemaklukan.
Fenomena kemakhlukan ini, antara lain berupa pengakuan atas kenyataan adanya
perbedaan kodrat dan martabat manusia daripada Tuhannya. Manusia merasakan
dirinya begitu kecil dan rendah di hadapan Tuhan Yang Maha Besar dan Maha
Tinggi. Manusia mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaannya dibanding Tuhannya
yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Manusia serba tidak tahu, sedangkan Tuhan
serba Maha Tahu. Manusia bersifat fana, sedangkan Tuhan bersifat abadi, manusia
merasakan kasih sayang TuhanNya, namun ia pun tahu begitu pedih siksaNya.
Dengan demikian, di balik adanya rasa cemas dan takut itu
muncul pula adanya harapan yang
mengimplikasikan kesiapan untuk mengambil tindakan dalam hidupnya. Adapun hal
tersebut dapat menimbulkan kejelasan akan tujuaqn hidupnya, menimbulkan sikap
positif dan familiaritas akan masa depannya, menimbulkan rasa dekat dengan
PenciptaNya.
2.
Manusia sebagai Kesatuan Badan-Roh
Terdapat empat paham mengenai struktur metafisik manusia,
yaitu Materialisme, Idealisme, Dualisme, dan paham yang menyatakan bahwa
manusia adalah kesatuan badan-roh.
Ø
Materialisme : alam semesta atau realitas ini tiada lain adalah serba materi, zat, atau
benda. Manusia merupakan bagian dari alam semesta sehingga manusia tidak
berbeda dari alam itu sendiri. Yang esensial dari manusia adalah badanya, bukan jiwa atau rohnya. Manusia
adalah paa yang nampak dalam wujudnya, terdiri atas zat (daging, tulang, urat
syaraf). Segala hal yang bersifat kejiwaan, spiritual atau rohaniah pada
manusia dipandang hanya sebagai resonansi saja dari fungsinya badan atau organ
tubuh.
Ø
Idealisme : bertolak belakang dengan pandangan di atas, menurut penganut Idealisme
bahwa esensi diri manusia adalah jiwanya atau spiritnya atau rohaninya. Dalam
hubungannya dengan badan, jiwa berperan sebagai pemimpin badan, jiwalah yang
mempengaruhi badan karena itu badan mempunyai ketergantungan kepada jiwa. Jiwa
adalah asas primer yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan tanpa jiwa
tiada memiliki daya.
Ø
Dualisme : dari dua pandangan diatas tampak bertolak belakang. Pandangan pertama
bersifat monis-materialis, sedangkan
kedua bersifat monis-spiritualis.
Menurut Descartes esensi diri manusia terdiri atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa. Oleh karena manusia
terdiri atas dua substansi yang berbeda (badan dan jiwa) maka antara keduanya
tidak terdaoat hubungan salaing mempengaruhi, namun demikian setiap peristiwa
kejiwaan selalu pararel dengan peristiwa badaniah atau sebaliknya.
Sebagai kesatuan badan-rohani, manusia hidup dalam ruang
dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai berbagai kebutuhan,
insting, nafsu, serta mempunyai tujuan. Selain itu, manusia potensi untuk
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan potensi berperasaan (rasa),
potensi berkehendak (karsa), dan memiliki potensi untuk berkarya. Adapaun dalam
eksitensinya manusia memiliki aspek individualitas, sosialitas, moralitas,
keberbudayaan dan keberagamaan. Implikasinya maka manusia itu berinteraksi atau
berkomunikasi, memiliki historisitas dan dinamika.
3.
Manusia sebagai Makhluk Individu
Sebagai individu manusia adalah kesatuan yang tak dapat
dibagi antara aspek badani dan rohaninya. Manusia bukan hanya badan, sebaliknya
bukan hanya roh. Sebagai individu, setiap manusia mempunyai perbedaan sehingga
bersifat unik. Setiap manusia mempunyai dunianya sendiri, tujuan hidupnya
sendiri. Masing-masing secara sadar berupaya menunjukkan eksistensinya, ingin
menjadi dirinya sendiri atau bebas bercita-cita untuk menjado seseorang
tertentu, dan masing-masing mampu menyatakan “inilah aku” di
tengah-tengah segala yang ada. Karena itu, manusia adalah subjek dan tidak
boleh dipandang sebagai objek.
4.
Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia adalah makhluk individual, namun demikian ia
tidak hidup sendirian, tak mungkin hidup sendirian, dan tidak pula hidup hanya
untuk dirinya sendiri. Manusia hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. Di
samping itu, setiap individu mempunyai dunia dantujuan hidupnya masing-masing,
mereka juga mempunyai dunia bersama
dan tujuan hidup bersama dengan
sesamanya. Sehubungan ini Aristoteles menyebut manusia sebagasi makhluk sosial atau makhluk
bermasyarakat.
Ernst Cassirer menyatakan : manusia takkan menemukan
diri, manusia taqkkan menyadari individualitasnya, kecuali melalui perantaraan
pergaulan sosial. Masyarakat terbentuk dari individu-individu, maju mundurnya
suatu masyarakat akan ditentukan oleh individu-individu yang membangunnya.s
Oleh karena setiap manusia adalah pribadi (individu) dan
adanya hubungan pengaruh timbal balik antara individu dengan sesamanya maka
idealnya situasi hubungan antara individu dengan sesmanya itu tidak merupakan
hubungan antara subjek dengan objek, melainkan subjek dengan subjek.
Berdasarkan hal itu dan karena terdapat hubungan timbal balik antara individu
dengan sesamanya delam rangka mengukuhkan eksisitensinya masing-masing maka
hendaknya terdapat keseimbangan antara individualitas dan sosialitas pada
setiap manusia.
5.
Manusia sebagai
Makhluk Berbudaya
Manusia pada dasarnya adalah makhluk budaya yang
harus membudayakan dirinya. Manusia
sebagai makhluk budaya mampu melepaskan diri dari ikatan dorongan nalurinya
serta mampu menguasai alam sekitarnysa
dengan alat pengetahuan yang dimilikinya. Hal
ini berbeda dengan binatang sebagai makhluk hidup yang sama-sama makhluk
alamiah dengan manusia dia tidak dapat melepaskan dari ikatan dorongan
nalurinya dan terikat erat oleh alam sekitarnya.
Istilah kebudayaan berasal dari kata budh berasal
dari bahasa Sansekerta. Dari kata budh ini kemudian dibentuk kata budhayah
yang artinya bangun atau sadar. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah culture.
Driyarkara S.Y. (pengasuh Majalah Basisi, 1980,p-83-84)
menjelaskan bahwa kebudayaan dalam arti yang luas mempunyai empat segi atau
empat aspek. Empat aspek itu adalah :
1.
Aspek ekonomi, dalam aspek ini manusia
dengan tangannya mengubah barang-barang tertentu menjadi suatu barang yang
berguna bagi manusia.
2.
Aspek teknik, dalam aspek ini manusia
dengan menggunakan tangan-tangan dan kemungkinan-kemungkinan serta sifat-sifat
yang ada pada barang tertentu, hukum-hukum yang ada dalam barang-barang
tertentu dari benda-benda alam disusun menjadi sesuatu hal yang baru dan
bernilai tambah.
3.
Kebudayaan dalam arti khas dan sempit,
juga dalam mengubah barang-barang itu manusia mengekspresikan dirinya, sebagai
contoh: mengubah atau mengolah tanah liat menjadi patung yang menimbulkan rasa
baru dan menggetarkan jiwa manusia atau mengekspresikan diri dan budinya pada
patung tersebut.
4.
Aspek penghalusan atau sivillasi, aspek
ini merupakan lanjutan dari aspek ketiga diatas. Dalam aspek ini manusia dengan
mengekspresikan dirinya, manusia berusaha untuk mencari hal-hal yang lebih
halus, enak, lincah dan licin sehingga hidupnya dapat meluncur mudah.
Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan
kebudaayaan, hidup berbudaya, dan membudaya. Kebudayaan bukan sesuatu yang ada
di luar manusia, bahkan hakikatnya meliputi perbuatan manusia itu sendiri.
Sejalan dengan ini Ernst Cassirer menegaskan bahwa “ manusia tidak menjadi manusia karena sebuah faktor di dalam dirinya, seperti misalnya
naluri atau akal budi, melainkan fungsi kehidupannya, yaitu pekerjaannya dan
kebudayaannnya”.
Kebudayaan memiliki fungsi bagi kemungkinan eksistensinya
manusia, namun demikian apabila manusia kurang bijaksana dalam
mengembangkannya, kebudayaan pun dapat menimbulkan kekuataqn-kekuatan yang
mengancam eksistensi manusia. Kodrat dinamika hidup manusia mengimplikasikan
adanya pperubahan dan pembaharuan eksistensinya. Selain itu, mengingat adanya
dampak kebudayaan terhada[p manusia, masyarakat kadang-kadang terombang-ambing
di antara dua ralasi kecenderungan. Di satu pihak ada yang mau melestarikan
bentuk-bentiuk lama (tradisi), sedang yang lain terdorong untuk menciptakan
hal-hal baru (inovasi). Ada pergolakan yang tak kunjung reda antara tradisi dan
inovasi.
6.
Manusia sebagai Makhluk Susila
Manusia sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai
potensi dan kemampuan untuk berfikir, berkehendak bebas, bertanggung jawab,
serta punya potensi untuk berbuat baik.
Karena itulah, eksistensi manusia memiliki aspek kesusilaan. Menurut Immanuel
Kant, manusia memiliki aspek kesusilaan karena pada manusia terdapat rasio praktis yang memberikan perintah
mutlak (categorical imperative). Sebgai makhluk otonom atau memiliki kebebasan,
manusia selalu dihadapkan pada satu alternatif tindakan yang harus dipilihnya.
Adapun kebebasan berbuat ini juga selalu berhubungan
dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus
dipilihnya. Karena manusia mempunyai kebebasan memilih dan menentukan
perbuatannya secara otonom maka selalu ada penilaian moral atau tuntutan
pertanggung jawaban atas perbuatannya.
7.
Manusia sebagai Makhluk Beragama
Aspek Keberagamaan merupakan
salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam
bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yg diwujudkan dalam
sikap dan perilaku. Keberagamaan menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan
yang sungguh atas suatu agama, adapun yang dimaksud dengan agam ialah : “satu
sistem credo (tata keimanan atau keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di
luar manusia, satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang
dianggapnya mutlak itu, dan satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur
hubungan manuisa dengan manusia dan alam lainnya yang sesuai dan sejalan dengan
tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas.
Manusia memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, Tuhan pun telah menurunkan wahyu
melalui utusan-utusanNya, dan telah menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk
dipikirkan oleh manusia agar (sehingga) manusia beriman dan bertakwa kepadaNya.
Manusia hidup beragama kerana agama menyangkut masalah-masalah yang bersifat
mutlak maka pelaksanaan keberagamaan akan tampak dalam kehidupan sesuai agama
yang dianut masing-maswing individu. Dalam keberagamaan ini manusia akan
merasakan hidupnya menjadi bermakna. Ia memperoleh kejelasan tentang dasar
hidupnya, tata cara hidup dalam berbagai aspek kehidupannya, dan menjadi jelas
pula apa yang menjadi tujuan hidupnya.
8.
Manusia sebagai Makhluk Berpendidikan
Pendidikan adalah humanisasi, yaitu upaya memanusiakan
manusia atau upaya membantu manusia agar mampu mewujudkan diri sesuai dengan
martabat kemanusiaan. Sebab manusia menjadi manusia yang sebenarnya jika ia
mampu merealisasikan hakikatnya secara total maka pendidikan hendaknya
merupakan upaya yang dilaksanakan secara sadar dengan bertitik tolak pada
asumsi tentang hakikat manusia.
Hidup bagi manusia bukan sekedar hidup sebagaimana
hidupnya tumbuhan atau hewan, melainkan hidup sebagai manusia. Hak hidup bagi
manusia mengimplikasikan hak untuk mendapatkan pendidikan. Sebab hak asasi
manusia diinjak-injak oleh penguasa pemerintahan monarki dan absolutisme.
Melalui pendidikan hak asasi diupayakan agar diperoleh setiap individu.
KESIMPULAN
Manusia adalah makhluk
monodualis ciptaan Tuhan yang dikaruniai status sebagai Khalifah Allah di atas
bumi. Manusia adalah makhluk religius yang dianugerahi ajaran-ajaran yang
dipercayai yang didapatkan melalui bimbingan nabi demi kemaslahatan dan keselamatannya.
Manusia sebagai makhluk beragama mempunyai kemampuan menghayati pengalaman diri
dan dunianya menurut agama masing-masing. Pemahaman agama diperoleh melalui
pelajaran agama, sembahyang, doa-doa maupun meditasi, komitmen aktif dan
praktek ritual. Manusia utuh hubungannya dengan Tuhan. Jauh dekatnya hubungan
ditandai dengan tinggi rendahnya keimanan dan ketaqwaan manusia yang
bersangkutan. Didalam Pancasila, meskipun agama dan kepercayaan yang dianut
masyarakat berbeda-beda, harus diupayakan terciptanya kehidupan beragama yang
mencerminkan adanya saling pengertian, menghargai, kedamaian, ketentraman, dan
persahabatan. Sementara suatu pihak ada yang lebih mengutamakan terciptanya
suasana penghayatan keagamaan lebih dari pengajaran keagamaan.
Manusia juga diberi
kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan
bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa
akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat
individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting
yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi
dengan akal pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas
hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan derajat paling tinggi di antara
ciptaan-ciptaan yang lain.
Dengan hati dan akalnya
manusia terus menerus mencari kebenaran dan dianugerahi status sebagai khalifah
Allah. Dalam hidupnya manusia memiliki beberapa aspek dari hakikat manusia, di
antaranya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia kesatuan badan dan
roh, manusia sebagai makhluk individu, manusia sebagai makhluk pendidikan,
manusia sebagai makhluk sosial, manusia sebagai berbudaya, manusia sebagai
makhluk beragama, dan manusia sebagai makhluk susila.
Daftar
Pustaka
www.bloger.ayumeliana.hakikat manusia.30 Okteber 2010
www.bloger.hilaliyah.pengertian hakikat
manusia.pukul 9:55 am
Modul 1 Hakikat Manusia dan Pindidikan.
Drs. Wahyudin, Dinn,M.A







0 comments:
Posting Komentar